| Rabu, 05 Oktober 2005 | PANTURA |
Minta Suasana Kota Terlihat ReligiusPEKALONGAN - Puluhan muslim dari beberapa lembaga Islam kemarin berdemonstrasi ke Balai Kota Pekalongan. Mereka menuntut Wali Kota HM Basyir Ahmad mengubah suasana di wilayahnya pada bulan Ramadan agar terlihat lebih religius. Selain itu, mereka juga meminta Wali Kota untuk melarang perbuatan maksiat. Demo dengan kordinator umum Riska Yulianto itu melibatkan Forum Silaturahmi Umat Islam, Pelajar Islam Indonesia (PII), HMI, dan FPI yang tergabung dalam Forum Aktivis Dakwah Pelajar dan Mahasiswa (FADPM). Aksi itu dilakukan dengan berjalan kaki dari Monumen Juang 45 hingga ke Pemkot. Mereka membawa beberapa poster yang antara lain bertuliskan ''Saatnya stop kemaksiatan'', ''Puasa yes, maksiat no'' dan ''Gembirakan hati sambut tamu nan agung.'' Peserta aksi bukan hanya laki-laki, melainkan juga perempuan. Mereka berorasi di depan kantor Wali Kota secara bergantian. Ada lima tuntutan yang dibacakan koordinator umum. Kelima tuntutan itu pertama, mengajak seluruh umat Islam se-Kota Pekalongan untuk menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan. Kedua, mengimbau seluruh komponen masyarakat untuk berpartisipasi aktif menjaga kemuliaan bulan Ramadan. Ketiga, meminta Pemerintah untuk menutup semua tempat maksiat. Selain itu, mereka juga meminta media cetak dan elektronik untuk tidak menayangkan pornografi dan aksi porno. Tuntutan terakhir, mereka meminta orang tua untuk membimbing putra-putri masing-masing. Wali Kota mempersilakan pendemo melalui wakilnya masuk ke kantornya, di antaranya KH Abdurahman Thobari. Lebih Religius Abdurahman Thobari berharap Wali Kota bisa membuat suasana di wilayahnya terlihat lebih religius dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Basyir menjelaskan, sebelum memasuki Ramadan, dirinya sudah melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam untuk membicarakan bagaimana kebijakan terbaik dalam bulan puasa. ''Semula saya akan melarang warung-warung buka pada siang hari. Namun itu ditentang tokoh-tokoh karena di Pekalongan ada warga nonmuslim yang membutuhkan warung makan. Karena itu, kami hanya mengimbau,'' katanya. Selain itu, ketika dia mulai bekerja di Pemkot, langsung melakukan shalat berjamaah untuk pegawai setempat. Itu sebagai contoh agar lembaga lain juga melaksanakan kegiatan seperti itu ketika waktu shalat tiba. ''Ketika sedang rapat, kami menghentikan sebentar ketika ada azan. Ini upaya agar Pekalongan terlihat lebih religius,'' katanya.Ungkapan Wali Kota itu tidak hanya disampaikan kepada wakil para pendemo, namun juga disampaikan kepada semua pendemo yang berada di luar ruangan. Seusai pertemuan, Wali Kota didampingi Kabag Humas dan Protokol Suharto BBA menyampaikan upaya yang sudah dilakukan sejak menjabat Wali Kota dalam upaya amar makruf nahi munkar. Akhirnya, pendemo pun puas dan melanjutkan aksinya ke Monumen Juang 45 sebagai upaya mengajak masyarakat umum untuk mencegah kemaksiatan. (A15-52n) |