| Rabu, 05 Oktober 2005 | INTERNASIONAL |
Bom Tas Punggung Jadi Modus BaruBOSTON - Tas punggung yang bisa dipakai untuk membawa bom-bom kecil kini termasuk ancaman utama bagi keamanan dunia, kata para pakar Senin lalu. Mereka mengaitkan ledakan bom di Bali akhir pekan lalu dengan serangan di London bulan Juli lalu. Militan dari Amerika Serikat sampai Eropa dan Asia Tenggara menggunakan bom mobil dan truk - dan kadang pesawat - untuk membuat pernyataan dramatis. Namun kini bom-bom kecil yang mudah dirakit, seperti yang digunakan di London, tampaknya menjadi tren baru. Kelompok yang berkaitan dengan Al Qaedah dan menjadi pusat penyidikan Indonesia, menyusul pengeboman di restoran-restoran di Bali Sabtu lalu, itu tampaknya mendapat inspirasi dari serangan di London, jelas para pakar. ''Pelaku bom bunuh diri gaya London (seperti yang terjadi di Bali Sabtu lalu) tampaknya beralih dari bom-bom truk ke bentuk yang kecil,'' kata Zachary Abuza, pakar tentang militansi Islam di Asia Tenggara di Boston's Simmons College. Pihak berwenang AS memperingatkan warganya terhadap ancaman dari bom rakitan kecil setelah serangan 7 Juli lalu di sistem transit London yang menewaskan 56 orang. Hal itu membuat New York memberlakukan siaga paling tinggi sejak serangan kamikaze 11 September 2001. Namun sebagian besar keamanan itu telah dikendurkan. Polisi telah membongkar pos-pos pemeriksaan, mengurangi patroli subway, dan melepaskan anjing-anjing pelacak bom di kereta-keretacommuter New York. Pelaku Bom Bunuh Diri Para pakar keamanan seperti Arnold Howitt dari Sekolah Pemerintahan Kennedy, Harvard, mengatakan serangan seperti yang terjadi di Bali yang melibatkan bom-bom yang sulit dideteksi itu sangat mudah dilakukan di AS. Bahan-bahan pembuat bom mudah dicari dan jalan-jalan untuk keluar di restoran-restoran dan kereta api sangat banyak. Namun dia mengatakan satu unsur tampaknya hilang: pelaku bom bunuh diri. ''Cara paling efektif untuk melancarkan serangan jenis ini adalah lewat pelaku bom bunuh diri, sayangnya AS tidak punya pasokan pelaku bom jibaku pribumi,'' jelasnya. Menurut Abuza, kemudahan memasukkan bom ke dalam tas punggung tampaknya memengaruhi pelaku bom Bali. Rekaman video amatir yang disiarkan di Bali Minggu lalu menunjukkan seorang pria memasuki restoran, yang segera disusul dengan ledakan. Serangan itu bertolak belakang dengan bom truk yang diledakkan di dekat Kedubes Australia di Jakarta tanggal 9 September 2004 yang menewaskan tiga orang. Begitu juga dengan bom mobil di luar Hotel JW Marriott Jakarta tahun 2003, yang menewaskan 12 orang. ''Peralihan dari bom truk besar ke orang dengan bom kecil seberat lima kilogram di punggung itu sangat berarti. Bagi saya, perubahan itu berbicara banyak tentang sumber-sumber yang mereka punyai maupun tidak. Bom-bom mobil merupakan operasi yang sangat mahal,'' jelas Abuza. (rtr-niek-26) |