| Rabu, 05 Oktober 2005 | WACANA |
Puasa dan Aktualisasi NuraniOleh Lukman Santoso Az"HAI orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa" (QS Al-Baqarah /2: 183) Kalau kita mau menengok sejenak sejarah di masa silam, tentang perintah puasa sebenarnya telah berlangsung sepanjang sejarah manusia. Puasa sebagai perintah agama telah dilakukan oleh umat manusia beragama di masa sebelum umat nabi Muhammad Saw. Puasa merupakan salah satu ibadah yang paling awal dan paling luas tersebar di kalangan umat manusia yang beragama meskipun bentuk dan cara puasa mereka mungkin berbeda. Seperti dijelaskan dalam kutipan ayat di atas "...kama kutiba 'alalladzina min qablikum../ sebagai mana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu". Kewajiban puasa telah diwajibkan kepada orang terdahulu. Dalam perspektif Alquran orang-orang sebelum kamu yang dimaksud adalah para pemeluk agama-agama samawi yang secara historis memiliki keterkaitan langsung dengan Islam; yakni yahudi dan nasrani. Dalam bahasa Alquran, kedua komunitas umat beragama ini disebut Ahl - Al -Kitab. Seperti umat Islam, mereka juga punya kitab suci yang jelas dan berbeda; Taurat sebagai kitab suci agama yahudi dan Injil sebagai kitab suci agama nasrani. Bagi sebagian ulama, semua agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam) memiliki banyak kesamaan dan afinitas dalam segi beberapa ajaran agama, yakni banyak kesamaan dalam prinsip-prinsip pokok, akidah, ahklak dan syariah. Hal ini tidak mengherankan karena ketiga agama ini tergabung dalam agama Nabi Ibrahim (Abrahamic Religious). Semua agama Ibrahim dan agama-agama samawi sama-sama mengajarkan keesaan Allah, kenabian, hari akhir, zakat dan termasuk juga puasa; banyak afinitas di antara ketiga agama ini dalam aspek-aspek ajaran dalam bidang ini. Ajaran tentang ibadah puasa, menurut pandangan agama samawi, tersebar dalam berbagai bagian kitab-kitab suci mereka dengan berbagai keterangan, dan mencakup berbagai bentuk puasa. Teks ayat-orang-orang sebelum kamu-mengandung dimensi masa lampau, yang memiliki dimensi keberlanjutan suatu perintah agama dengan masa sesudahnya. Perintah berpuasa bagi umat Islam-seperti orang-orang sebelum kamu-merupakan perintah yang berkesinambungan dan berkelanjutan dari suatu umat ke umat beragama sebelumnya. Penyempurnaan Hal tersebut membuktikan dan menegaskan bahwa kehadiran ajaran Islam bagi kaum muslimin, yang salah satu ajarannya adalah ibadah puasa, merupakan kelanjutan dan penyempurnaan bagi agama-agama samawi sebelumnya. Hal itu juga di pertegas dalam firman Allah yang menyebutkan bahwa; Alquran (ajaran Islam) untuk memberikan pembenaran dan penyempurnaan terhadap sebagian ajaran agama kaum Yahudi dan Nasrani (Q.S Ali Imran/3 : 3 ; Q.S Al - Maidah/5 : 48 ; Q.S Al- An'am/6 : 92) Perintah puasa tidak hanya memiliki dimensi masa silam, tetapi juga dimensi masa kini dan dimensi masa depan. Puasa tidak hanya menyangkut sejarah umat manusia terdahulu sebelum kita, tetapi juga berkaitan dengan sejarah manusia masa lalu dan masa depan. Karena itu kiranya perlu merenungkan dan meneliti makna kandungan ayat di atas dengan pertanyaan Mengapa puasa menjadi perintah agama sekaligus kewajiban tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga umat sebelum umat Rasulullah saw ?. Sekali lagi, sekalipun agama samawi sama-sama mengandung tentang ajaran tentang puasa namun cara dan kaifiyah pelaksanaan puasa tentu saja berbeda-beda. Satu generasi umat beragama dengan generasi umat berikutnya dan dari tempat satu ke tempat lainnya berbeda dalam melaksanakan ibadah puasa. Ada puasa nabi Daud (sehari puasa sehari berbuka) ada puasa menahan diri dari berbicara seperti pernah dijalankan Maryam (ibu Nabi Isa) Seperti diterangkan Alquran, "Maka makan minum dan bersenang hatilah kamu jika kamu melihat seorang manusia, katakanlah, sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang maha pemurah. Maka, aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini " ( Q.S Maryam /19 : 26). Jauh sebelum Nabi Isa kiranya perlu disimak juga kisah Nabi Adam, sebagai simbol manusia pertama, dan Hawa istrinya. Seperti dikisahkan Alquran, Adam dan Hawa telah dikaruniai berbagai kenikmatan yang melimpah dan diberi kemerdekaan untuk segala buah-buahan di dalam surga kecuali buah terlarang, sajaroh khuld ( pohon keabadian). Alquran mengisahkan, Dan kami berfirman; "wahai Adam ! ambillah oleh kamu dan istrimu surga ini dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai dan janganlah kamu dekat pohon ini , yang menyebabkan kamu termasuk orang yang zalim" (Q.S Al-Baqarah/2:35). Oleh Allah swt, Adam dan Hawa diperintahkan menahan diri dari mereka untuk tidak mendekati "buah terlarang". Namun karena mereka tidak mampu menahan diri dari dorongan nafsu setan, mereka dijatuhkan dari dunia kenikmatan (surga) ke dunia penuh cobaan (bumi) . Kisah Nabi Adam dan Hawa, Maryam, dan orang - orang terdahulu sebelum umat Nabi Muhammad menjelaskan bahwa sejak awal sejarahnya umat manusia sebenarnya telah di perintahkan untuk mampu menahan dan mengendalikan diri sendiri dari berbagai bentuk kezaliman. Seperti diketahui secara umum, puasa dalam bahasa arab disebut Sha-wa-ma yang bermakna menahan, berhenti atau tidak bergerak. Secara esensial mengandung arti menahan dan mengendalikan diri. Karena itu contoh sejarah pengendalian diri manusia terdahulu melalui puasa dapat diharapkan menjadi rujukan di masa kini dan mendatang. sejarah dan upaya manusia dalam hal pengendalian diri akan berlangsung dan berkesinambungan. Pengalaman sejarah, pengendalian diri itu sangat di butuhkan agar kezaliman yang dapat merusak tatanan masyarakat tidak kembali terulang. Puasa seperti dicontohkan dalam sejarah "orang-orang sebelum kamu". menjadi salah satu karya terbaik untuk melatih mengendalikan diri sendiri dari berbagai sifat, prilaku dan perbuatan yang menjerumuskan kejurang kezaliman. Karna itu puasa akan dibutuhkan dan relevan bagi umat manusia, apalagi umat Islam, yang memang wajib menjalankan puasa Ramadan. (11) Lukman Santoso Az staf pada Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY) |