logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 NASIONAL
Line

Korban-korban Bom Bali (3-Habis)

Maunya Bulan Madu, Pulang Tak Bernyawa

MANUSIA hanya bisa berencana, Tuhan jua yang menentukan. Maksud hati ingin berbulan madu ke Bali, namun justru maut datang menjemput. Peristiwa tragis itu menimpa pasangan suami-istri asal Jepang, Akio Kawasaki dan Emi.

Akio merupakan satu-satunya warga Jepang yang tewas dalam serangan bom Bali II di Jimbaran dan Kuta. Jenazah pria berusia 51 tahun itu pada Selasa (4/10) tiba di Negeri Sakura.

Kepulangan Akio yang sudah tak bernyawa itu disertai oleh istrinya, Emi, yang luka-luka akibat pengeboman tersebut.

Perempuan berusia 42 tahun itu pulang dengan duduk di kursi roda. Bahkan, setibanya di Bandara Narita, Jepang, Emi langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Pasangan Akio-Emi baru menikah Juli lalu. Ini pernikahan kedua bagi Akio. Pengantin baru tersebut memilih berlibur ke Bali untuk menikmati bulan madu mereka.

Namun siapa sangka, justru pada saat-saat indah itulah maut menjemput Akio. Dia dan Emi sedang makan malam di salah satu restoran yang menjadi target pengeboman ketika peristiwa berdarah itu terjadi pada 1 Oktober lalu.

Akio bekerja sebagai staf administrasi di sebuah universitas di Kota Aomori, Jepang utara. Keluarganya langsung terbang ke Bali untuk mengidentifikasi jenazah Akio.

Jangan Takut

Bagi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik dia bisa memahami kedukaan warga asing yang menjadi korban bom Bali. Namun dia menilai dampak bom di Bali kali ini tidak akan separah kasus pengeboman pertama 3 tahun lalu. Dengan kerja sama dan bantuan sejumlah negara, industri pariwisata di daerah ini diharapkan akan segera pulih dan bangkit kembali.

Jero Wacik menuturkan dari data yang diperolehnya, tidak terjadi eksodus besar-besaran dari Bali pascaledakan.

"Baru saja tadi saya dapat data, 5 ribu turis yang datang dalam seharinya. Sedangkan yang berangkat, sekitar 6 ribu-an. Ini normal-normal saja," katanya.

Karena itu, dia dengan terus-terang menyatakan harapannya agar turis tetap mau berkunjung ke Bali. "Teror bom bisa terjadi di mana-mana. Kalau saat ini ada yang masih takut untuk datang, itu wajar. Tapi mudah-mudahan minggu-minggu depan mereka yang takut sudah mau datang berkunjung ke Bali," harapnya.

Kehidupan di Bali sendiri, kata dia, sudah kembali normal. "Saya sudah lihat di mana-mana, kehidupan masyarakat di sini sudah normal. Jadi, agar tujuan teror itu tidak tercapai maka kita harus melanjutkan kehidupan dan kegiatan kita. Kalau kita takut, tujuan teror itu tercapai."

Sebagai satu langkah konkret memulihkan kunjungan wisawatan manca negara itu, Jero Wacik menuturkan pihaknya sudah menggalang kerja sama dengan pemerintah Singapura. "Dalam pertemuan di Istana Tampaksiring kemarin, disepakati untuk membuat kerja sama pariwisata dan penerbangan dengan Singapura.'' (dtc-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA