logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Memasak sambil Menghibur Tamu

MEMASAK sambil menghibur tamu hotel sudah menjadi pekerjaan sehari-hari Salehin, Executive Chef (koki) Hotel Novotel. Di Restoran Citrus, bujang kelahiran Lombok 1971 ini memperlihatkan keterampilannya mengolah masakan. Mulai meracik bumbu, menyiapkan bahan hingga memasaknya.

Hal itu dilakukan di depan tamu. Kadang, tangan Salehin yang cekatan melakukan gerakan-gerakan atraktif yang mengundang decak kagum para tamu saat live cooking tersebut.

Interaksi dengan tamu pun dilakukan. Dengan terbuka dan detail dia menjelaskan kepada setiap tamu yang ingin mengetahui bumbu masakan, cara memasak, atau hanya sekadar tanya saus pengiring masakan yang tepat untuk menikmati sebuah hidangan.

Live cooking tersebut, menurut Salehin, sudah menjadi ciri khas hotel-hotel bisnis seperti Novotel. Para tamu yang sebagian besar pebisnis tersebut, biasanya tidak ingin menunggu terlalu lama masakan yang dihidangkan. Mengingat, waktu mereka sangat terbatas. Tak heran, konsep makanan cepat saji ''Eat & Go'' pun lebih disenangi. Tidak lebih dari 15 menit, masakan segar dan hangat pun bakal siap disantap.

''Padahal, bangunan-bangunan itu memiliki karakteristik yang khas. Terkadang bahkan tidak dapat ditemui pada bangunan lain di Semarang,'' tuturnya.

Bangunan-bangunan itu, kata dia, memenuhi kriteria pencalonan. Tetapi kondisinya terbengkalai atau pemanfaatannya tidak optimal. Berdasarkan UU Benda Cagar Budaya No 5/1992, kriteria bangunan dilindungi adalah sudah berusia paling tidak 50 tahun.

Bangunan itu juga harus mewakili masa gaya yang khas dan paling sedikit berusia 50 tahun. ''Bangunan itu juga harus mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan,'' tutur Widya.

Beberapa anggota tim juri seperti Darmanto Jatman dan Ir Totok Rusmanto MEng mengusulkan agar Pasar Johar segera diberi tanda sebagai bangunan kuno yang terancam.

Pemberian Insentif

Budayawan Darmanto Jatman yang menjadi salah satu juri mengusulkan agar Pemkot memberi penghargaan berupa insentif bagi pemenang Urban Heritage Award. Dia juga mengusulkan agar insentif yang diberikan kepada masing-masing kategori dibedakan.

''Kantor Pertamina di Jl Pemuda, misalnya, tentu saja dirawat karena perusahaan itu memiliki dana. Berbeda dari rumah tinggal di Genuk yang hingga sekarang masih terawat dengan baik. Warga Genuk itu pantas menerima insentif yang lebih besar,'' usulnya.

Koordinator Supporting Staf Desk Program 100 Hari, Ir M Farchan mengatakan, penghargaan itu memberikan motivasi untuk melestarikan bangunan kuno. Menurutnya, Pemkot berusaha membebaskan pajak daerah dan retribusi bagi pemilik bangunan kuno.

''Pemkot juga berusaha mengusulkan agar pemerintah pusat memberi keringanan Pajak Bumi Bangunan (PBB) atau bahkan membebaskan bagi pemilik bangunan,'' ungkapnya.

Pemaparan tim juri merupakan bagian dari penilaian. Pengumuman lomba yang rencananya dilaksanakan akhir bulan lalu, diundur hingga 15 Oktober mendatang. Pengunduran itu, menurut Farchan, bertepatan dengan momentum Pertempuran Lima Hari di Semarang. (H5,H9-18s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA