| Rabu, 05 Oktober 2005 | SEMARANG |
Dugderan Gaya BaruDari Masjid Besar Kauman ke Masjid Agung Jateng"...Ingsun tampa pepuntoning halaqoh saka para ulama ing saindhenging wewengkon Semarang, wiwit saka Mangkang tumekeng Mrican, saka Gunungbrintik tekan Gunungpati, saka Bubukan nganti Jabalkat..." KALIMAT tersebut terurai dari bibir Kanjeng Bupati Semarang RMTA Aryo Purboningrat yang diperankan Wali Kota Sukawi Sutarip, setelah menerima hasil halakah (sidang para ulama) tentang awal Ramadan dalam bahasa Jawa. Kanjeng Bupati yang berpakaian busana semarangan itu melafalkannya di hadapan para tamu undangan di halaman Masjid Agung Semarang (Kauman), Selasa (4/10) petang. Di halaman masjid tua tetenger Kota Semarang itu ribuan masyarakat berdesakan ingin melihat jalannya prosesi ritual dugderan 1426 H. Penyelenggaraan ritual dugderan itu cukup memberikan gambaran prosesi serupa yang dilakukan pada abad XVIII. Ritual di Masjid Besar Kauman dimulai sekitar pukul 15.00. Bupati RMTA Aryo Purboningrat berjalan menuju ke arah Masjid Kauman diiringi Blantenan ''Salawat Badar''. Di barisan depan, ada dua pembawa manggar kembar mayang dan pasukan Prajurit Patangpuluhan. Mereka membawa tombak pusaka Masjid Kauman, yakni Kiai Pleret, Kiai Mojo, dan Kiai Puger. Sesampai di depan masjid, Bupati disambut Komandan Prajurit Patangpuluhan yang diperankan Lurah Kauman Drs Arwin Helmi. Setelahnya, masih di area depan masjid, Bupati kembali menerima penyampaian hasil halakah dari Kiai Penghulu Tafsir Anom KH Hanief Ismail Lc. Bupati kemudian menerima halakah dalam Bahasa Jawa bahwa bulan puasa sudah tiba. Dalam pemberitahuan itu disebutkan penentuan kedatangan Ramadan sudah dilakukan melalui rukyat, hisab, dan pengumuman Departemen Agama (Depag) Republik Indonesia. Seusai pembacaan pengumuman itu, Bupati menabuh beduk 17 kali sebagai penggambaran jumlah rakaat shalat sehari semalam. Sesaat setelah bunyi beduk usai, dari halaman luar Masjid Agung terdengar gelegar suara meriam. Suara meriam itu sempat mengangetkan para tamu undangan dan rombongan. Bahkan sang Bupati pun beberapa kali tersentak kaget kala dentuman meriam membahana lima kali. Pawai Dugder Selama prosesi ritual berjalan, ribuan warga Kota Semarang kemarin memadati sepanjang Jl Pemuda untuk menyaksikan pawai dugder. Pawai yang dimulai dari Balai Kota Semarang menuju ke Masjid Besar Kauman tersebut dimulai pukul 14.00 dan dilepas oleh Wali Kota H Sukawi Sutarip. Kegiatan dimulai dengan karnaval warak ngendhok dari 16 kecamatan, mobil hias dari sejumlah sekolah Islam, juga Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Setelah rombongan karnaval lewat, Wali Kota disertai Muspida plus, para pejabat Pemkot, dan anggota DPRD menempuh perjalanan ke Masjid Besar Kauman Semarang dengan naik bus. Wali Kota dan para peserta karnaval mengenakan pakaian adat semarangan. Karnaval itu menempuh rute Balai Kota-Jl Pemuda-Masjid Besar Semarang. Sesampai di perempatan depan Hotel Dibya Puri, rombongan Wali Kota belok kanan, masuk ke Jl Aloon-aloon Barat menuju Masjid Kauman. Sementara itu peserta karnaval lainnya belok ke kiri, lewat Jl Kolonel Sugiono, Jl Mpu Tantular, dan berakhir di Polder Tawang. Seusai penyampaian hasil halakah, rombongan Wali Kota bergerak ke Masjid Agung Jateng di Jl Gajah Raya. Rombongan itu bermaksud sowan kepada Pengageng Kasunanan Surakarta di Semarang untuk menyerahkan suhuf (lembaran) hasil halakah. Wali Kota didampingi Pengageng Masjid Besar Kauman Semarang H Hasan Thoha Putra MBA dan Imam Besar KH Hanief Ismail Lc. Sementara itu, Gubernur sebagai Pengageng Kasunanan Surakarta di Semarang didampingi oleh Pengageng Masjid Agung Jateng Drs H Achmad dan Kiai Pengulu Tafsir Anom yang diperankan oleh Kakanwil Depag Jateng Drs Chabib Thoha MA. Serupa dengan acara di Kauman, di Masjid Agung Jateng itu Gubernur juga memukul beduk yang lantas disambut dentuman meriam. Kedua bebunyian itu merupakan tanda khas bagi rakyat Semarang bahwa Ramadan telah tiba. Dug...dug...dug. Der...der...der. (Fahmi ZM, Rukardi, Achiar MP-62n) |