| Rabu, 05 Oktober 2005 | INTERNASIONAL |
Uni Eropa Menyambut TurkiLUKSEMBURG - Uni Eropa (UE) dan Turki akhirnya memulai perundingan mengenai keanggotaan negara muslim itu di dalam blok Eropa, kemarin pagi. Namun Turki menegaskan tidak akan mengubah sikapnya mengenai Siprus. Menteri Luar Negeri Turki Abdullah Gul mengatakan di Luksemburg bahwa Ankara akan tetap memberikan dukungan politik dan ekonomi kepada etnis Turki di Siprus sampai pulau itu bersatu kembali kelak. Eropa menginginkan Turki mengakui pemerintahan Siprus (yang didominasi etnis Yunani) selama perundingan mengenai keanggotaan Turki di UE. Diperkirakan, proses perundingan itu bisa berlangsung 10 tahun. Dari Paris, Presiden Prancis Jacques Chirac juga mengimbau Turki untuk beradaptasi dengan standar nilai-nilai UE. Chirac melontarkan imbauan itu setelah dia bertemu dengan PM Italia Silvio Berlusconi. Turki mendukung pemisahan Siprus utara yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Turki-Siprus. Pulau itu terpecah sejak Turki menginvasinya pada 1974 setelah kalangan Yunani-Siprus melakukan kudeta militer untuk merebut kekuasaan. Turki hanya mengakui pemerintahan Republik Turki Siprus Utara (RTSU) yang jauh lebih miskin ketimbang Siprus selatan. ''Sikap kami tentang Siprus tidak akan berubah sampai ada penyelesaian krisis di sana,'' kata Gul dalam konferensi pers di Luksemburg, kemarin. Bersejarah Dia berada di Luksemburg untuk mengikuti perundingan bersejarah mengenai keanggotaan Turki di UE yang resmi dimulai kemarin pagi. Turki diterima dalam perundingan itu setelah UE berhasil mengatasi ganjalan terakhir, yakni keberatan Austria. ''Kita baru saja membuat sejarah,'' kata Menlu Inggris Jack Straw dalam jumpa pers bersama Komisaris UE Olli Rehn dan Menlu Turki Abdullah Gul. Setelah 40 tahun Turki melobi Eropa, para pemimpin UE melakukan pertemuan Desember lalu untuk memberikan kesempatan kepada negara muslim itu mengikuti perundingan mengenai keanggotaannya di blok Eropa tersebut. Namun Eropa nyaris gagal mencapai kesepakatan, lantaran Austria meminta Turki tidak mendapat keanggotaan penuh. Untunglah, Wina akhirnya mencabut permintaan itu pada menit-menit terakhir. Turki juga memperoleh apa yang diinginkannya, yakni prospek yang cerah untuk menjadi anggota penuh UE. ''Tidak ada pilihan lain,'' kata Gul. ''Bila saatnya tiba kelak, kami akan menjadi anggota penuh UE.'' Kendati demikian, sebagian besar jajak pendapat di Eropa menentang negara muslim yang miskin itu bergabung dengan UE.(rtr-ben-25) Jalan Panjang Menuju UE 12 September 1963 - Turki mencapai kesepakatan persahabatan dengan kala itu Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). 22 Juli 1970 - Turki dan MEE menandatangani perjanjian yang meramalkan keanggotaan penuh negara itu di blok Eropa tersebut. 12 September 1980 - Militer menggulingkan pemerintah dan memberlakukan kekuasaan militer. Hubungan dengan MEE akhirnya membeku. 15 April 1987 - Turki mengajukan keanggotaan penuh MEE. 3 Agustus 2002 - Parlemen Turki mengesahkan reformasi hak asasi manusia, termasuk menghapus hukuman mati. 3 November 2002 - Partai Keadilan dan Pembangunan yang konservatif, yang punya akar Islami, memenangi pemilihan umum. 30 Juli 2003 - Dewan Keamanan Nasional yang didominasi militer menghapus kekuasaan eksekutif sesuai tuntutan UE. 16 Januari 2004 - Romano Prodi, presiden pertama Komisi Eropa yang mengunjungi Turki sejak 1963 memuji kemajuan reformasi di Ankara. 7 Mei 2004 - Parlemen menghilangkan pengadilan keamanan negara yang digunakan untuk mengadili kejahatan politik dan melarang diskriminasi seks. 6 Oktober 2004 - Komisi Eropa merekomendasikan agar UE memulai perundingan keanggotaan baru dengan Turki, namun menyatakan negosiasi mungkin ditunda jika Ankara melanggar hak asasi. 17 Desember 2004 - UE dan Turki menyepakati satu perjanjian, yang menyebutkan perundingan keanggotaan akan dimulai Oktober 2005. 7 Maret 2005 - Satu tim pejabat tinggi UE yang mengunjungi Ankara mendesak Turki melakukan seluruh reformasi hak asasi. Turki membantah anggapan negara itu lamban dalam persiapan menuju UE. 24 Mei 2005 - Turki menunjuk Menteri Ekonomi Ali Babacan untuk mengetuai tim negosiasinya dalam perundingan dengan UE. 16 September - Negara-negara anggota UE kembali gagal menyepakati respons atas penolakan Turki mengakui Siprus. 1 Oktober 2005 - Ketua Kebijakan Luar Negeri UE Javier Solana memprediksi bahwa kesepakatan akan dicapai untuk mengatasi perselisihan tentang hubungan Turki dengan blok itu. (rtr-niek-26) |