logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 OLAHRAGA
Line

Jateng Tanyakan Nasib Trianingsih cs

SEMARANG- Pengda PASI Jateng melayangkan surat ke PB PASI, dengan harapan tiga atlet dan dua pelatih asal Jateng yang dicoret dari pelatnas, tetap bisa memperkuat Kontingen Merah Putih saat SEA Games XXII digelar di Manila, 27 November - 5 Desember mendatang. Namun, surat yang dikirim sejak pertengahan Agustus itu, sampai sekarang ternyata belum mendapat jawaban.

Ada kemungkinan atlet dan pelatih asal klub Locomotive dan Dragon Salatiga itu tidak bisa membela Indonesia di pesta olahraga se Asia Tenggara tersebut.

Erni Ulatningsih, yang berhasil merebut medali emas di SEA Games XXI 2003 Vietnam merupakan salah satu yang terkena sanksi tersebut.

Sampai kemarin, belum ada tanda-tanda dia diminta untuk bergabung lagi dengan timnas yang kini sedang berlatih di Pengalengan, Jabar.

''Kami sudah melayangkan surat ke PB, tetapi sampai saat ini belum ada jawaban. Kami menilai apa yang telah dilakukan oleh PB PASI merupakan perbuatan tidak mendidik, karena langsung mencoret atlet. Seharusnya diawali dengan peringatan atau skorsing. Tetapi hal itu tidak dilakukan, tahu - tahu langsung dicoret dari timnas,'' kata Ketua Pengda PASI Jateng, Bambang Soetopo, siang kemain.

Padahal, katanya, atlet - atlet yang dicoret itu merupakan atlet - atlet andalan Jateng. Kalau surat permohonan kepada PB tidak dikabulkan, akan mematahkan semangat atlet - atlet yang sedang masuk dalam Pelatda Jangka Panjang (PJP) Jateng ke persiapan PON XVII Kaltim tahun 2008.

''Kalau Trianingsih tidak masalah. Dia kan masuk atlet Program Indonesia Bangkit (PIB). Keberangkatannya bersama pelatih Alwi Mugianto ditanggung KONI Pusat.

Yang kami perjuangkan adalah Erni Ulatningsih sebagai juara bertahan maraton, dan atlet muda penuh bakat Agus Prayogo,'' tandasnya.

Menyambung Hidup

Tiga atlet nasional asal Jateng, yakni Trianingsih, Erni Ulatningsih, Agus Prayogo, dan dua pelatih Alwi Mugiyanto dan Yon Daryono, dicoret oleh PB PASI dengan alasan indisipliner.

Waktu itu, kendati sudah ada larangan dari PB, mereka tetap nekat turun di Indonesia 10-K di Bali, yang menjanjikan hadiah total ratusan juta rupiah pada tanggal 14 Agustus lalu.

Lomba lari 10-K berlangsung secara serentak di tujuh kota, salah satunya di Magelang dengan finish di pelataran Candi Borobudur.

Dalam kondisi seperti ini, imbuhnya, PASI harus menyadari kalau kelangsungan hidup klub - klub atletik cukup berat.

Untuk menyambung hidup klub, sangat ditentukan oleh hadiah - hadiah yang diraih dari berbagai kejuaraan. Karena itu, kesempatan yang baik tersebut dimanfaatkan oleh atlet dan pelatih.

''Harusnya disadari bahwa kelangsungan hidup klub ditentukan oleh hadiah - hadiah itu. Lain kalau kehidupan klub dibiayai oleh PB, KONI atau dari APBD. Kalau biaya klub ditanggung pihak lain, kami bisa memahami main coret yang dilakukan oleh PB tersebut.'' (C16-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA