logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Pedagang Tolak Pembongkaran Pasar Johar

SEMARANG - Para pedagang rata-rata menolak pembongkaran bangunan Pasar Johar. Bangunan peninggalan Thomas Karsten tersebut sebaiknya cukup diperbaiki, tanpa harus menghilangkan bentuk aslinya. Hal itu dilontarkan Ketua Forum Masyarakat Pedagang Semarang (FMPS) Agus Tyanto SAg, Selasa (4/10).

Dia mengatakan, FMPS sudah mengumpulkan tokoh-tokoh pedagang dan dilanjutkan dengan penyebaran angket.

Hasil angket memang belum terkumpul seluruhnya. ''Namun informasi sementara yang saya terima dari mereka, rata-rata pedagang menginginkan pasar diperbaiki, tanpa menghilangkan bangunan bersejarah ini,'' kata dia.

Jumlah anggota FMPS di seluruh Kota Semarang mencapai 7.000 orang.

Khusus untuk Pasar Johar dan sekitarnya, jumlahnya sudah mencapai 3.000 orang. FMPS juga akan membentuk tim khusus, terkait dengan persoalan Pasar Johar. Tim terdiri atas para pakar dari berbagai bidang keilmuan, termasuk arsitek, ahli hidrologi dan sejarah.

Mereka diharapkan dapat memberikan berbagai masukan, terkait dengan persoalan di Johar. Masalah itu antara lain mengenai konstruksi bangunan, rob, banjir, sejarah, serta penataan pedagang.

Saat ini, FMPS sedang berusaha mencari pakar-pakar independen, sehingga rekomendasi yang mereka berikan benar-benar bisa dijadikan acuan. ''Dalam mempertahankan Johar, kami tidak akan asal omong.''

Agus menyebutkan, mengenai daya tampung pasar, Pemkot sebenarnya masih bisa membangun Pasar Yaik serta bekas gedung bioskop dan pertokoan Kanjengan. Tempat-tempat itulah yang nantinya untuk menata pedagang. ''Sebagian besar pedagang setuju pasar itu ditata,'' papar dia.

Menyesalkan

Anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Widya Wijayanti, menyesalkan ucapan Komisaris PT Java Development Propertindo Joko Setiyanto yang menyatakan upaya mempertahankan Johar sebagai bentuk peneguhan karya penjajah.

Ucapan itu menunjukkan betapa dia tidak paham soal heritage dan pelestariannya. Padahal yang bersangkutan mengaku sebagai Ketua Ambarawa Heritage.

Rencana pembongkaran Pasar Johar, imbuhnya, merupakan tindakan yang tidak menghargai prinsip pelestarian benda cagar budaya. Pasar terbesar di Kota Semarang itu dibuat melalui proses yang panjang. Karsten membutuhkan waktu 10 tahun untuk merancangnya secara rinci. Ia bahkan membuat Pasar Jatingaleh dulu sebagai pilot project. Menariknya, proses itu dia tulis sebagai bahan pembelajaran. (G6,H6-18d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA