logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Oktober 2005 SEMARANG
Line

Tarif Angkudes Naik 50 Persen

  • Pengemudi Meminta Lebih

UNGARAN - Berkait dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar per 1 Oktober, Dinas Perhubungan (Dishub) dan Organda Kabupaten Semarang sepakat menaikkan tarif angkutan pedesaan (angkudes) 50% di daerah itu.

Namun sejumlah pengemudi dan awak angkudes itu meminta kenaikan tarif seharusnya lebih dari 50%. "Sesuai hasil pertemuan dengan perwakilan Organda, tarif angkudes saat ini disepakati naik 50 %," ungkap Kepala Dishub Imam Sudarmadji SH, kemarin.

Dalam menaikkan tarif, pihaknya menggunakan rasio rupiah /pe numpang/kilometer. Sesuai dengan edaran yang ditandatangani pengurus Organda, disebutkan tarif lama Rp 72/penumpang/kilometer. Adapun tarif baru Rp 109 /penumpang/kilometer.

Hasil rapat tersebut, lanjut dia, pada Sabtu (1/10) atau bersamaan dengan naiknya harga BBM, telah disebarkan kepada seluruh penanggung jawab trayek angkudes masing-masing. "Walau belum mendapat SK Bupati tentang kenaikan tarif baru, pengumuman itu dilakukan agar pemberlakuan tarif tidak melebihi batas," papar Imam.

Menanggapi kenaikan tarif yang disepakati antara Dishub dan Organda itu, sejumlah sopir meminta agar kenaikan tarif lebih dari 50%. "Bahan bakar bensin sekarang naik gila-gilaan hingga 85%. Masak tarif hanya dinaikkan 50%. Hal ini saya kira kurang pas, sebab dengan tarif baru itu untuk menutup setoran masih sulit, mengingat harga bensin melambung tinggi," keluh Bambang (45), seorang pengemudi angkudes jurusan Ungaran-Kalongan.

Demo Dishub

Pada hari pertama kenaikan harga BBM (1/10), Bambang hanya menaikkan tarif Rp 500 atau sekitar 50%. "Semula tarif Ungaran-Karangjati dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.500," terangnya.

Listiyo (38), sopir lainnya mengatakan, dalam seminggu ini pihaknya akan mencoba dengan tarif baru tersebut. "Kalau ternyata pendapatan kami menurun, kami akan turun ke jalan dan demo ke Dishub," tandasnya yang disetujui sejumlah temannya.

Sejumlah sopir jurusan Ungaran-Karangjati yang biasa mangkal di Pasar Ungaran, mengeluhkan biaya hidup turut naik. Supriyanto, warga Gedanganak Ungaran mengaku, dari pendapatan Rp 200.000, hanya Rp 20.000 yang bisa dibawa pulang. Sebab, Rp 70.000 untuk setoran, sedangkan Rp 110.000 untuk membeli bensin.

Penumpang juga sering mengeluhkan kenaikan tarif itu. Kadang-kadang penumpang mau membayar, tapi harus eyel-eyelan dulu. Sering penumpang membayar kurang dari tarif yang ditentukan Dishub. "Sisa setoran dulu dan sekarang rata-rata Rp 30.000, tapi uang sebesar itu sekarang ora ono ajine, karena harga-harga juga naik," ujar dia. (H14,yas-18d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA