logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 NASIONAL
Line

Suku Bunga BI Naik Jadi 11 %

JAKARTA-Mempertimbangkan prospek ekonomi moneter ke depan, Rapat Dewan Gubernur (RDG) memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin menjadi 11,0 persen. Kenaikan BI Rate merupakan respons atas kebijakan BI untuk secara konsisten mengarahkan ekspektasi inflasi agar sesuai pencapaian sasaran jangka menengah dan tetap mencerminkan tingkat suku bunga riil yang wajar.

Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengatakan hal itu dalam keterangan pers di Ruang Chandra Lantai IV Gedung Thamrin Bank Indonesia kemarin.

''Bank Indonesia memandang, meningkatnya ekspektasi inflasi dan nilai tukar dapat meningkatkan risiko ketidakstabilan makroekonomi. Upaya menjaga kestabilan makroekonomi diperlukan untuk menjaga keberlangsungan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang,'' paparnya.

Ditegaskan, Bank Indonesia juga akan senantiasa memperbarui assessment terhadap perekonomian dan melakukan penyesuaian kebijakan apabila diperlukan. Selain itu, Bank Indonesia juga akan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah untuk meminimalkan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM terhadap inflasi.

Melemah

Dalam kesempatan itu, Gubernur Bank Indonesia juga menyebutkan, dalam triwulan III-2005 berbagai indikator perekonomian mengindikasikan aktivitas perekonomian nasional yang lebih rendah dari perkiraan semula.

Di sisi permintaan, menurut dia, indikator investasi, konsumsi swasta, dan ekspor menunjukkan kecenderungan menurun. Sedangkan di sisi penawaran, penambahan kapasitas perekonomian terkendala adanya beberapa masalah struktural. Kondisi ini menyebabkan kesenjangan output dalam perekonomian nasional menjadi semakin menyempit.

''Dari sisi eksternal, neraca pembayaran juga menunjukkan kinerja kurang menggembirakan. Pada neraca modal, aliran modal masuk masih sangat terbatas, sedangkan kewajiban pembayaran utang luar negeri cukup besar. Pada neraca transaksi berjalan, peningkatan impor jauh melebihi ekspor,'' paparnya.

Dikatakan, melemahnya kinerja neraca pembayaran telah memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di samping itu, sambung dia, tekanan nilai tukar juga bersumber dari penguatan dolar sejalan dengan masih berlanjutnya siklus pengetatan moneter di AS. Tekanan ini kemudian memicu perilaku ikutan (bandwagon effect) pada kelompok korporasi domestik dan nasabah individu, sehingga menimbulkan tekanan pada rupiah yang semakin besar.

Dengan perkembangan tersebut, kata dia, inflasi pada akhir triwulan III-2005 mencapai 9,06% (y-o-y) atau lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Dari sisi suplai, tingginya realisasi IHK juga disebabkan meningkatnya inflasi kelompok volatile food dan peningkatan ekspektasi inflasi. Ini terkait rencana kenaikan harga BBM yang sudah menjadi wacana di masyarakat dalam bulan terakhir Triwulan III ini.

Sementara di sektor keuangan, tambah dia, secara umum stabilitas sistem perbankan masih terjaga. Data terakhir menunjukkan, NPL perbankan mencapai angka 5,0%(net) atau 8,9% (gross), sementara CAR perbankan sebesar 18,9%. Intermediasi perbankan juga secara konsisten menunjukkan kenaikan mencapai 54,5%.

'' Namun berbagai perkembangan makroekonomi, seperti kenaikan harga BBM, meningkatnya suku bunga, dan melemahnya nilai tukar mengharuskan perbankan dapat mengantisipasi kinerjanya, terutama kualitas kredit dan kondisi likuiditas,'' katanya.

Prospek

Ke depan, kata dia, pertumbuhan ekonomi tahun 2005 dan 2006 diperkirakan akan sedikit lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, mencapai masing-masing 5,7% dan 5,9% atau sedikit lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,9% dan 6,1%. Adapun penurunan pertumbuhan ekonomi, terutama berkaitan dengan kinerja investasi.

Selain itu, kinerja ekspor diperkirakan juga akan lebih rendah sejalan dengan lebih rendahnya volume perdagangan dunia dari perkiraan semula. Dengan demikian, kinerja neraca pembayaran juga diperkirakan masih belum membaik.

Sedangkan di bidang harga, kenaikan harga BBM akan menjadi sumber tekanan inflasi ke depan.

Dengan memperhitungkan dampak langsung maupun tidak langsung dari kenaikan harga BBM yang ditetapkan Pemerintah, Bank Indonesia memperkirakan tingkat inflasi IHK dalam beberapa bulan ke depan meningkat cukup signifikan. Tekanan inflasi juga diperkuat faktor musiman terkait dengan hari besar keagamaan.(bn-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA