logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Oktober 2005 RAGAM
Line

Waspadai Kegemukan pada Anak-anak

SEBAGIAN besar orang tua akan senang melihat anaknya gemuk. Dalam pandangan mereka gemuk identik dengan sehat. Benarkah demikian? Memang, anak yang gemuk menunjukkan nafsu makan dan pertumbuhannya baik. Namun orang tua harus berhati-hati agar gemuk tidak berlanjut menjadi kegemukan atau obesitas.

Perubahan gaya hidup akibat peningkatan status sosial ekonomi menjadi pemicu utama kemunculan kasus kegemukan pada anak-anak, di samping faktor genetik.

Anak-anak dari kelompok masyarakat menengah ke atas sekarang lebih familiar pada jajanan atau makan cepat saji yang kaya lemak dan karbohidrat tetapi rendah serat.

Coklat, es krim, permen, aneka jenis kue, burger, piza, kentang goreng, dan berbagai merek ayam goreng kini mengepung mereka.

Selain lebih praktis, penampilan makanan tersebut biasanya sangat menarik dan menggugah selera. Apalagi disertai oleh iklan yang atraktif di berbagai media.

Ada kesan seolah-olah ketinggalan sekian puluh tahun di belakang jika tidak mengonsumsi. Jadilah anak-anak kita seringkali ''termakan'' iklan dan terbawa arus.

Nyaris tak ada pertimbangan mengenai kandungan gizi yang dibutuhkan ketika melahap berbagai jenis makanan atau jajanan itu.

Pola makan empat sehat lima sempurna yang dulu sangat populer, yaitu terdiri atas nasi, lauk-pauk, sayur, buah, dan susu, saat ini sudah tidak lagi dipedulikan.

Pola makan anak-anak sekarang berubah sangat luar biasa. Keseimbangan unsur-unsur gizi berupa karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral hampir pasti diabaikan.

Ada kecenderungan seorang anak makan bukan untuk mengatasi rasa lapar, melainkan untuk memenuhi kepuasannya terhadap makanan yang disenangi. Kalau belum puas maka belum akan berhenti.

Tak sedikit seorang anak berumur lima tahun makanannya mengandung 3.000 kalori dalam sehari. Jumlah itu luar biasa karena kebutuhan seorang anak usia 4-6 tahun hanya 1.600 kalori/hari.

Berarti ada kelebihan sekitar 1.400 kalori. Jika itu terjadi setiap hari maka dalam setahun kelebihan 500 ribu kalori lebih.

Kelebihan itu dalam perhitungan kasar akan diubah oleh tubuh menjadi setara 56 kg lemak sehingga dalam setahun berat badan si anak bertambah 56 kg. Betapa mengerikan!

Perubahan pola makan tersebut diikuti oleh gaya hidup yang tidak terlalu banyak aktivitas atau gerak. Antar-jemput sekolah dengan mobil saat ini sudah menjadi hal biasa bagi sebagian anak-anak.

Kalau pun tidak ada mobil pribadi maka masih ada sepeda motor yang sekarang makin gampang diperoleh atau tersedia cukup banyak alternatif angkutan umum.

Santai

Permainan anak-anak sekarang pun sebagian besar kurang menonjolkan gerakan fisik. Bermacam games dan play station cukup dimainkan sambil duduk santai atau bahkan tiduran.

Sangat berbeda dari permainan ''kuno'' anak-anak zaman dulu yang lebih banyak aktivitas fisiknya. Antara lain petak umpet, gobak sodor, lompat tali, dan sebagainya.

Jadi lengkap sudah faktor-faktor yang mendorong kasus kegemukan. Pola makan yang didominasi oleh karbohidrat atau lemak ditambah kurang gerak sehingga energi berupa kalori menumpuk.

Kegemukan timbul karena kelebihan energi. Artinya, jumlah energi yang masuk dari makanan melebihi energi yang digunakan oleh tubuh.

Beberapa pakar mendefinisikan kegemukan sebagai suatu keadaan, yakni lemak dalam tubuh 20% di atas normal. Proporsi lemak pria normal adalah 11%-20% dari berat badan, sedangkan wanita 18%-28%.

Masih terlalu sedikit penelitian mengenai kegemukan, terutama pada anak-anak yang dilakukan di Indonesia, sehingga jumlah penderita atau prevalensinya belum diketahui pasti.

Penelitian Fakultas Kedokteran Unpad (1993) terhadap siswa kelas VI SD dengan tingkat sosial ekonomi baik di Kota Bandung menunjukkan 23% murid laki-laki dan 28% murid wanita menderita kegemukan.

Angka tersebut memang belum bisa dijadikan patokan, tetapi paling tidak menjadi gambaran bahwa kegemukan telah mengancam anak-anak kita.

Kegemukan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit, terutama jantung koroner, diabetes mellitus (kencing manis), hipertensi (tekanan darah tinggi), hiperlipidemia, dan rematik sendi.

Di samping itu, menyebabkan problem psikologis tersendiri karena orang yang kegemukan cenderung menjadi kurang percaya diri.

Penyakit jantung hingga kini masih menjadi ''pembunuh nomor wahid'' sehingga perhatian terhadap faktor-faktor risikonya perlu dilakukan secara serius.

Ada anggapan jantung adalah penyakit orang-orang yang sudah tua. Namun dalam perkembangannya penyakit itu telah merenggut nyawa orang-orang muda usia.

Sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung, kegemukan mesti diwaspadai. Bahkan sejak masih usia dini, sehingga jangan hanya bangga melihat anak kita gemuk tetapi waspadalah.

Kegemukan pada anak-anak bisa diatasi lewat cara mengurangi energi atau kalori sebatas tidak mengganggu proses tumbuh kembangnya.

Di samping itu, memperbesar penggunaan energi yang tersimpan dalam tubuh si anak dengan cara memperbanyak aktivitas fisik, terutama olahraga.

Seorang anak penderita kegemukan tidak perlu diet mati-matian atau bahkan menggunakan obat penekan nafsu makan yang malah akan berakibat buruk terhadap kesehatannya.

Diet paling aman dan mudah dilakukan adalah diet rendah kalori seimbang. Diet ini berusaha menyesuaikan kalori dengan kebutuhan anak sesuai umur, berat badan ideal, tingkat kegemukan, dan aktivitas anak.

Kalori yang dikurangi adalah karbohidrat dan lemak yang terkandung di dalam makanan. Pemberian makan dibagi tiga kali sehari dan makanan selingan diberikan di antara waktu makan dalam jumlah terbatas.

Makanan selingan disarankan berupa buah-buahan karena berkalori rendah tetapi kaya kandungan vitamin, mineral, dan serat.

Sesuai Kebutuhan

Mulai bayi hingga berumur enam tahun anak akan cenderung kegemukan tetapi berat badannya makin berkurang seiring dengan pertambahan usia. Dengan demikian mereka tak butuh diet ketat.

Disarankan memberikan makanan sesuai dengan kebutuhan normal. Terpenting jangan sampai berat badan si anak meningkat terus. Biasanya berat badan ideal baru akan tercapai dalam waktu satu atau bahkan empat tahun karena anak akan bertambah tinggi.

Berbeda dari sebelumnya, pada umur tujuh tahun anak penderita kegemukan perlu mulai mengurangi kandungan kalori makanannya secara bertahap.

Usahakan makanan mereka mengandung 500 kalori di bawah kebutuhan normal supaya kekurangan kalori bisa diambil dari cadangan lemak yang tersimpan dalam tubuh.

Jenis makanan dan keseimbangan gizi penting diperhatikan. Orang tua harus memperhatikan kecukupan gizi yang terkandung dalam makanan anak, bukan jumlah yang dimakan.

Dalam konteks ini seyogianya orang tua berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sehingga pengaturan makan si anak lebih terkontrol.

Selain diet, untuk mengatasi kegemukan pada anak bisa ditempuh melalui upaya mengubah perilaku makannya. Biasakan makan hanya pada waktunya.

Anak-anak yang kegemukan punya kecenderungan makan lebih cepat, menyuap lebih banyak, dan mengunyah lebih sering.

Membiasakan makan lebih lambat sambil diajak berbincang adalah cara paling baik untuk mengubah perilaku. Di samping itu, perlu sedikit-sedikit minum untuk memberikan rasa kenyang lebih cepat.

Sendok dan garpu sebaiknya diletakkan di bagian belakang piring saat mulut masih penuh makan, sehingga mengurangi keinginan anak untuk segera menghabiskan makanannya.

Jangan menempatkan piring lauk di depan anak untuk mengurangi keinginan menambah porsi. Usahan si anak betah pada suasana makan supaya tidak tergesa-gesa menyelesaikan makannya.

Waktu makan lebih baik tidak sembari menonton TV atau video karena seringkali tanpa disadari anak akan mengambil makanan yang tersedia tanpa melihat jumlahnya.

Jangan membiasakan jajan pada anak. Terlalu sering jajan membuat nafsu makan mereka berkurang saat waktu makan tiba karena sudah merasa kenyang.

Pada umumnya jajanan mengandung kalori tinggi tetapi nilai gizinya kecil atau bahkan hampir tidak ada. Selain itu, kemungkinan kena penyakit lebih besar karena tak terkontrol kebersihannya.

Untuk kegiatan fisik dianjurkan berjalan kaki bersama orang tua setiap hari selama setengah jam. Penting pula mendorong anak agar lebih banyak melakukan aktivitas atau bermain yang bersifat fisik. Contohnya bersepeda, sepak bola, naik tangga, dan sebagainya.(Bambang Tri Subeno, wartawan Suara Merdeka di Semarang-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA