logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Sabar dan Sabar, Itulah Nuansa Ramadan 1426 H

- Yang sangat relevan kita serap dalam menyambut kehadiran bulan Ramadan 1426 Hijriah, mulai Rabu ini, apalagi kalau bukan saling mengingatkan tentang sikap sabar? Ya, inilah hari-hari penuh cobaan bagi bangsa Indonesia, karena "kado" pahit penyelamatan ekonomi negara pada babak-babak awal ini pasti akan sama-sama kita rasakan. Jumat 1 Oktober lalu, pemerintah mengurangi subsidi BBM, dengan menaikkan harga sampai 87 persen. Rakyat juga sudah diadang oleh kenaikan berbagai indeks kebutuhan hidup, mulai dari harga kebutuhan pokok, tiket transportasi untuk mobilitas harian, serta komponen-komponen lain yang yang semua tentu menyangkut kiat-kiat pengelolaan keuangan dari yang sudah pas-pasan menjadi makin rumit lagi.

- Bukan sekadar karena kebetulan menyongsong puasa Ramadan maka kita diingatkan untuk bersabar menghadapi cobaan-cobaan ekonomi. Tidak ada pilihan lain, sabar itulah yang harus dijadikan kendaraan, dan dimensi sosial ibadah puasa memang memuat ajaran tentang kesabaran. Juga pelajaran mengenai efektivitas untuk mengelola hati. Cobaan itu makin bertambah kalau kita kaitkan dengan teror bom yang mengguncang Bali, akhir pekan lalu. Enam ledakan menewaskan puluhan orang dan ratusan lainnya luka-luka. Indikator sifat "tega" ini jelas membuat semua yang berhati nurani tidak akan dapat memahami secara tuntas. Tragika itu tidak mungkin dilokalisasi sebagai persoalan di tempat kejadiannya saja, tetapi telah menjadi masalah bangsa.

- Setiap tahun, puasa Ramadan datang menyapa dengan membawa pesan-pesan kemanusiaan yang sama. Setiap tahun pula, tipologi persoalan yang dihadapi bangsa ini berkembang. Setiap individu mengalami dinamika kehidupan yang antara satu orang dengan lainnya tidak selalu sama. Pengalaman batin, pengembaraan spiritual, pencapaian intelektualitas, dan perjalanan sosial antarmanusia memuat nuansa yang sangat individual. Tetapi hakikat ajaran di balik ibadah puasa tetap sama, dengan beragam dimensi: spiritual, mistis, intelektual, dan sosialnya. Keikhlasan, kesabaran, kejujuran, pola hidup sehat, disiplin, simpati, empati menjadi elemen-elemen yang saling terkait, dan idealnya berlomba-lomba untuk kita raih sebagai sasaran.

- Persoalan ini selalu menantang: sanggupkah kita menjadi alumnus Ramadan yang mampu menginternalisasi muatannya? Secara umum, penjiwaan selama satu bulan memang tidak menjamin para pelaku puasa untuk menyerap total lalu mengejawantahkannya selama 11 bulan berikut. Tetapi, siklus tahunan dalam periodisasi yang telah ditetapkan untuk membangun pribadi-pribadi muttaqin ini, sebenarnya juga sudah tersistematisasi sedemikian rupa. Idealisasi yang indah itu, mestinya: 11 bulan merupakan "pengembaraan" untuk mengaplikasikan nilai-nilai yang didapat selama sebulan. Atau, kalau kita berpikir minimalis "setidak-tidaknya", maka Allah telah membentangkan medan revitalisasi kehidupan nilai-nilai selama satu bulan penuh.

- Kalau hidup dalam konteks ibadah kita yakini sebagai perjuangan, maka tidak ada pilihan lain kecuali beristikamah untuk meraih yang terbaik. Nilai-nilai itu sudah dijanjikan kepada para pelaku puasa Ramadan. Sedangkan dalam tataran kehidupan sosial, konsistensi itu kita wujudkan ke dalam laku, yakni bagaimana selalu mencoba bersikap jujur, ikhlas, sabar, disiplin, simpati, dan empati. Dalam pengejawantahan interaksi sosial misalnya, janganlah kita memperlakukan yang bukan hak sebagai hak, wilayah yang hakikatnya merupakan milik rakyat dikuasai sebagai milik pribadi atau kelompok; juga merenggut hak beropini atau berekspresi seolah-olah kita atau kelompok kitalah yang menjadi sumber kebenaran. Semua itulah yang harus kita perjuangkan!

- Ajakan bersabar bukanlah untuk mereduksi kegusaran terhadap belitan persoalan ekonomi yang sehari-hari harus kita atasi. Memang sabar itulah kendaraan utama untuk menuju kemaslahatan hidup. Hanya, tentu bukan pengejawantahan ketidaksabaran ketika rakyat juga menuntut penuntasan kasus-kasus korupsi, penyelundupan BBM, penyimpangan distribusi minyak, dan sebagainya yang terbukti telah berandil besar menyengsarakan rakyat. Justru kita mengajak pemerintah dan aparat hukum untuk "bersabar" dengan memilih "jalan benar" ketika di hadapan mereka membentang dua jalan untuk dimasuki, antara penyelesaian hukum yang efektif, dengan kemungkinan untuk membenamkan berbagai kasus tersebut ke lorong kegelapan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA