logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 05 Oktober 2005 BUDAYA
Line

Ontran-ontran Demak di SMA 5

SEMARANG-Beberapa waktu lalu, Teater Lima SMA 5 Semarang mementaskan lakon berbahasa Jawa ''Bedug Kumitir ing Glagahwangi'' di aula sekolah tersebut. Lakon karya Mulyani M Noor yang sekaligus sebagai sutradaranya itu disemangati oleh keinginan memasyarakatkan bahasa Jawa di lingkungan pelajar. Pada tahun pelajaran 2005-2006, Bahasa Jawa termasuk dalam kurikulum muatan lokal.

Sebelumnya, lakon tersebut juga telah dimainkan di Taman Budaya Jawa Tengah di Solo dan dalam waktu dekat akan ditampilkan di Demak.

Lakon yang menceritakan awal pendirian Kerajaan Demak itu cukup menarik dipanggungkan dengan paduan akting penuh kesedihan, ketegangan, tapi juga kelucuan yang memancing tawa.

Memang, sebagian besar pemain adalah siswa yang baru mengenal dunia teater. Tapi sutradara Mulyani mampu membesut mereka untuk berakting bagus, lugas, dan meyakinkan. Ilustrasi musik yang mengandalkan gaya musik klasik garapan Iwan Ardiyanto membuat sajian bertambah harmonis.

Yang paling menyedot perhatian adalah akting para cantrik yang dimainkan Ratna Puji, Isworo Rini, Nimas Rizki, dan Ayub. Gaya banyolan semarangan plus umpatan-umpatan khasnya memunculkan kesan kasar dalam kehidupan keseharian dan menjadi daya pikat tersendiri. Kesan kekasaran itu pudar dan berganti menjadi sesuatu yang mengocok tawa.

Kenapa bergaya semarangan? ''Secara historis dan kultural, Semarang dekat dengan Demak. Bahasanya hampir serupa. Selain itu, semangat mengusung muatan lokal sangat pas dengan bahasa Jawa gaya semarangan,'' jelas Mulyani M Noor.

Dengan kemasan seperti itu, tak heran, sekitar 750 penonton seperti yang dibuktikan lewat tiket yang terjual, terkesima dan larut bersama akting para pemain. Ledakan tawa bersama sering benar tercipta sepanjang pertunjukan.

Konflik

Secara garis besar, lakon ''Bedug Kumitir ing Glagahwangi'' berkisah mengenai tentangan awal pendirian Kerajaan Demak oleh Raden Patah. Penguasa Desa Glagahwangi bernama Aki Brahmo tak rela tanah yang dikuasai selama ini tiba-tiba diambil Raden Patah untuk membangun kerajaan. Konflik terjadi di antara dua tokoh tersebut.

Ketidakrelaan Aki Brahmo diwujudkan dengan menantang Raden Patah untuk beruji kesaktian. Aki takluk dan menyadari kekeliruannya. Apalagi tanpa dinyana dirinya, anak, dan istrinya adalah pendukung setia Raden Patah.

Di luar itu, pentas yang dikemas dalam gaya ketoprak itu memang memiliki sedikit kendala berupa sulitnya menggarap setting secara sempurna. Panggung pertunjukan di tempat yang terbuka juga menjadi kendala tersendiri, khususnya untuk vokal para pemain yang memang masih terbilang pemula. Meskipun telah ada peranti suara, namun tawa terus-menerus dari penonton ketika melihat aksi dan banyolan para pemain sering membuat vokal pemain tertutup. Walau begitu, pentas tetap berjalan dengan meriah. (G9-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA