| Senin, 03 Oktober 2005 | SALA |
Keberuntungan Hanya 10%, yang 90% Harus Berjuang
SOLO - Beberapa mahasiswa langsung mengangkat tangan ketika pembawa acara Ramlan Atmajaya bertanya, "Siapa mau hadiah?" Sambil berkeliling ruangan, Ramlan yang akrab dipanggil Ian itu, mengulang pertanyaannya, "Siapa mau hadiah?" Dan, disambut dengan angkat tangan sebagian besar mahasiswa. Baru pada pertanyaan serupa kali ketiga, dari belakang seorang mahasiswa maju dan mengambil hadiah yang ditawarkan Ian. "Nah, itu lo yang saya maksud. Kalau mau hadiah jangan hanya tunjuk jari tetapi berlarilah dan ambil hadiah yang disediakan," ujar Ian, Marketing Communication PT Indosat Tbk Cabang Solo. Itulah sekilas suasana sosialisasi dan audisi program Ayo Ma-gang Indosat yang digelar di Student Center (SC) UNS Surakarta selama dua hari hingga kemarin. Audisi yang kali pertama dilakukan Solo itu disambut antusias oleh para mahasiswa. Sebanyak 385 mahasiswa dari berbagai universitas ikut ambil bagian. Menurut pandangan Ian, agar bisa bertahan hidup di dunia yang penuh kompetisi seseorang tidak lagi dapat mengandalkan keberuntungan. Manusia harus berjuang dan pantang menyerah dalam mempertahankan hidupnya. "Keberuntungan hanya 10% dalam hidup manusia sedangkan yang 90% harus dengan perjuangan disertai memeras keringat. Bisa dilihat tadi, yang mendapat hadiah adalah yang bergerak maju dan mengambil hadiahnya sendiri dan tidak cukup hanya menunjukkan jari," tegasnya. Status Sosial Pada era sekarang, lanjut dia, orang masih tetap melihat status sosial orang lain dalam pergaulan dan pekerjaan. Sering kali orang hanya mau bergaul atau bersedia menyapa orang lain yang status sosialnya lebih tinggi. "Lihat saja tukang sapu. Sering orang melecehkan pekerjaannya, padahal itu pekerjaan mulia," ujarnya. Kepala PT Indosat Tbk Cabang Solo Taufik Maulana Raharja mengemukakan, program Ayo Magang Indosat bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara dunia kuliah dan dunia kerja serta memperkenalkan dunia kerja kepada para mahasiswa. Ajang tersebut dirancang agar para mahasiswa yang lebih banyak mendapat teori bisa membuktikan kemampuan praktiknya di lapangan, khususnya di bidang penjualan dan pemasaran. "Program ini sangat kompleks karena para peserta ditantang mendapatkan pelanggan produk perusahaan sebanyak-banyaknya," tandas Taufik. Dari 77 kelompok yang terdiri atas 385 peserta yang mendaftar program itu, hanya 50 yang terpilih. Dari 50 kelompok hanya dipilih 10 dan akan disebar ke berbagai kota, seperti Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Purwokerto. (G8-27j) |