logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 PANTURA
Line

Menyiasati Mahalnya Harga BBM (2-Habis)

Pasokan Batu Bara Capai 5.000 Ton

KENAIKAN harga BBM membuat pusing pabrik tekstil di Pekalongan. Karena itu, sejak setahun terakhir ini beberapa pabrik mengubah bahan bakar dari solar ke batu bara. Sebut saja PT Unggul Jaya, PT Dupantex, PT Kesmatex, PT Bintang Triputratex, dan Mafahtex.

''Mereka menggunakan batu bara sejak setahun lalu setelah terombang-ambing dengan kenaikan harga BBM. Dengan penggantian bahan bakar itu, maka pasokan batu bara ke Pekalongan dan sekitarnya mencapai 5.000 ton perbulan. Saya yakin, ke depan akan lebih banyak lagi pabrik menggunakan batu bara,'' kata Direktur PT Lokatex Pekalongan, Christian Idris Charmain.

Dia sendiri juga mengacungi jempol Wali Kota Pekalongan Mohamad Basyir Ahmat yang kini gencar menyosialisasikan briket batu bara menjadi bahan bakar pengganti minyak bagi pengusaha ikan asin, pembatik dan lain-lainnya.

Dikatakan seandainya, pengusaha di Pekalongan mau memakai batu bara (bukan briket), maka akan lebih irit karena harga batu bara hanya berkisar Rp 400 perkg.

Hanya, untuk penggunaannya memerlukan pengepakan tersendiri agar bisa digunakan pengusaha kecil.

''Namun, kalau Pemkot mau memberikan contoh sekaligus mengepres sendiri batu bara, maka akan menjadi daya tarik tersendiri,'' katanya.

Dikatakan kalau lebih irit, masyarakat tentu akan menggunakannya.

Bagaimana cara mendapatkan batu bara? menurut dia, dapat dibeli di Cirebon. ''Kami membeli batu bara dari pelabuhan seharga antara Rp 250 - Rp 400 per kg. Hanya, untuk biaya pengangkutan dari Cirebon memerlukan dana Rp 40 per kg.''

Namun, bila perusahaan menginginkan pasokan dari penjual juga bisa dilakukan. Sebab, sekarang ini sudah beberapa perusahaan batu bara yang siap mengirimkan.

Sekretaris Pemantau BBM Kota Pekalongan, Ir Candra Herawati mengatakan, untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah, Pemkot melakukan sosialisasi penggunaan briket batu bara.

Sasarannya adalah industri kecil di Kota Batik yakni industri sablon, pemindangan ikan, industri tahu dan tempe serta kebutuhan memasak di kapal saat melaut yang menggunakan minyak sangat besar.

Industri kecil itu, menurut dia, jumlahnya sangat banyak, yakni 400 pengusaha kapal, 40 usaha pemindangan, 80 usaha tahu tempe dan ratusan usaha sablon.

''Kalau mereka tak menggunakan minyak tanah, maka kebutuhan briket batu bara akan sangat banyak,'' katanya.

Sesuai perhitungan mengenai biaya dengan briket, kata Candra, bisa mengurangi biaya sebesar 40%. ''Jumlah itu tidak kecil bagi pengusaha kecil,'' tegas dia yang juga Kepala Bapermas .

Menurut dia, perpindahan penggunaan minyak dengan briket batu bara itu diperlukan karena kebutuhan minyak secara nasional membengkak berkaitan dengan pertambahan penduduk. Sedangkan produksi minyak tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk.

Menurut dia, kalau industri kecil tertarik menggunakan batu bara, Wali Kota sudah melakukan komunikasi dengan perusahaan batu bara untuk kerja sama.

Pemkot akan menyediakan lahan, sedangkan pengusaha batu bara membangun pabrik briket. Dengan demikian, masyarakat tidak akan bingung mencari briket batu bara.

Hasil dari sosialisasi di KUD Makaryo Mino dan di Primkopti Kuripan Kidul, dapat disimpulkan masyarakat mulai tertarik pada batu bara.

Tetapi, untuk lebih yakin, peserta sosialisasi menyarankan Pemkot melakukan sosialisasi di tingkat kelurahan dengan mengundang pengusaha kecil.(Trias Purwadi-52)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA