| Rabu, 05 Oktober 2005 | WACANA |
Menjaga Arah TNIOleh AdrizalKALAU boleh dibuat persamaan, maka antara tentara dengan rumah sakit tidaklah beda jauh. Meskipun tidak ada orang sakit lagi, bukan berarti rumah sa-kit itu harus segera ditutup. Begitu juga tentara, walaupun tidak ada perang, bukan berarti keberadaan mereka harus dibubarkan. Mirip dengan datangnya penyakit, gejala gangguan pertahanan keamanan juga tidak ada alat yang bisa mendeteksi dengan tepat kapan muncul dan perginya. Sekadar mengingatkan, tragedi 11 September 2001 di WTC New York AS, tidak ada yang bisa menduga negara Amerika Serikat (AS) yang super canggih da-lam segala hal bisa kecolongan, bahkan gedung pertahanan AS Pentagon yang terkenal dengan kerapian pengamanannya juga tak luput dari serangan teroris. Bangsa Indonesia saat menapaki masa reformasi tahun 1998, sempat dimamfaatkan oleh beberapa kepentingan yang berpikiran sempit, mereka menuntut pengerdilan peran TNI. Padahal jika mau bersikap adil, kontribusi TNI dalam membangun masyarakat yang kritis, terbuka dan maju, ti-daklah kecil. Kita masih ingar petuah Bapak TNI Panglima Besar Jenderal Sudirman bahwa "Satu-satunya milik nasional yang tidak pernah berubah oleh apa pun jua adalah Tentara Nasional Indonesia". Dalam situasi yang serba tidak menentu, tensi kehidupan berpo-litik terus menaik sebagai konsekuensi dibukanya kebebasan. Dalam masa itu, TNI melakukan reformasi internal dengan melakukan berbagai pembenahan-pembenahan penting sebagai upaya menjawab tantangan za-man dan perubahan yang terjadi. Perubahan yang signifikan di antaranya dihapusnya fungsi kekaryaan prajurit, TNI netral dalam berpolitik dan TNI mulai meninggalkan bisnis militer. TNI mulai fokus pada tugas utamanya sebagai alat pertahanan negara. Karena tuntutan reformasi, Polri pun dipisah dari tubuh Angkatan Bersenjata RI, dan nama ABRI saat itu diganti menjadi TNI sampai sekarang. Walaupun dalam ketentuan undang-undang, TNI akan mundur dari lembaga legislatif tahun 2009, tapi di zaman kepemimpinan Ketua MPR Amien Rais, TNI malah mempercepat langkahnya untuk mundur dari lembaga tertinggi tersebut lebih awal. Sebuah langkah yang tentunya ada kandungan makna bahwa TNI punya keinginan dan komitmen proses reformasi ini bisa berjalan dengan baik tanpa ada sandungan dan perpecahan bangsa. Peran Penting Seiring dengan perjalalanan waktu, sejarah perjalanan TNI dari awal kelahirannya memang tidak bisa lepas dari lahir dan tegaknya bangsa ini hingga sekarang. Sejarah yang tidak boleh dilupakan bahwa TNI mempunyai peran penting dalam berjuang dan mempertahankan bangsa ini. Proklamasi kemerdekaan RI dilakukan pada 17 Agustus 1945, di tengah suasana pendudukan Jepang. Waktu itu Jepang harus segera menyerahkan diri tanpa syarat kepada pihak Sekutu. Di samping itu, pihak sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II sudah siap pula untuk masuk ke Indonesia selaku tentara pendudukan baru di Indonesia. Dalam konteks inilah, muncul kesadaran seluruh rakyat bahwa kemerdekaan yang belum seumur jagung itu harus diperjuangkan dan dipertahankan, jangan sampai lepas lagi dari tangan. Maka rakyat Indonesia harus punya unsur alat pertahanan sesegera mungkin. Didorong oleh rasa kebersamaan dan perjuangan yang tinggi untuk lepas dari belenggu penjajahan, putra-putri yang patut diandalkan adalah seperti bekas Tentara Pembela Tanah Air (Peta), Gyugun, Kaigun, Heiho, Pelopor, Hisbullah, para pelajar dan lain-lain yang sempat dilatih dasar-dasar kemiliteran oleh tentara pendudukan Jepang untuk keperluan perang Asia Timur Raya, namun tidak sempat dimanfaatkan karena Jepang keburu menyerah dengan sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Enam hari setelah peroklamasi kemerdekaan, tanggal 23 Agustus 1945, Presiden Soekarno mengimbau atau menyerukan kepada patriot-patriot bangsa. "Saya berharap kepada kamu sekalian, hai prajurit-prajurit bekas Peta, Heiho, dan Pelaut serta pemuda-pemuda lain, untuk sementara waktu masuklah dan bekerjalah dalam Badan Keamanan Rakyat. Percayalah nanti akan datang saatnya kamu dipanggil untuk menjadi prajurit dalam Tentara Kebangsaan Indonesia." Setelah melewati tahap-tahap pencarian bentuk dan pengkonsolidasian berbagai front perjuangan rakyat dari bekas Peta, Heiho, Gyugun, Laskar Hisbullah dan lain sebagianya, tanggal 5 Oktober 1945 semuanya disatukan dalam organisasi kemiliteran yang lebih solid dan maju, yakni Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menjaga Arah Dalam dimensi waktu, dulu dan sekarang, yang namanya prajurit tetaplah prajurit, mereka sudah pasti disiapkan untuk menjadi bayangkari negara. Dalam benak seorang prajurit, NKRI harus tetap utuh, dan ini merupakan poin pertama sumpah prajurit untuk selalu "setia kepada Negara Kesatuan Repuplik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945". Mengapa begitu penting negara ini punya prajurit yang punya kesetiaan terhadap bangsanya? Karena kesetiaan terhadap bangsa dan negara inilah yang menjadi modal dasar bangsa ini tetap tegak dan bisa dipertahankan hingga sekarang. Sepanjang kesetiaan terhadap bangsa dan negara ini tetap bisa dipelihara, maka sepanjang itu pula eksistensi bangsa ini bisa dijaga dan dikawal dengan baik. Dalam menjaga nilai kejuangan prajurit, terasa ada suatu hal yang perlu difahami, yakni konteks waktu dan dukungan lingkungan. Prajurit TNI aktif sekarang boleh dikatakan prajurit yang tidak mengalami sama sekali masa-masa perjuangan kemerdekaan tahun 1945, dan dukungan rakyat yang selalu bahu membahu dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan. Penempaan prajurit sekarang lebih diarahkan pada pembentukan sosok prajurit profesional dengan tetap menjaga dan memelihara tradisi nilai perjuangan prajurit yang dilakukan oleh generasi pendahulunya di era zaman kemerdekaan..Pengimplementasian nilai-nilai itu tertuang dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit yang sampai saat ini masih tetap dipedomani oleh prajurit dalam melaksanakan tugas pokoknya. Peran TNI dalam kehidupan nasional, baik yang telah, tengah maupun yang akan dilaksanakan tidak terlepas dari dimensi historis, kondisi aktual serta kecendrungan yang akan datang. Variabel-variabel tersebut harus secara cermat dan konprehensif dibaca serta diterjemahkan menjadi suatu model yang dapat diprediksi, sehingga dapat memberi gambaran yang jelas akan tantangan dan kendala yang dihadapi serta peluang yang dapat ditempuh. Kesemuanya itu dalam upaya membawa bangsa dan negara Republik Indonesia menuju cita-cita bangsanya, seperti yang telah diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. Semoga TNI tetap tangguh dan dibanggakan rakyatnya. Dirgahayu TNI. (24) -Adrizal, Perwira Pendam IV/Diponegoro HexWeb XT DEMO from HexMac International |