logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 MURIA
Line

Awak Angkot Mengadu ke Polres Pati

  • Sering Jadi Korban Pemalakan

PATI - Lebih dari 100 awak angkutan kota (angkot) jurusan Pati-Kaliampo, Pati-Trangkil, dan Pati-Juwana, Selasa (4/10) pagi sekitar pukul 10.00 beramai-ramai mendatangi Mapolres di Jalan Ahmad Yani.

Mereka berunjuk rasa bukan menuntut kenaikan tarif penumpang melainkan karena sering menjadi korban pemalakan dan pungutan liar sekelompok penjual jasa (makelar) di Subterminal Pasar Puri. Bahkan, awak angkuta Pati-Juwana mengaku terkena pungutan tidak hanya di sekitar pertigaan Tugu Sukun tetapi juga di Jembatan Maling Mati.

Hal tersebut diungkapkan perwakilan juru bicara angkot jurusan itu, Asharto, ketika diterima Kabag Operasional Polres Pati Kompol Charto Nuryanto di Aula Mantap Brata. Untuk itu, mereka meminta aparat kepolisian memahami dan memberikan perlindungan.

Sebab, risiko menyangkut informasi tentang masalah tersebut yang mereka sampaikan kepada polisi pasti berdampak pada ancaman. Apalagi setiap kali melintas di Jembatan Maling Mati, jika sebelumnya terkena pungutan Rp 1.000, mulai sekarang naik lagi menjadi Rp 1.500.

Pungutan itu dilakukan oleh Bedhek dan Sulistyo, warga Langgenharjo, Kecamatan Juwana. Selain itu, awak angkot juga terkena pungutan di pertigaan Tugu Sukun yang semula sekali lewat hanya Rp 700 kini Rp 1.000.

Pemungutnya setiap Senin mengenakan seragam SPSI dan berjumlah dua orang. Mulai pagi sekitar pukul 05.00 hingga pukul 12.00 dilakukan Jono dan setelah itu hingga sore hari oleh Marno Brewok. ''Yang kami tanyakan, uang hasil pungutan itu larinya ke mana?''

Meringankan

Dia tidak sependapat jika makelar dihilangkan. Sebab, hal itu justru akan menjadi penyebab munculnya pemungut-pemungut liar secara tidak terkendali. Yang diharapkan awak angkot Pati-Juwana adalah jaminan rasa aman setiap singgah di Pasar Puri atau melintas di Jembatan Maling Mati dan pertigaan Tugu Sukun.

Di samping itu, mereka juga meminta agar pengutan dari makelar tersebut jangan terlalu memberatkan. Sebab, dampak kenaikan harga BBM yang tinggi itu sangat berpengaruh pada penghasilan mereka sehari-hari.

Juru bicara awak angkutan kota jurusan Pati-Kaliampo, Sugiman, warga Desa Langse, Kecamatan Margorejo mengeluhkan hal yang sama. Yaitu kenaikan pungutan di subterminal angkutan Pasar Puri yang semula hanya Rp 1.500 sekali keluar membawa penumpang, kini setelah harga BBM naik menjadi Rp 2.000.

Seharusnya pungutan itu dihapus dan diganti dengan tanda retribusi. Sementara itu juru bicara awak angkutan kota jurusan Pati-Trangkil Achmad Amrullah menuturkan, selain pungutan Rp 2.000, untuk angkutan jurusan tersebut juga masih kena tambahan pungutan Rp 1.000 sehingga jumlah total Rp 3.000.

Sebagai tindak lanjut dari aksi demo para awak angkot tersebut, pada hari itu juga sekitar pukul 11.00, aparat kepolisian menjemput dua orang yang mereka sebut sebagai makelar Puri. Mereka adalah Sudarmo dan Agus yang dibawa ke Mapolres untuk menjalani pemeriksaan.

Menurut keterangan kedua pemalak itu, mereka menaikkan uang jasa karena para sopir angkot itu juga menaikkan tarif penumpang. ''Namun, apa yang kami lakukan sifatnya sukarela. Jika mereka keberatan, kami dan teman-teman tidak memaksa,'' tandas Sudarmo. (ad-15j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA