| Rabu, 05 Oktober 2005 | NASIONAL |
Tarawih di Masjid AgungSerasa Hanyut ke Tanah Suci
SETELAH KH Zainuri Ahmad Alhafidz memungkasi rangkaian shalat tarawih dengan doa, puluhan orang segera merangsek ke mihrab. Mereka berebut menyalami hafidz asal Tengaran, Kabupaten Semarang, yang menjadi imam shalat tarawih di Masjid Agung Jateng Jl Gajahraya Semarang, semalam. Barangkali mereka ingin bersemuka langsung dengan imam, yang selama satu jam sebelumnya hanya mereka dengarkan suara merdunya. Ya, semalam KH Zainuri memimpin tarawih dengan murattal Alquran yang fasih, dengan irama yang mengingatkan pada shalat tarawih di Masjidil Haram, Makah. Suara baritonnya terdengar bergema-gema membawa suasana khusyuk bagi para jamaah, yang berdatangan dari berbagai daerah di Semarang dan sekitarnya. Tak pelak, ribuan orang yang memenuhi ruang utama masjid kebanggaan masyarakat Jateng itu serasa terhanyut ke Tanah Suci. Berbarengan dengan itu, puluhan lainnya beringsut ke belakang. Mereka menuju ke sudut timur laut, tempat beduk raksasa. Mereka melihat dari dekat "Beduk Ijo Mangunsari" yang dibuat santri Pesantren Alfalah Banyumas, yang baru beberapa hari tiba di Masjid Agung. Lihatlah, ada seorang jamaah yang mencoba mengukur panjang beduk itu dengan merentangkan tangan. Sementara sebagian lainnya memukulkan tangan ke beduk bercat hijau tua itu. "Wah, ternyata jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Ini jauh lebih besar dari mobil Espass," celetuk salah seorang. Lalu secara bergantian KH Zainuri, KH Ulil Abshor Alhafidz (Jepara), dan KH Ahmad Thoha Alhafidz (Pekalongan) akan memimpin shalat tarawih itu. Ketiga imam yang akan memimpin shalat tarawih itu merupakan hafidz bereputasi internasional. KH Ulil Abshor, misalnya, merupakan juara II pada MTQ Internasional 1982 di Makah untuk cabang tahfidz 30 juz. KH Zaenuri juga merupakan pemenang MTQ Internasional di Mesir pada tahun 2000-an, sedangkan KH Ahmad Thoha juara tahfidz 10 juz di Makah pada tahun 1981. Ketua Badan Pengelola Masjid Agung (BPMA) Jateng Drs KH Achmad mengatakan, tahun lalu shalat tarawih ala Masjidil Haram juga telah dilakukan, dan memperoleh respons positif jamaah. Masjid Kauman Di Masjid Agung Kauman Semarang, suasana serupa juga terlihat. Shalat tarawih perdana di masjid berkapasitas 1.000 orang itu diawali suara sirine yang meraung panjang dari atas menara. Umat yang datang menyesaki ruang utama, serambi dan sayap utara. Mereka sebagian para pedagang dan pengunjung Pasar Johar yang menyempatkan diri shalat tarawih di masjid peninggalan abad XVI tersebut. Jamaah mengikuti shalat tarawih 20 rakaat secara khusyuk, dipimpin imam KH Mukhrim Suyuti. Sedangkan mauizah hasanah disampaikan Ustad Abdul Latif. Ratusan orang juga mewarnai pelaksanaan shalat tarawih perdana di Masjid Baiturrahman Simpanglima. Mereka memenuhi shaf-shaf yang tersedia hingga di lantai dua. Tampil sebagai imam dan khatib shalat tarawih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Drs KH Ahmad Darodji. Dia meminta seluruh jamaah untuk menyambut bulan yang penuh keutamaan ini dengan suka cita. (Achiar M Permana, Rukardi, Moh Anhar-29t) | ||||