| Senin, 03 Oktober 2005 | RAGAM |
Pencarian Vaksin MalariaMALARIA adalah penyakit infeksi parasit dari genus Plasmodium (P) yang menular melalui gigitan nyamuk anopheles. Ada 4 spesies yaitu P falciparum, P vivax, P ovale dan P malaria. P falciparum yang paling ganas dan sering menimbulkan komplikasi berat antara lain malaria otak, anemia berat, gagal nafas, gagal ginjal dan lain lain yang berakibat kematian. Diperkirakan di dunia terdapat 300-500 juta kasus malaria dengan 1,5 - 2,7 juta kematian pertahun. Terbanyak pada anak balita di Afrika terutama infeksi Plasmodium falciparum. Strategi mengatasi malaria adalah dengan diagnosis dini, pengobatan cepat, pengontrolan vektor yaitu nyamuk anopheles dan larvanya melalui pembasmian sarang nyamuk serta menghindari gigitan . Namun strategi tersebut nampaknya belum membawa hasil yang memuaskan karena: a. Diagnosis pasti untuk menemukan parasit masih cukup sulit. b. Makin banyak malaria yang kebal terhadap obat antimalaria. c. Program yang seharusnya menjadi andalan yakni pembasmian sarang nyamuk belum sepenuhnya berjalan. d. Pengontrolan vektor dengan rekayasa genetik, yakni malaria-resistant mosquitoes masih sebatas penelitian. Kekebalan Alamiah Pada individu yang bertempat tinggal di daerah endemis malaria memang dapat timbul nonsteril immunity, suatu kekebalan alamiah yang dipacu karena terpapar parasit bertahun tahun. Berbeda dengan kekebalan alamiah pada penyakit lain, nonsteril immunity terhadap malaria mempunyai beberapa kelemahan: 1. Tidak dapat mencegah infeksi plasmodium. 2. Hanya mencegah timbulnya manifestasi gejala klinis. 3. Immunitas yang terjadi tidak menetap karena akan menghilang sendiri setelah beberapa bulan tidak terpapar parasit. Vaksin Antimalaria Kurang memuaskannya hasil penanganan selama ini mengakibatkan para ahli sependapat bahwa harapan untuk memenangkan perang melawan malaria terletak pada ditemukannya vaksin antimalaria. Dari ke empat spesies plasmodium, yang paling banyak menimbulkan kematian adalah P falciparum sehingga prioritas penemuan vaksin ditujukan terhadap spesies ini. Agar memudahkan pengertian tentang strategi penelitian vaksin, perlu diketahui dahulu siklus hidup plasmodium seperti tampak pada gambar. Dengan melihat siklus hidup parasit malaria pada gambar tersebut, tampak bahwa parasit mengalami berbagai perobahan bentuk baik pada siklus di tubuh manusia maupun siklus di tubuh nyamuk. Hal ini sangat menyulitkan penemuan obat dan vaksin . Sementara ini telah diteliti empat kemungkinan pendekatan tata kerja vaksin: 1. pada stadium pre erythrocyt (sel darah merah), 2. pada tingkat blood stage. 3. pada transmission blocking. 4. kombinasi ketiganya atau multi stage vaccine. Vaksin yang bekerja pada stadium pre erythrocyte di desain untuk mencegah infeksi ke sel darah merah yakni mencegah pelepasan merozoit dari hati. Makanya vaksin tersebut sangat penting peranannya bagi strategi penemuan multi stage vaccine selanjutnya. Sementara vaksin yang bekerja pada blood stage bekerja membatasi multiplikasi parasit di dalam darah. Sehingga mengurangi gejala klinis penyakit, namun tidak dapat mencegah terjadinya infeksi. Kemungkinan mekanisme kerjanya adalah menginduksi antibodi terhadap protein permukaan merozoite, protein dari sel darah merah yang sudah terinfeksi atau menginduksi toksin antimalaria Sedangkan vaksin transmission-blocking vaccinee (TBVs) bertujuan mencegah transmisi parasit dari manusia ke nyamuk dan vaksin jenis ini digabungkan dengan vaksin berbagai tingkat yang lain (liver dan blood stage). Begitu pula vaksin multi stage. Vaksin ini di disain untuk berefek pada semua tingkat pada siklus parasit malaria. Pertama diuji coba pada manusia dengan tipe SPF66 suatu tipe peptide vaksin. Pada awalnya SPF66 memberikan hasil yang menjanjikan, namun dalam percobaan skala besar penelitian fase III hasilnya negatif. Saat ini formula baru vaksin ini sedang dikembangkan serta vaksin multi stage berbasis DNA juga mulai dikembangkan . Untuk mengatasi plasmodium memang diperlukan vaksin kompleks namun ternyata penambahan berbagai elemen justru hasilnya kontra produktif. Penemuan genetic tools yang baru seperti transcriptome dan teknologi analisa proteome diharapkan membuat para ahli dapat lebih memahami biologi dari plasmodium sehingga dapat menolong untuk pengembangan vaksin dan obat antimalaria yang baru. Walau strategi mengatasi malaria belum sepenuhnya berhasil, namun tetap harapannya terletak pada vaksin-vaksin tersebut. Meski sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang memenuhi syarat, bahkan pengembangannya masih banyak tantangan. Para ahli tetap mengupayakan ditemukannya vaksin antimalaria terutama vaksin multi stage.(Dr. Bimosekti Wiroreno SpA/Klinik Hoo Semarang-12) |