logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 PANTURA
Line

Pesisiran

Limbah Batik dan Esensi Puasa

Oleh: ES Prasojo

WARGA Pekalongan ini masih bisa tidur nyenyak. Apakah selanjutnya juga begitu? Ketika semua memahami betapa berbahayanya limbah batik yang mengalir dan meresap di seputar tanah halaman rumah kita kemudian masuk ke sumur. Sedangkan airnya kita konsumsi untuk kebutuhan sehari-hari.

Limbah beracun tak bisa dipisahkan dari kehidupan warga Pekalongan yang hidup mengandalkan produksi batik. Di mana semua air sungai Pekalongan tak ada yang bebas dari limbah beracun berasal dari kegiatan penduduk setempat. Padahal semua bisa diatasi dengan membuat IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah), namun rupanya kesadaran untuk berbuat agar lingkungan sehat sangat jauh.

Sebagian besar para pengusaha batik beranggapan bahwa dulu nenek moyangnya tidak membuat IPAL. Dan, usaha mereka tidak bermasalah. Namun, mengapa sekarang di permasalahakan? Tentu bila anggapan seperti itu berkembang sangat membahayakan eksistensi Pekalongan, khususnya air sungai keadaannya semakin parah dan kemudian ekosistimnya pun akan terganggu. Bila itu terjadi bukan tidak mungkin, kelak anak cucu yang mempunyai kecerdasan akan menyalahkan leluhurnya karena perbuatan/ tindakannya tidak mencerminkan nilai-nilai ajaran agama mana pun.

Kebersihan sebagian dari iman tentunya harus menjadi pegangan para pengusaha batik, tidak malah sebaliknya mengesampingkan yang seharusnya dijaga. Pada bulan puasa tentu kita harus mengutamakan iman daripada pencemaran. Sehingga akan selalu mendapatkan berkah selama hidup di dunia. Apa artinya harta benda jika menyesatkan kemudian mendorong setan menguasai hati dan pikiran jiwa pun menjadi tak sehat. Lalu apa gunanya kita menunaikan ibadah puasa? Bukankan tujuan kita berpuasa untuk menjalankan salah satu perintahNya?

Mencemari sungai di bulan puasa sungguh sangat tidak berbudaya dan lagi tidak sesuai denga salah satu tujuan kita berpuasa yaitu menjaga tindak-tanduk bukan malah mengotori sungai / selokan dianggap hal biasa. Terutama di Kelurahan Pabean, Kota Pekalongan, selokan malah menjadi tempat membuang sampah. Sehingga akhirnya tempat penyaluran limbah batik ke sungai tak berfungsi sama sekali. Sedangkan peran serta Kepala Kelurahan Pabean hanya sebatas menerima gaji setiap bulan. Persoalan membangunkan kesadaran warga menjadi tidak penting. Disebabkan menjadi Lurah bukan karena memahami suatu daerah.

Tapi mungkin karena hubungan kekeluargaan? Bagaimana Pekalongan akan berbicara / mempunyai karakter di masa yang akan datang bila masalah sepele tak bisa ditangani dengan baik. Kita harus mengakui Pekalongan bisa menjadi seperti sekarang karena peran serta industri batik. Tetapi akan menjadi lain bila limbah batik dibuang sembarangan, jelas akan menyebabkan penurunan kecerdasan sebagian penduduk setempat karena minuman dan makanannya telah tercemar. Kalau keadaannya sudah semakin parah, siapa yang mau bertanggung jawab ?

Terutama dari pihak Kelurahan / Pemkot harus selalu memantau, sejauh mana pencemaran telah terjadi. Karena Kelurahan / Lurah setempat adalah orang yang paling tahu berapa jumlah Industri batik yang terlalu mencemari lingkungan. Jangan malah diam, tak memberi informasi tentang pencemaran kepada institusi yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Jika itu terjadi perlu dipertanyakan profesionalismenya? Bapak Wali Kota Pekalongan pun berhak mem-PHK / mempensiunkan lebih awal. Karena untuk apa bekerja jika datang ke kantor hanya untuk absen dan menunggu siang kemudian pulang. Setiap hari begitu bagaimana kita / Indonesia akan maju? Cepat atau lambat Pekalongan akan terpuruk hanya karena rendahnya kesadaran pengusaha batik membuat IPAL.

Memang saat ini belum ada survei yang membuktikan bahwa akibat dari limbah batik warga sekitar mengalami kematian mendadak. Tapi nanti suatu ketika survei akan membuktikan bahwa limbah batik sangat mematikan penduduk setempat. Karena indikasinya sudah jelas, para pengusaha batik bertambah namun kesadaran membuat IPAL tidak dilakukan. Sedangkan air sungai bertambah hari semakin menunjukan gejala tidak sehat. Ikan dan hewan-hewan lain yang hidup di air sungai pun semakin berkurang. Apakah kita melihat pemandangan seperti itu tega ? Lalu langkah selanjutnya para pengusaha batik bisakah mempunyai kesadaran sama ? Menyisakan sebagian keuntugnan untuk menjernihkan sungai Pekalongan.

Pemkot Pekalongan sudah terlalu lama terlena dengan gebyar para pengusaha batik sehingga melupakan bagaimana membentuk komunitas pengusaha batik yang peduli lingkungan. Bila perlu Pemkot membentuk Dewan Penjaga Sungai Pekalongan (DPSP). Orang-orang pun yang duduk di sana harus mempunyai latar belakang jelas, terutama yang mempunyai konsistensi tinggi terhadap nasib / masa depan sungai Pekalongan. Di bulan puasa gunakanlah hati dan pikiran untuk memberanikan melakukan perubahan substansial agar Allah SWT tak murka melihat tingkah laku warga Pekalongan semakin melenceng /menabrak etika alam.

Kebesaran / kesuksesan para pengusaha batik tak ada artinya bila tidak mendengar harapan anak cucu, ketika lahir harus melihat pencemaran sungai menggila. Apakah artinya kita kaya dari usaha batik namun di sisi lain jiwa kita miskin. Tak bisa mamahami persoalan lingkungan lebih jauh. Karena apa ?

Mungkin para pengusaha batik tidak sering / banyak membaca berbagai macam buku / koran. Sehingga pemahamannya hanya sebatas keuntungan menjual batik bukan mendahulukan proses yang tidak mengorbankan lingkungan. Persoalannya akan menjadi lain bila pengusaha batik mau membaca membeli berbagai macam buku atau bila membeli buku terlalu mahal bisakah hanya berlangganan koran / majalah. Dan menggilai untuk selalu membaca sampai tuntas. Karena dari sana jiwa akan peka bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi disebabkan oleh kita sendiri.

Jangan sampai limbah batik mengorbankan esensi kita berpuasa. Harapan terakhir pada para pengusaha batik Pekalongan, banyak-banyaklah membaca untuk mengisi kegersangan jiwa sebelum ajal tiba. (50)

- Penulis adalah aktivis lingkungan hidup tinggal di Pekalongan


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA