| Rabu, 05 Oktober 2005 | BANYUMAS |
Pesantren RamadanSarana bagi Anak Belajar AgamaANAK-ANAK berbusana muslim tampak riang di sekitar Masjid Fatimatuzzahra, Karangwangkal, Purwokerto Utara, kemarin. Mereka sedang menanti pembukaan pesantren Ramadan di masjid itu. Ketika panitia mengumumkan pembukaan segera dimulai, mereka segera duduk dengan rapi. Para orang tua menyaksikan dari kejauhan dengan wajah berbibar ketika anak-anak menjawab salam para usdad. Selama menjadi santri, anak-anak itu dianjurkan memanggil sang guru dengan panggilan ustad dan ustazah. Ramadan tahun ini, Takmir Masjid Fatimatuzzahra mengadakan pesantren bagi anak-anak selama dua hari, 4-6 Oktober. Kegiatan tahunan itu selalu dibanjiri peminat, sehingga panitia membatasi jumlah peserta. Ketua Program Officer Pesantren Anak Triat Adiyuwono menuturkan peserta kali ini 187 orang. Mereka terdiri atas 86 anak perempuan dan 47 anak lelaki serta 30 remaja putri dan 24 remaja putra. ''Pendaftar cukup banyak. Namun kami batasi agar kegiatan berlangsung efektif,'' ujarnya. Setiap peserta membayar Rp 50.000 untuk biaya dua hari, buku, alat tulis, dan piagam. Ketika mendaftarkan sang anak, Aiptu Supriyanto dari Polres Banyumas tak percaya saat disodori kuitansi Rp 50.000. Namun saat dia bertanya apakah dana itu mencukupi, sang ustad menjawab, ''Mudah-mudahan cukup.'' SIMD Dia mengikutsertakan sang anak agar bisa mendalami agama. ''Ustad di sini baik-baik dan anak saya senang berada di lingkungan seperti ini,'' ujarnya. Peserta pesantren anak tahun ini dari SD Al Irsyad, SD Sokanegara, SD Kranji, dan beberapa SD di sekitar Unsoed. Adapun peserta remaja dari SMP Al Irsyad, SMP 8, dan SMP 2. ''Saya senang. Teman di sini baik-baik,'' kata Rojak, siswa kelas VI SD Al Irsyad. Sejak hari pertama peserta mengikuti shalat tarawih dan ceramah agama dengan materi nikmat berbuka puasa. Anak-anak yang harus tidur pukul 21.00 itu bangun pukul 01.30. Mereka bersiap jalan malam di lingkungan masjid, kemudian makan sahur. Setelah shalat subuh, mereka mengikuti tilawah Alquran. Anak-anak juga dilatih senam kesegaran jasmani. Setelah mandi, mereka baru mengikuti pendidikan agama dengan berbagai metode. ''Kami memilih metode dialog dan cerita agar anak-anak lebih tertarik bertanya,'' kata seorang ustad. Nilai-nilai yang ditanamkan kepada peserta, ujar Triat Adiyuwono, meliputi keteladanan, menghargai diri sendiri dan orang lain, optimistis, bertanggung jawab, rela berkorban, bisa bekerja sama, dan adil. Mereka juga mengikuti shalat duha, rawatib, berjamaah secara tepat waktu, tilawah Alquran serta memberikan infak dan sedekah. Juga berdoa sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah tidur, serta mendoakan orang tua dan menerapkan kerapian dan kebersihan. Santri akan diberi penghargaan secara individual dan kelompok berdasar standar aktivitas, kebersihan, dan kerapian. Santri yang melanggar peraturan diberi sanksi dengan metode "selalu ingin memperbaiki diri" (SIMD). Sebab, ujar seorang ustad, orang belajar dengan tujuan menjadi lebih baik. (Khoerudin Islam-53) |