logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 MURIA
Line

Mengais Latung di Sumur Minyak Tua (2-Habis)

Belum Sebulan Hasilkan Tujuh Tangki

PADAT teknologi dan modal serta berisiko tinggi tampaknya benar-benar berlaku pada industri minyak. Demikian pula dalam dunia pengelolaan sumur minyak tua. Selain itu, tingkat spekulasinya juga relatif tinggi, menyusul peta potensi kandungan minyak di sumur tua hingga saat ini tidak diketahui pasti.

Hanya, ujar Sulatin -salah seorang penambang-, dari tiga sumur tua yang saat ini ditambang dan sudah bisa menghasilkan minyak mentah ternyata hasilnya lumayan. Menurut keterangannya, belum ada satu bulan bisa menghasilkan tujuh tangki minyak mentah dengan tiap tangki rata-rata 5.000 liter.

Dalam pemasaran hasil penambangan, warga atau anggota kelompok penambang selama ini tidak menemui hambatan berarti. Jika minyak mentah sudah terkumpul, sudah ada truk tangki milik koperasi Pertamina yang datang mengambil. "Saat ini, minyak mentah yang diambil oleh Koperasi Pertamina itu dihargai Rp 160 tiap liter," ujar Latin.

Dia mengemukakan, mungkin bagi orang awam akan sulit membayangkan bagaimana menambang minyak secara tradisional. "Namun bagi yang sudah tahu caranya, tentu saja tidak serumit yang terbayangkan," ucapnya.

Dia mengutarakan, meski bagi orang yang sudah berpengalaman tidak menemui kendala untuk menambang minyak dengan cara tradisional, pengelolaan sumur peninggalan Belanda bukan berarti mudah dan tanpa risiko.

Dia mencontohkan, untuk membuka sumur minyak tua ternyata tidak sembarang orang bisa melakukan. Misalnya di Semanggi, khusus untuk membuka sumur harus mendatangkan tenaga ahli dari Wonocolo. Ini mungkin tenaga-tenaga ahli itu sudah mempunyai pengalaman saat menambang di Wonocolo.

Cukup Mahal

Lantas, kira-kira berapa biaya untuk membuka satu sumur? Menurut keterangan Latin, biaya pembukaan sumur tua menyesuaikan tingkat kesulitan di tiap-tiap sumur. "Yang jelas, tidak cukup Rp 10 juta untuk membuka satu buah sumur," tandasnya.

Dia mengemukakan, kedalaman sumur-sumur tua itu rata-rata 300 meter dan kebanyakan kondisi pipanya sudah banyak yang terkikis sehingga tidak jarang untuk membuka sebuah sumur membutuhkan waktu berbulan-bulan. Untuk mengambil pipa-pipa itu perlu tenaga ahli karena tingkat kesulitannya berbeda antara sumur satu dan sumur lainnya.

Begitu pipa bisa terangkat ke atas, penambang tidak serta-merta langsung menimba minyak tetapi harus melalui tahap pembersihan sumur yang rata-rata membutuhkan waktu sekitar dua minggu.

"Walau dalam pengurasan itu penambang sudah bisa mendapatkan minyak, jumlahnya relatif sedikit. Ini lantaran kotoran dan kandungan airnya juga masih banyak."

Setelah tahap pembersihan sumur ini selesai, baru penambang bisa mengais sisa-sisa minyak dengan cara tradisional. Caranya, timba yang dikaitkan dengan tampar besi ukuran besar dihubungkan dengan mesin truk kuno. Mesik truk berfungsi memasukkan dan mengangkat timba.

Timba dari dasar sumur yang terangkat tidak seluruhnya berisi minyak tetapi masih bercampur air. Nah, untuk memisahkan minyak dan air, penambang dengan cara tradisional pula. Yaitu memanfaatkan berat jenis minyak yang lebih ringan daripada air sehingga posisinya berada di atas.

Dengan membuat bak penampungan, penambang cukup mudah memisahkan dengan membuka keran bak penampungan. Posisi air yang ada di bawah akan terbuang sehingga yang tersisa tingggal minyak tanah.

Tentu saja, seandainya potensi minyak pada sumur minyak tua di Desa Semanggi itu relatif besar, penambangan tradisional di tempat itu dan juga pada sumur-sumur minyak tua di Blora lainnya sungguh prospektif.

Andai saja sumur-sumur itu kelak pengelolaannya di tangan Pemkab, bukan tidak mungkin bisa menyejahterakan warga Blora termasuk bisa mendatangkan pemasukan ke kas daerah.

Persoalannya, apakah ke-86 sumur minyak tua di Desa Semanggi itu semua mempunyai kandungan minyak yang cukup besar atau minimal sama dengan tiga sumur yang saat ini sudah dikelola warga. Ini tampaknya yang masih menjadi misteri. Realitas di lapangan, konon Pertamina tidak lagi mengeksploitasi sumur-sumur tersebut. Karena menurut perhitungan, penggunaan alat pengeksploitas sumur minyak tua itu tidak seimbang dengan hasilnya. Kesimpulannya, kemungkinan kandungan minyak di sana minim sehingga tidak memungkinkan adanya pengelolaan dengan mesin.

Benarkah kandungan minyak pada sumur tua di Blora termasuk yang ada di Desa Semanggi memang kecil? Sekadar catatan, berdasarkan penuturan salah seorang penambang tradisional, saat ini ada investor besar dari Jakarta yang tengah megincar pengelolaan sumur minyak tua di Banyuasin yang masih berlokasi di Blok Semanggi.

Mbah Wakiban, laki-laki yang mengaku kelahiran 1921 (saat ini usianya 84 tahun) dan hafal betul dengan keberadaan sumur-sumur tua peninggalan Belanda di Desa Semanggi menuturkan, "Ya, kalau masalah sumur tua di sini, meski tidak pas banget, saya bisa cerita. Sebab, dahulu sewaktu penjajahan Belanda, saya pernah bekerja di lapangan minyak itu."

Dia masih ingat betul, ketika penjajahan Belanda, kegiatannya hanya sebatas pengeboran. "Waktu itu Belanda hanya mengebor. Setelah selesai ditutup dan pindah di tempat lain. Di tempat baru ini juga sama, begitu selesai mengebor, mereka menutup sumur begitu saja. Belum sempat dikelola, keburu datang Jepang," tuturnya.

Dia mengungkapkan, seingatnya proses eksploitasi minyak di Semanggi baru katika Amerika Serikat dan Inggris masuk ke Indonesia. Kemudian berlanjut ke Pemerintah RI dan kini berada dalam penanganan Pertamina. (Urip Daryanto-61j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA