logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Program PKPS Subsidi BBM Demak

Menanggapi penanganan Program PKPS Subsidi BBM yang akan/sedang dilaksanakan Demak perlu disikapi secara seksama, karena dana ini berasal dari masyarakat. Harapannya, program ini dilaksanakan sesuai amanah.

Salah satunya melibatkan potensi lokal yakni fasilitator sehingga bisa digunakan secara berkelanjutan. Program ini sangat penting untuk memanfaatkan potensi lokal. Saya imbau program tepat sasaran dan masyarakat dilibatkan langsung.

Juga tumbuhnya kontrol masyarakat, libatkan potensi lokal termasuk tenaga pendamping/fasilitator. Untuk konsultan agar melaksanakan tugasnya dengan benar.

M Mughni Labib SAg
Setinggil Gg III/12 Bintoro, Demak

***

SMK YPT Tegal

Keponakan saya yang satu alumnus dan yang satunya lagi masih jadi siswa SMK YPT Tegal. Di sekolah ini kok masih ada penarikan dana yang penggunaannya belum tepat. Antara lain, siswa yang lulus ditarik dana perpustakaan, tetapi perpustakaannya masih tetap seperti dulu.

Mereka juga ditarik dana kenang-kenangan, tetapi menurut orang pengurus BKK dana tersebut dipakai untuk piknik. Setiap siswa dikenai biaya tambahan praktik, tetapi kenyataannya praktiknya masih sama antara sebelum dan sesudah ada tarikan dana praktik.

Bahkan selama kelas 1 kata keponakan saya tidak pernah praktik.Saya mengharap Bapak kepala SMK YPT Tegal ada perubahan, terutama dalam meningkatkan mutu pendidikannya.

Abdur Rokhim
Jatibarang Lor Rt 1/Rw 1, Brebes

***

Tanggapan RS Dr Kariadi

Menanggapi Surat Pembaca beberapa waktu lalu yang ditulis Bapak Eko Andrianto Jl Madukoro II/94 Semarang, kami ucapkan terima kasih atas kritik/sarannya. Kami juga mohon maaf bila dalam melayani pelanggan masih ada kekurangan.

Dengan kritik/saran dan masukan Bapak, kami telah melakukan pembenahan ke dalam dan berusaha lebih meningkatkan pelayanan di semua bidang baik medis, keperawatan, penunjang dan pelayanan umum lainnya.

Kabag Pemasaran
Drs M Djajadi

***

PLN Boja

Nampaknya sangat indah dibaca Surat Edaran PLN Boja perihal efisiensi pemakaian tenaga listrik. Namun setelah dicermati sungguh menyedihkan dan menyakitkan bagi warga Boja Kendal. Pada edaran tersebut ada kalimat sekaligus jadwal pembongkaran Penerangan Jalan Umum (PJU).

Yang selama ini berjalan ada PJU yang memang dipasang PLN, namun banyak pula dipasang masyarakat karena merasa membayar beban 10 % setiap bulan pada rekening listrik. Padahal tidak pernah ada fasilitas itu khususnya di pedesaan. Kenapa sekarang muncul ketentuan PJU dengan tarif sosial.

Kalau alasan energi listrik hilang, mestinya dicari dan PLN punya cara jitu, bukannya malah PJU yang dibongkar. Atau boleh dibongkar namun beban 10 % pada rekening untuk penerangan jalan juga harus dihapus. Sehingga beban itu dapat digunakan untuk membayar secara swadaya.

Masyarakat sudah susah dengan sulitnya minyak tanah, kurangnya lapangan pekerjaan, PHK, naiknya BBM, kok PLN Boja buat aturan yang membuat masyarakat tambah susah.

Drs Bambang Wiyanto
Salamsari Et 2/Rw 5 Boja

***

Terima Kasih Tim Dokter RS Dr Kariadi

Saya ucapkan terima kasih kepada tim dokter dan paramedis RS Dr Kariadi Semarang yang menangani operasi otak anak saya Diah Tri Novitasari akibat kecelakaan di Jl Raya Trangkil Sekaran Gunungpati. Juga kepada semua pihak yang nenolong/membawa korban ke RS. Kini kondisinya makin membaik.

Saya juga imbau kepada penyenggol motor anak saya H 4555 TD pada hari Minggu 18 September 2005 pukul 08.30 untukmenyempatkan diri menengoknya. Korban kehilangan keseimbangan setelah tersenggol kendaraan lain sehingga motornya dibanting ke kanan dan menabrak Suzuki Katana yang sedang jalan menuju Sekaran.

Subarmanto
Villa Siberi Blok B/2 Bandarjo, Boja

***

Tunggu Apa Lagi

Salut sekaligus kagum. Ternyata masih ada pejabat yang berhati ksatria dan berani berkata jujur mengenai apa yang terjadi. Secara pribadi saya sebagai warga Kota Salatiga memberikan apresiasi kepada Wakil Wali Kota Salatiga atas pengakuannya terkait soal SPBU Tingkir.

Salut, pada saat semua pejabat baik di daerah maupun pusat berlomba melepaskan diri dan bahkan "cuci tangan" dari permasalahan hukum, namun Bapak John Manoppo SH secara jujur dan terbuka berani mengungkapkan kebenaran dan fakta. Bahkan beliau siap jika harus menghadapi konsekuensi hukum.

Kagum, dengan pengakuan jujur tersebut, kabut gelap yang selama ini menutupi kasus SPBU Tingkir sedikit demi sedikit mulai terkuak. Tidak terlepas dari permasalahan yang telah diungkapkan, kepada aparat penegak hukum terkait dan KP2KKN, tunggu apa lagi?

Danny Stephanus W
Jl Tidore I/83 E Salatiga

***

Terima Kasih Penolong

Saya sekeluarga mengucapkan terima kasih kepada seorang ibu yang berbaik hati menolong dan mengantar anak saya ke RS Telogorejo Semarang. Anak saya siswi SMA Sedes Sapientie mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu di Jl Ki Mangunsarkoro sekitar pukul 06.45.

Maaf, saya tidak dapat berterima kasih secara pribadi karena tidak sempat bertemu dengan Ibu setelah kejadian tersebut.

Budihardjo
Jl Gabahan 196, Semarang

***

Lambat Sehari,Disegel

Saya mengalami peristiwa yang menjengkelkan akibat perlakuan petugas PLN yang tidak sesuai prosedur dalam menjalankan tugasnya. September lalu saya terlambat membayar rekening listrik yang seharusnya paling lambat tanggal 20 setiap bulannya.

Tetapi tanggal 22 September pagi atau hanya terlambat sehari, petugas PLN datang dan langsung mau memutus aliran listrik di rumah saya. Karuan saja saya menolak sebab keterlambatan sampai akhir bulan pun masih bisa dilakukan dengan membayar denda.

Petugas bisa menyegel kalau pelanggan terlambat lebih sebulan dan itu pun sebelumnya diberi surat peringatan. Tapi ini lain. Terlambat sehari dari batas akhir pembayaran, langsung mau disegel. Pertanyaan saya, apakah betul tindakan petugas tersebut dan apakah ini peraturan baru di PLN.

Ir Martono Chaeruddin
Jl Tegalsari Raya 411/77, Semarang

***

RSUD Kota Semarang

Kami ucapkan terima kasih kepada tim medis RSUD Kota Semarang khususnya ruang Kresna dan UGD, yang telah merawat warga kami tidak mampu dengan pelayanan yang baik. Beberapa waktu lalu kami membawa warga yang sakit dan langsung masuk UGD ditangani dan dirongen.

Kami diberi resep untuk mengambil obat di apotek RS tersebut secara gratis. Setelah diinfus dan minum obat, kemudian ditempatkan di ruang Kresna. Kami disuruh melengkapi surat keterangan miskin. Setelah 2 minggu pasien kami ambil dalam kondisi lumayan baik.

Saat kami lapor ke dokter dan perawat bahwa pasien mau diajak pulang, kami dilayani dengan sikap yang menyenangkan. Beliau minta maaf jika pelayanannya kurang memuaskan. Kami dipersilakan membawa pulang kapan pun tanpa dipungut biaya.

Surat pembaca ini kecuali ucapan terima kasih juga untuk menepis anggapan di masyarakat bahwa jika memakai kartu miskin/Askes, pelayanannya kurang baik.

Gafar (ketua Rt 1/Rw 6)
RB Suyoto (ketua Rw 5) Sarirejo, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA