logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Oktober 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Berat dan Pedihnya Menghadapi Realitas

- Pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dilakukan tengah malam. Pengumuman itu tidak mengejutkan, karena sudah dijadwalkan sebelumnya. Namun banyak yang terperanjat, merasa berat dan sedih melihat persentase kenaikan yang sangat tinggi. Baru pertama kali, kenaikan harga BBM setinggi itu. Benar-benar drastis dan itu bukti keberanian pemerintah di tengah aksi demo menolak kenaikan. Keberanian pemerintah diprediksi bakal menimbulkan sentimen positif dan disambut oleh kalangan investor, terutama dari mancanegara. Namun di sisi lain masyarakat merasakan kepedihan mendalam. Betapa kebijakan itu seperti tidak memiliki kepekaan terhadap nasib rakyat kecil dan apakah sudah memikirkan dampak negatif yang bakal ditimbulkan.

- Kenaikan harga BBM rata-rata di atas 100 persen. Bahkan, harga minyak tanah naik 185 persen dari Rp 700 per liter menjadi Rp 2.000 per liter. Harga minyak solar ditetapkan Rp 4.300 per liter atau naik 104,76 persen dan harga premium naik 87,5 persen menjadi Rp 4.500 per liter. Kita benar-benar dihadapkan pada sebuah kontradiksi. Antara menerima secara akal sehat karena memang itulah realitas yang harus dihadapi, dengan merasakan kepedihan mengingat kebijakan itu akan menimbulkan beban berat bagi masyarakat, terutama mereka yang berpenghasilan kecil. Sikap dan kebijakan yang diambil pemerintah lebih menggunakan akal sehat katimbang perasaan. Mungkin saja itu tidak salah, karena argumennya pun jelas, namun berbahaya kalau sekadar rasio yang ditonjolkan.

- Ada dua opsi kebijakan, yakni kenaikan bertahap atau sekaligus. Kenaikan bertahap akan lebih manusiawi, karena bisa ditentukan tidak sampai 50 persen, tetapi tidak cukup satu kali. Sedangkan kalau sekarang bisa langsung mengikuti harga pasar dan tidak perlu lagi ada subsidi yang memberatkan. Tetapi pernahkah pemerintah mempertimbangkan dari banyak aspek, bukan melulu persoalan realitas dan rasionalitas. Bagaimana nasib wong cilik ketika harga minyak tanah hampir tiga kali lipat itu. Memang ada dana kompensasi yang dibagikan Rp 100.000 per bulan untuk keluarga miskin. Tetapi apa artinya bila dampak kebijakan sudah meluas. Uang sebesar itu hanya akan menjadi penghibur lara sesaat. Mungkin tidak sampai satu jam sudah habis dibelanjakan.

- Walaupun sangat memberatkan, pemerintah memilih opsi kedua yakni kenaikan yang sekaligus. Argumen yang disampaikan kepada publik, semua langkah itu demi penyelamatan anggaran dan perekonomian secara nasional. Harga minyak dunia yang sangat tinggi mendekati 70 dolar AS per barel menjadi pemicu utama. Sementara di dalam negeri warisan persoalan masa lalu berupa utang luar negeri yang menggunung masih membelenggu. Jadilah anggaran kita yang menjadi rapuh. Subsidi dan angsuran utang bisa mencapai separo budget pengeluaran. Belum lagi harus dikurangi untuk pengeluaran rutin termasuk membayar gaji PNS. Pada waktu ekspor minyak kita masih besar, persoalannya tak akan separah sekarang. Sayang sekarang justru impor kita yang lebih banyak.

- Realitas harus dihadapi, betapa pun kepedihan dan kesedihan dirasakan. Hidup akan makin susah. Biaya transpor naik, makanan naik, dan kebutuhan lain pun bisa dipastikan akan ikut naik. Tetapi itu konsekuensi yang harus dihadapi. Pengorbanan yang harus diterima untuk penyelamatan kepentingan yang lebih besar. Kepentingan siapa? Itu bisa menjadi perdebatan yang panjang. Dan mengapa rakyat kecil yang harus diminta berkorban terlebih dahulu? Itulah yang memicu aksi unjuk rasa di mana-mana. Kalau sudah harus demikian dan agar kesedihan serta pengorbanan tidak terlampau besar, haruslah segera ada langkah penyesuaian. Perlu ada insentif lain termasuk kepada dunia usaha. Tidak merasa cukup hanya dengan membagikan dana kompensasi.

- Pemerintah perlu menjaga kestabilan makro. Inflasi, suku bunga, dan kurs rupiah, pastilah akan bergejolak setelah harga BBM naik. Paling tidak akan ada tekanan kenaikan. Inflasi bisa jadi mencapai dua digit lagi, sementara suku bunga akan mencapai belasan persen. Sedangkan kurs rupiah bisa sebaliknya, menguat lagi karena ketegasan serta keberanian pemerintah bisa menumbuhkan kembali kepercayaan. Wajar bila akan ada tuntutan kenaikan gaji di kalangan PNS maupun pegawai swasta. Karena menjadi sah pula bila harga jual barang dan jasa disesuaikan. Kita berharap beban masyarakat akan diperingan dengan berjalannya mekanisme pasar. Yang penting industri dan sektor riil diselamatkan dan jangan sampai terjadi gelombang PHK besar-besaran.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA