logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 EKONOMI
Line

Inflasi Jateng Terus Meningkat

SEMARANG-Akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di berbagai daerah beberapa waktu lalu, memicu peningkatan inflasi September 2005 hingga 1,16%. Angka inflasi ini cenderung tinggi bila dibandingkan dengan bulan lalu yang hanya 0,07%. Tingkat inflasi Jateng ini, juga lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang mencapai 0,69%.

Menurut Susiyono, Kepala Seksi Statistik Harga Konsumen Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, kenaikan tingkat inflasi itu juga dipicu sikap masyarakat yang segera menaikkan harga berbagai komoditas.

Inflasi Jateng ini ditentukan berdasarkan indeks harga konsumen dan inflasi gabungan empat kota, yakni Tegal, Semarang, Surakarta, dan Purwokerto. Inflasi tertinggi bulan September 2005, tercatat di Purwokerto dengan angka 1,20% dan terendah di Tegal yang mencapai 1,17%.

''Komoditas yang mengalami kenaikan harga di bulan September, antara lain beras, gula pasir, minyak tanah, dan bensin. Untuk kenaikan BBM itu, umumnya terjadi pada tingkat pengecer, seperti premium yang dijual hingga Rp 4.000 per liter, terlebih lagi menjelang penetapan pemerintah terhadap kenaikan harga BBM mulai 1 Oktober lalu. Kenaikan ini akhirnya berimbas pada meningkatnya ongkos angkutan dan barang dan jasa lain,'' katanya.

Tercukupi

Sedangkan untuk komoditas sayur-mayur mengalami penurunan harga, karena persediaannya di pasaran tercukupi.

Lebih lanjut Susiyono mengungkapkan semua komoditas berpotensi mengalami kenaikan menjelang Lebaran nanti, sehingga angka inflasi ini diprediksi akan terus mengalami peningkatan.

Sementara itu, berdasarkan kajian ekonomi regional Jateng yang dilakukan Bank Indonesia pada triwulan III tahun 2005 tekanan inflasi year of year mencapai 9,11%. Angka itu lebih tinggi dibanding triwulan II tahun 2005 sebesar 6,91%.

Menurut Amril Arief, Pemimpin Bank Indonesia Semarang faktor fundamental yang memicu inflasi triwulan ini, yakni meningkatnya ekspektasi inflasi akibat rencana pemerintah menaikkan harga BBM serta melemahnya nilai tukar rupiah.

''Hal ini tercermin dari hasil survey konsumen yang menunjukkan optimisme responden terhadap kenaikan harga yang semakin meningkat,'' katanya.

Selain itu, sumber tekanan inflasi dari faktor non-fundamental, berupa faktor musiman. Yakni kenaikan biaya pendidikan terkait dimulainya pembayaran sekolah untuk tahun ajaran baru, sehingga inflasi kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mencapai 7,89%. (mhr-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA