| Rabu, 05 Oktober 2005 | BANYUMAS |
Minyak Tanah Eceran Rp 3.000/Liter
BANJARNEGARA - Meski kenaikan harga minyak tanah telah ditetapkan menjadi Rp 2.000/l, kenyataannya di tingkat pengecer melonjak hingga Rp 3.000, terutama di daerah jauh dari kota. Namun warga masyarakat tetap membeli karena khawatir kehabisan dan tak bisa memasak. Sementara itu, harga minyak tanah di pasar kota dan pasar darurat di Stadion Banjarnegara bervariasi antara Rp 2.650/l dan Rp 2.700. Harga itu menurut perkiraan beberapa pedagang akan stabil, meski memasuki Ramadan dan Idul Fitri. ''Kami tak berani mempermainkan harga karena masyarakat selalu meminta dalam jumlah banyak,'' ujar Kodri, pedagang di pasar darurat. Kepala Bagian Perekonomian Setda Sri Trisnainingsih menyatakan saat ini sedang menyurvei harga kebutuhan pokok dan harga pupuk, terutama di daerah atas. Survei dilakukan di Dieng, Batur, Wanayasa, dan sekitarnya. ''Biasanya di daerah itu harga melonjak tajam karena ongkos transportasi lebih mahal.'' Sulit Mengendalikan Dia mengakui belum menetapkan harga eceran minyak tanah tertinggi (HET) karena harus berkoordinasi dulu dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan. Dinas itu kini sedang menyurvei kebutuhan minyak tanah industri kecil. Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Susetyono mengakui jika harga eceran tertinggi tak segera ditetapkan, sulit mengendalikan jika harga telanjur membubung. Setidaknya, jika ada harga eceran tertinggi pedagang punya patokan harga yang wajar dan tak merugikan masyarakat. Sementara itu, harga eceran beras IR Rp 3.350/kg, cisadane Rp 3.250/kg, dan barito Rp 3.500/kg. Kenaikan antara Rp 100 dan Rp 200/kg. Adapun harga minyak goreng curah Rp 5.500/kg atau naik Rp 500/kg dari harga semula. Harga telur juga naik dari Rp 8.000/kg menjadi Rp 8.500/kg. Beberapa pedagang di pasar memperkirakan harga kebutuhan pokok yang lain akan naik. Kenaikan itu cukup variatif, seiring dengan peningkatan permintaan selama Ramadan dan Lebaran. (mos-53) |