logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 NASIONAL
Line

Ketika Harga Melambung Tinggi (1)

Dari Teh Manis Beralih ke Teh Pahit


PENJUAL NASI: Bu Yah (60), seorang penjual nasi di sekitar Pasar Sisingamangaraja Semarang, merasakan dampak kenaikan BBM.(30t) - SM/Abduh Imanulhaq

Ketika harga-harga harus melambung tinggi akibat kenaikan harga BBM, apa yang mesti dirasakan oleh rakyat kecil kecuali kesedihan dan kesulitan. Terutama kesulitan hidup yang semakin menghimpit mereka. Berikut ini derita rakyat jelata yang direkam Suara Merdeka yang dituangkan dalam laporan berseri mulai hari ini.

"PRESIDEN SBY lupa janjinya untuk tidak membuat kesengsaraan rakyat. Dia membuat cobaan dengan menaikkan harga BBM." Kalimat itu meluncur dari mulut Karsini (40), kemarin sore, di dalam warung nasi yang dijaganya.

Perempuan separo baya itu kemudian berceloteh tentang harga-harga yang melambung tinggi, pembeli yang tak mau harga makanan dinaikkan, dan berbagai deraan hidup yang mendera keluarganya. Bu Yah (60), pemilik warung, hanya tersenyum kecut mendengarkan tumpahan unek-unek pembantunya yang berasal dari Karanganyar itu.

Warung nasi Bu Yah terletak di sebelah jalan masuk Pasar Sisingamangaraja Semarang yang biasa disebut warga sekitar sebagai Pasar Candi. Ukurannya sekitar 3 x 4 meter. Dindingnya cuma seng bekas yang bercat merah. Dinding itu menjadi sekat pemisah dari kios cukur dan warung sebelah. Bagian belakang warung malah tak berdinding, hanya pagar besi milik rumah di belakangnya.

Isi warung sangat sederhana. Sebuah meja dan kursi panjang. Di atasnya tergelar botol minuman dan makanan, seperti nasi bungkus dan jajanan. Beberapa perkakas dapur tergantung di tiang. Perabotan lainnya menumpuk di sudut warung yang juga berfungsi sebagai tempat tinggal pemiliknya itu.

"Terasa sekali akibat kenaikan harga BBM ini, terutama minyak tanah, bagi penjual makanan seperti saya. Dari Rp 1.100 menjadi Rp 2.600 sangat memberatkan, mendapatkannya pun harus mengantre," tutur Bu Yah. Setiap minggu, perempuan asal Welahan Jepara itu membutuhkan 30 liter minyak untuk keperluan memasak. Warungnya yang buka sejak pagi hingga petang itu memiliki konsumen para kuli bangunan yang sedang mengerjakan berbagai proyek bangunan di sekitar pasar.

"Kuli-kuli itu sekarang banyak yang hanya meminta teh tawar saja. Mereka bilang, nggak legi juga tak apa-apa," paparnya sambil tertawa. Seiring kenaikan BBM, harga bahan pokok lain seperti gula memang turut melonjak. Dan Bu Yah hanya bisa mengurut dada memaklumi betapa konsumennya itu juga kesulitan serupa.

Teh Manis

Karsini pun menimpali dengan cerita soal protes para pembeli saat harga teh manis dinaikkan. "Mereka mengeluhkan naiknya harga angkutan dua kali lipat, sedangkan gaji tak ikut naik. Kami sesama orang kecil juga merasa kasihan," ungkapnya. Alhasil, kenaikan harga teh manis itu pun hanya seratus rupiah, dari Rp 500 menjadi Rp 600. Padahal di tempat lain, lanjut Karsini, harga teh manis sudah mencapai Rp 1.000. Harga makanan tak dinaikkan, karena kekhawatiran akan ditinggalkan langganan.

Bu Yah menambahkan, pendapatannya saat ini merosot tajam. Dia hanya beroleh keuntungan bersih Rp 10.000-Rp 15.000 sejak kenaikan BBM. Padahal, sebelumnya bisa mengantongi laba hingga Rp 25.000 per hari.

Pahitnya efek kenaikan BBM tak hanya dirasakan Bu Yah dan Karsini. Perajin tempe seperti Karnadi (57) turut merasakan kegetiran serupa. Warga Jl Sawah Besar IX itu kini harus mengeluarkan tambahan biaya Rp 65.000 setiap hari agar industri rumah tangga yang dimilikinya itu tetap berjalan. Maklum, untuk mengolah bahan baku tempe berupa kacang kedelai sebanyak 1 hingga 2 kuintal dibutuhkan sekitar 30 liter minyak tanah setiap harinya.

Dalam pembuatan tempe, minyak tanah dibutuhkan pada proses awal, yakni perebusan kedelai. Memang pernah terpikirkan oleh pria yang pernah merintis usaha serupa di Bogor dan Bekasi belasan tahun silam itu untuk beralih menggunakan kayu bakar. Namun, kesulitan menyediakan kayu yang bagus menjadi kendalanya.

"Solusi dengan menaikkan harga tak mungkin. Solusi lain dengan mengurangi isi tempe, yang biasanya 8 ons menjadi 6 ons jelas tak mungkin, karena tempe menjadi sangat tipis dan ditolak konsumen," jelas Pak Di, panggilan akrabnya. Menurutnya, diperlukan waktu sekitar 3 bulan agar terjadi kesesuaian antara biaya produksi dan laba.

Hal itu pun masih diembel-embeli catatan tak ada kenaikan harga bahan pokok lainnya. Dengan kondisi seperti itu, laba pun tak terlalu dipikirkan, karena biaya bisa impas saja disyukurinya.

Pak Di pun menyebutkan, usaha serupa yang hanya mengolah bahan baku sekitar 25-50 kg lebih mengkhawatirkan. Mereka bahkan terancam gulung tikar, karena tak cocoknya biaya produksi dengan keuntungan yang didapatkan. Dia hanya berharap, pemerintah mampu mengendalikan harga kebutuhan lain sehingga beban hidup tak makin mengimpit. (Abduh Imanulhaq, Fahmi Z Mardizansyah-t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA