| Rabu, 05 Oktober 2005 | KEDU & DIY |
Ramadan: Revolusi Karakter Warga MagelangOleh: SuliswiyadiMAGELANG sering dikatakan sebagai barometer karena di tempat inilah karakter calon pemimpin bangsa digembleng, dibina, dan dididik. Kota Militer barangkali julukan yang selama ini melekat pada nama Magelang. Dari kota kecil ini muncul calon-calon pemimpin bangsa yang berkarakter, sehat jasmani, cerdas intelektual dan mentalnya. Pembentuk karakter bangsa sebenarnya bukan monopoli kaum militer dan lembaga pendidikan saja, tetapi juga upaya peran serta penguasa pemerintah daerah untuk mendidik warga masyarakatnya. Sebab, kehidupan masyarakat adalah realitas empirik dengan segala problema yang mengalami fluktuasi dan membutuhkan penanganan yang arif dan serius. Ketidakmampuan dalam menghadapi problema hidup akan mengakibatkan karakter negatif yang pada gilirannya mengancam eksistensi manusia sebagai warga masyarakat. Kenaikan harga BBM barangkali satu fenomena yang menyentak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Banyak pemandangan menarik sekitar proses kenaikan BBM, termasuk perilaku warga saat antre, demo mahasiswa dan masyarakat serta keresahan masyarakat akan kenaikan harga segala kebutuhan hidup yang melambung. Energi alternatif Kehadiran Ramadan jangan dimaknai sebagai pembebanan hidup di tengah keresahan hidup. Seperti sering kita dengar ungkapan warga masyarakat ''wah edan tenan, sebentar lagi puasa. Seharusnya kita jadikan puasa sebagai motivasi hidup dan pembentuk karakter umat. Dikatakan energi alternatif bukan sebuah tawaran bahan bakar pengganti BBM, tetapi Ramadan yang dimaknai pembakaran adalah energi (sarana ibadah) yang memberikan fungsi revolusi karakter. Revolusi karakter adalah transformasi nilai menjadi realitas empirik dalam proses cukup panjang yang diawali kesadaran iman sampai terjadinya konversi (kualitas takwa). Suasana penuh ketaatan yang terbentuk pada bulan suci ini akan mempererat ukhuwah dan menciptakan rasa solidaritas. Mereka yang mendapatkan amanat kekayaan dari Allah bisa merasakan lapar dan dahaga sehingga muncul kecintaan dan kasih sayang kepada sesama manusia. Secara filosofis konstruksi Magelang identik dengan ketangguhan akar Gunung Tidar, tak terkecuali struktur warga masyarakatnya. Kondisi ini telah melahirkan karakter fisik masyarakat Magelang. Namun disadari bahwa perkembangan karakter selalu terkait antara karakter fisik dan mental. Di sinilah letak kekuatan karakter manusia bila terjadi perpaduan. Kehadiran Ramadan bagi penguasa, lebih-lebih penguasa yang muslim, perlu dijadikan sebagai sarana untuk melakukan kepemimpinan yang membumi. Artinya, ia tidak bertengger di singgasananya, tetapi mereka selalu hadir di tengah-tengah warga masyarakatnya untuk memberikan keteladanan dan berbagai aksi seperti ketika mereka kampanye akan nyalon wali kota. Pembentukan karakter mental yang paling urgen adalah kesadaran beragama. Nah, dari sini penguasa harus mendampingi proses revolusi karakter dalam momen ibadah puasa selama sebulan, sekaligus ajang untuk introspeksi. Aspek-aspek tawaran sebagai bekal Ramadan untuk penguasa itu pertama, berikan penyadaran kepada masyarakat bahwa bulan ini adalah bulan untuk melakukan upaya-upaya sadar akan keimanan mereka. Kedua, berikan pengawasan dan teguran terhadap penyalahgunaan aktivitas (penjual minuman keras, hotel, lokalisasi) yang dapat mengganggu Ramadan. Ketiga, pendekatan kepada para duafa (orang-orang lemah) dengan memberikan penjelasan akan fungsi dan prosedur dana kompensasi BBM. Di samping itu, karena status sosialnya setingkat di atas mereka, memberikan sedekah sebagai wujud ketundukan kepada Allah perlu dimanifestasikan. Keempat, memperkuat nilai-nilai kemasyarakatan dengan melakukan safari shalat tarawih dari masjid ke masjid sekaligus sebagai pembentukan character building, tidak sekedar datang ninggali bantuan meskipun hal ini selalu diharapkan. (55n) - Penulis adalah Pembantu Rektor I Universitas Muhammadiyah Magelang,
juga pemerhati masalah sosial, pendidikan, dan agama.
|