logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Oktober 2005 RAGAM
Line

Tafakur, Jalan Mengenal Allah

MENERIMA kebenaran dan menemukan kebenaran adalah sesuatu yang berbeda. Menerima kebenaran cukuplah dengan bertaqlid (mengikuti), sedangkan menemukan kebenaran hanya akan diperoleh melalui pemikiran yang mendalam. Firman Allah: ''Allah menganugrahkan al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Alquran dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal. (Al Baqarah:269).

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: ''Janganlah kamu mengenal dan mengikuti kebenaran karena tokohnya; tetapi kenalilah kebenaran itu sendiri, niscaya kamu akan mengetahui siapa tokohnya !''. Akan lebih baik bila kita menemukan kebenaran dari hasil pemikiran sendiri daripada menerima suatu kebenaran dari hasil orang lain.

Berpikir terbukti merupakan pelita hati, karena itu apabila ia tidak dihidupkan maka hati akan gelap gulita. Orang yang serius berpikir tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan; ataupun tentang sakratulmaut, siksa kubur, maupun kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai di hari kiamat kelak, niscaya akan mendapatkan pencerahan jiwa.

Demikian besar keutamaaan bertafakur, sehingga Rasulullah pun pernah bersabda: ''Bertafakur sejenak lebih baik daripada ibadah satu tahun''. Mengapa Rasulullah bersabda demikian? Hal ini semata-mata karena beliau ingin menyelamatkan umatnya agar kelak tidak dijadikan untuk isi neraka, sebagaimana peringatan Allah dalam Alquran: ''Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mempunyai mata tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), mempunyai telinga tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai''. (Al-A'raf:179)

Dibelenggu

Walaupun keutamaan bertafaqur sudah demikian jelasnya, dan ancaman bagi yang tidak mau melakukannya sudah amat tegasnya, tetapi mengapa sedikit sekali orang yang mau betafaqur? Hal ini penyebabnya antara lain karena mereka membiarkan pikiran dan hatinya dibelenggu oleh kentalnya masalah keduniawian. Ketika hati seseorang dipenuhi oleh khayalan, impian mustahil, maka hidayah akan menjauh darinya. Dengan demikian, selama orang tidak mau memangkas hal-hal yang dapat merusak keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat di hatinya, maka selama itu pula ia akan lalai untuk bertafakur.

Sesungguhnya buah dari tafaqur adalah keyakinan-kayakinan Ilahiyyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan Rasull-Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat ditafakuri, antara lain:

- Bertafakur mengenai tanda-tanda yang menunjukan kekuasaan Allah; akan lahir darinya rasa tawadhu (rendah hati) dan rasa takzim akan keagungan Allah.

- Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan; akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah.

- Bertafakur tentang janji-janji Allah; akan lahir darinya rasa cinta kepada akhirat.

- Bertafakur tentang ancaman Allah; akan lahir darinya rasa takut kepada Allah.

- Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara Ia selalu mencurahkan karunianya kepada kita, akan lahir darinya kegairahan dalam beribadah.

Mengerti atau mengenal kebenaran saja tidaklah cukup. Karena Alquran mengatakan orang yang terhindar dari kerugian adalah mereka yang memenuhi empat kriteria:

1. Mengenal kebenaran.

2. Mengamalkan kebenaran.

3. Saling nasihat menasihati mengenai kebenaran.

4. Sabar dan tabah dalam mengamalkan serta mengajarkan kebenaran.

Tafakur merupakan jalan untuk mengenal/menuju Tuhan. Indikator keberhasilan tafakur adalah timbulnya motifasi-motifasi yang dapat memudahkan untuk taat melaksanakan aturan main yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasull-Nya. Pengalaman telah membuktikan, pekerjaan sesulit apa pun akan terasa menjadi ringan bila dilandasi dengan motifasi yang kuat. Motifasi yang tercipta lewat tafakur ini sifatnya sangat individual, artinya belum tentu dapat cocok bila digunakan oleh orang lain.

Rasulullah bersabda: ''Sebaik-baiknya yang tertanam di dalam hati itu adalah keyakinan; sedangkan keyakinan tidak bisa tertanam hanya melalui mata dan telinga saja, tetapi ia harus dibenamkan ke dalam bawah sadar oleh akal''.

Dengan demikian dapatlah kiranya dimengerti, mengapa ceramah agama atau pengajian yang kita ikuti seringkali tidak dapat menambah keyakinan kita. Hal ini tiada lain karena kita hanya menggunakan mata dan telinga saja, sementara akal dan hati yang kita perlukan untuk mencerna, kita tinggalkan di rumah !

Interaksi antara pikir dan dzikir akan menghasilkan keyakinan-keyakinan sebagai berikut :

- Tidak wajar bila kita stres pada waktu mengalami musibah, bukanlah hal ini merupakan realisasi dari permintaan kita.

- Bila Allah memberikan musibah, sebenarnya yang ingin Dia berikan pada kita adalah hikmah.

- Musibah adalah tanda cinta Allah kepada kita, yaitu Dia memberikan peluang bagi kita untuk meningkatkan ketaqwaan, bukankah manusia yang paling hebat itu adalah yang paling taqwa?.(Tim Kajian Qolbun Salim-12)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA