| Senin, 03 Oktober 2005 | SEMARANG |
Tarif Angkutan Umum Naik 81%
SALATIGA - Buntut kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang diumumkan pemerintah Sabtu dini hari lalu, menyebabkan tarif angkutan ikut naik. Meskipun kenaikan tarif angkutan tersebut dilakukan secara sepihak oleh kru, namun banyak penumpang memakluminya. Berdasarkan pantauan Suara Merdeka Sabtu hingga Minggu kemarin, tarif angkutan kota (angkot) di Salatiga yang sebelumnya Rp 1.100, sudah dinaikkan menjadi Rp 2.000. Sementara tarif untuk pelajar juga mengalami kenaikan, yakni dari Rp 700 menjadi Rp 1.000. Namun, penentuan tarif ada yang ditentukan sesuai dengan kesepakatan kru dan penumpang, seperti penumpang umum ada yang hanya dikenakan Rp 1.500. Tarif untuk bus ekonomi Salatiga-Semarang juga mengalami kenaikan, dari Rp 3.500 menjadi Rp 6.000. Parmin (40), kru angkot Salatiga-Blotongan mengaku, kenaikan tarif angkot yang ditetapkan sementara tersebut memang sempat mengagetkan para penumpang, namun akhirnya mereka mau menerima sebagai konsekuensi kenaikan harga BBM. ''Kenaikan harga BBM memang dilematis bagi kami untuk menaikkan tarif. Akan tetapi, ada penumpang yang mau mengerti ketika diberitahu tarif baru itu menyesuaikan dengan harga BBM,'' ujarnya. Sumi (47), warga Kelurahan Sidomukti mengaku terpaksa membayar Rp 2.000 ketika hendak menuju pasar dengan menggunakan angkot. Dia pun bisa memaklumi jika para kru ada yang menaikkan tarif angkutan, karena kenaikan harga BBM. Kepala Dinas Perhubungan Kota Salatiga Drs Agus Rudianto membenarkan perihal kenaikan tarif angkot yang diterapkan untuk sementara. Hal itu dilakukan kru setelah ada kesepakatan antara Organda dan Paguyuban Kru Angkot Salatiga, sebagai konsekuensi kenaikan harga BBM. ''Agar tidak terjadi masalah di lapangan, Organda beserta paguyuban angkot telah menetapkan tarif sementara Rp 1.000 untuk pelajar (naik 41%) dan Rp 2.000 (naik 81%) untuk penumpang umum. Namun pelaksanaannya, tarif penumpang umum ada yang dikenai Rp 1.500,'' imbuhnya. (H2-37d) |