logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Oktober 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Keberanian Pejabat

Bila sebuah kota bersih, tertib, aman, kondusif dan teratur karena penduduknya selalu menjaga kebersihan, ketertiban dan keamanan, maka pemerintah dan aparat setempat mendapat pujian/penghargaan. Namun jika kota kotor, carut-marut, ada kerusuhan, maka rakyat yang disalahkan.

Secara real of law, rakyat diwajibkan membayar pajak atau pungutan lain dan dengan begitu rakyat menitipkan ke-amanan serta mendapatkan perlindungan dari negara. Di negara lain para pejabat atau aparat terkait selalu bertanggung jawab atas rakyatnya. Mereka berani mengundurkan diri atau dipecat kalau dia tidak bisa menjalankan tugasnya.

Berbeda seperti di negeri ini, banyak masalah seperti kasus kesehatan, ada busung lapar, ada polio, gizi buruk. Padahal Indonesia sudah lama dinyatakan bebas polio dan gizi buruk. Juga masalah politik yakni pilkada. Pasti selalu ada kerusuhan dan kekerasan, pihak keamanan pun belum bisa mengatasinya.

Kelangkaan BBM dan penyelundupan BBM oleh petinggi Pertamina, bagaimana sebetulnya kinerja instansi tersebut banyak yang tak tahu. Para koruptor enak-enak dengan harta curiannya. Apa tidak malu negara ini dijuluki negara yang tingkat korupsinya pada urutan kelima di dunia.

Juga masalah transportasi, sangat memprihatinkan tentang jatuhnya pesawat Mandala di Medan beberapa waktu lalu. Kejadian tersebut hanya sebagian kecil masalah yang di hadapi bangsa. Kebanyakan karena kurang kontrol, tak profesional dan kurang tanggung jawabnya Pemerintah, pejabat maupun aparat terkait.

Banyak pihak menilai pejabat/aparat kurang bekerja secara profesional dan bertanggungjawab. Beranikah para pejabat atau aparat lainnya mempertaruhkan jabatan atau mengundurkan diri jika tidak mampu menjalankan tugas. Ah... mungkin ini hanya sebuah khayalan saja.

M Sidik Mandrowo
Randukuning Rt 6/Rw 3 Pati

***

TNI Jangan Kecil Hati

Bencana Aceh, Nias disusul diusiknya kedaulatan RI oleh Malaysia di gugus Ambalat telah memunculkan komentar tentang minim dan kunonya persenjataan TNI. Apa pun kondisi senjata yang ada, memang baru ini yang bisa disediakan rakyat. Harus dirawat dan digunakan sebagaimana mestinya.

Tidak perlu panik mendengar Malaysia tambah senjata, tidak perlu risau senjata kalah modern dengan negara tetangga. Justru kecanggihan persenjataan hanya membuat ketergantungan tinggi pada alat. Lihat Vietnam. Dilecehkan Prancis dengan sebutan Vietminh, dipandang sebelah mata Amerika dan dijuluki Vietcong.

Dengan berbekal cinta bangsa negara yang sangat dihayati secara mendarah daging, bersahabat dengan alam, bersenjatakan tradisional, tetap tangguh dan berhasil usir penjajah. Jangan lupa, Arek Suroboyo di bawah Bung Tomo, bersenjata ala kadarnya juga mampu merepotkan pasukan Inggris.

TNI harus jadi pasukan berani hidup, profesional istimewa. Dengan kualifikasi berbakti pada Ibu Pertiwi dan jago tempur, bukan kualifikasi untuk jadi bupati maupun gubernur. Disiplin tinggi, berlatih tempur, hayati-amalkan sumpahnya, dedikasi tanpa syarat kepada bangsa negara.

Daripada dana dipaksakan untuk beli senjata dan memboroskan devisa, sebaiknya untuk perbaiki kesejahteraan TNI/Polri lebih dulu. Karena pada akhirnya The man behind the gun yang paling menentukan effektivitas senjata. Jangan kecil hati TNI.

Satu mesin mungkin bisa menggantikan dan menyamai kualitas 50 pekerja biasa. Namun tak satu pun mesin sanggup menggantikan dan menyamai kualitas seorang pekerja istimewa. Elbert Hubbard (1817-1895, pengarang AS).

Purnomo Iman Santoso
Villa Aster II Blok G/10, Semarang

***

Hentikan Kiriman ''Investasi'' Berantai

Sejak tulisan saya beberapa kali dimuat di rubrik ini, saya kebanjiran surat yang berisi ajakan untuk mengikuti semacam arisan berantai. Meski pakai bermacam nama, intinya sama. Mengirim uang kepada beberapa orang dan tanpa kerja apa pun tinggal menunggu hasilnya.

Mendapat kiriman uang tak terduga sekian ratus juta rupiah dalam waktu singkat. Jika dibaca sekilas, seolah ajakan itu memang realistis dan cukup me-nyenangkan. Apalagi, diembel-embeli dengan kata: kejujuran, ketulusan, ke-baikan serta juga membawa-bawa nama Tuhan.

Pikir saya, mana mungkin orang bisa punya uang banyak tanpa kerja keras, tanpa modal besar dan tanpa risiko pula. Sementara sebagai orang Jawa, saya mempercayai ayaran, Nek arep mamah yo kudu gelem obah.

Coba bayangkan. Katakan, satu surat berantai jika diikuti mungkin hanya butuh biaya kurang dari Rp 100 ribu. Bagaimana jika mendapat tiga puluh surat, sanggupkah mengikuti semua? Anda mungkin berkata, ''Saya pilih satu, dan mengabaikan yang 29''.

Mari berlogika. Jika ajakan Anda juga selalu menempati posisi ''yang diabaikan'', apakah mungkin akan mendapat uang yang dijanjikan. Kalau benar arisan berantai bisa menghasilkan banyak uang tetap saja saya tidak tertarik. Karena punya uang banyak tanpa kerja keras akan membuat mental saya miskin.

Uang hanya risiko/efek samping dari ikhtiar, bukan tujuan. Money isn't everything. Selama ini, bangsa kita terpuruk justru karena terlalu jauh ''mendewakan'' uang.

Jadi kepada para pengirim ''program investasi'' kepada saya, mohon maaf karena ''mata rantai''nya saya putus. Saya juga tidak memberikan kertas itu kepada siapa pun. Menurut pemahaman saya, ajakan investasi semacam itu bukan peluang bagi perbaikan kehidupan, melainkan malah menjerumuskan.

Siti Jazimah
Jagang Lor Rt 3/Rw 2, Magelang

***

Jembatan Terlantar

Pasar Projo merupakan pasar terbesar di Ambarawa, salah satu dampaknya adalah penggunaan tempat penyeberangan di depan pasar. Sebelum ada jembatan penyeberangan dan pagar pembatas pengguna dapat menyeberang seenaknya sehingga kemacetan sering terjadi.

Juga banyak kendaraan yang memutar arah di sembarang tempat sehingga terjadi kemacetan. Meski sekarang jembatan penyeberangan sudah selesai dan digunakan, namun antusias masyarakat khususnya para pengunjung pasar belum ada gregetnya. Paling-paling cuma beberapa orang saja yang mau melewati.

Kebanyakan ibu-ibu lebih suka menyeberang di depan pasar karna lebih cepat dan alasan belanjaan banyak. Pasar Projo tetap menjadi tempat yang selalu macet. Sekarang bagaimana upaya Pemkab atau Dishub untuk mengatasi kemacetan itu. Tolong Pak Polisi di Pasar Projo ikut membantu.

Kristina
Kebondowo Rt 2/Rw 1, Banyubiru

***

Layanan Samsat Pati

Di kantor Samsat Pati saya melihat masih ada pungutan tak resmi. Caranya memungut uang Rp 15 ribu/orang saat pembayaran PKB/pengesahan STNK sebagai biaya cek fisik kendaraan. Sesuai SKB Kapolri, Dirjen PUOD dan Dirut PT Jasa Raharja, cek fisik hanya dilaksanakan dalam perpanjangan STNK.

Tanggal 19 September saya mengambil perpanjangan STNK Suzuki K-4245-FS via dealer. Dalam rincian biaya (masih saya simpan) tercantum biaya cek fisik Rp 15 ribu. Dengan adanya pungutan tersebut secara akademis merupakan salah satu manifestasi korupsi.

Untuk menciptakan aparat yang bersih dan berwibawa, mohon yang berwenang mengambil tindakan terhadap oknum yang bersangkutan. Saya pribadi siap menjadi saksi bila diperlukan.

Azam Jauhari SH
Sekarjalak Rt 1/Rw 1Margoyoso, Pati

***

Ralat

Surat Pembaca soal Jl Bungo-Wedung-Demak yang dimuat 19 September 2005 terdapat kesalahan nama penulisnya. Tercetak penulisnya Sdri Indra Ari, Bakalan RT 5/RW 1 Guntur Demak. Yang benar Sdr Kristanto Jl Sekayu Kramatjati 303, Semarang. Dengan demikian kesalahan dibetulkan. (Red)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA