logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 NASIONAL
Line

BBM dan Bom Rekayasa Jatuhkan Image SBY

JAKARTA - Tokoh Gerakan Reformasi 1998 Hariadi Darmawan memprediksi kenaikan harga BBM dan bom Bali merupakan rekayasa menjatuhkan image Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di mata rakyat. Dari dua kejadian itu, timbul kesan seolah-olah pemerintah tidak mampu mengelola ekonomi dan menjamin keamanan sehingga dianggap tidak kompeten untuk memimpin bangsa.

''Saya duga ada skenario seperti itu. Rakyat dibuat marah pada SBY. Saya merasakan ada pembusukan seperti itu. Dari kacamata politik, saya lihat kenaikan harga BBM sebagai persiapan untuk menjatuhkan SBY. Setelah ekonomi bisa dikuasai, dicarikan payung hukumnya,'' kata Hariadi Darmawan di Jakarta kemarin.

Menurutnya, kekecewaan dan kemarahan rakyat terhadap kenaikan harga BBM tidak akan lenyap oleh bom Bali. Dia memprediksi, minggu depan aksi protes akan semakin membesar karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Kekecewaan masyarakat juga tidak bisa dihentikan dengan pengucuran dana Rp 100.000 per bulan kepada 15,5 juta keluarga miskin.

''Bisa jadi kasus peledakan bom di Bali itu untuk mengalihkan perhatian dan mungkin hasil konspirasi jahat yang melibatkan pihak asing. Apalagi jika digabung dengan kenaikan harga BBM, mereka bisa masuk pasar Indonesia. Bagi saya dan adik-adik mahasiswa, kenaikan harga BBM itu batil dan sadis,'' ujarnya.

Sementara itu, politisi gaek Partai Golkar Achmad Moestahid Astari mengatakan, kenaikan harga BBM dan bom Bali adalah kejadian yang paralel untuk menjatuhkan kewibawaan presiden.

Keduanya memang tidak terlihat punya hubungan tetapi terjadi secara bersamaan. Akibatnya, kini hal itu menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab.

''Adakah konspirasi di balik itu? Ini merupakan pekerjaan rumah bagi SBY. Dia harus membongkar semua itu,'' tandasnya.

Dia melihat tuntutan rakyat kenaikan harga BBM ditinjau kembali akan terus berjalan. ''Artinya, aksi protes tidak akan pupus kejadian bom di Bali,'' tambah Moestahid.

Menurutnya, kenaikan harga BBM menggambarkan karakter pemerintahan yang dikelola para pengusaha sehingga tidak memikirkan kepentingan rakyat. Hal yang menjadi fokus adalah bagaimana mencetak keuntungan.

''Kenaikan harga BBM ini atas perintah sponsor luar yang terus menekan pemerintah. Kalau tidak, bantuan dan utang tidak akan dicairkan. Saya pikir, loyalitas yang lebih mementingkan kepentingan asing ini sangat tidak bermartabat,'' ujarnya.(di-49m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA