| Senin, 03 Oktober 2005 | SEMARANG |
Subsidi BBM Dinilai Salah Sasaran
SEMARANG - Karena tidak mendapatkan Kartu Subsidi Langsung Tunai (KSLT), sejumlah warga miskin RW 8 Kelurahan Kuningan berkumpul untuk melakukan protes. Senin (3/10) ini, mereka akan mengadu kepada lurahnya. Sudaryono, ketua lembaga pengembangan masyarakat kelurahan (LPMK) menyanyangkan kurang lengkapnya pendataan yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu. Menurutnya, hasil pendataan tersebut sebagian tidak tepat sasaran. Hal itu, disebabkan sewaktu pendataan tidak didampingi warga setempat. Padahal, kata dia, tim survei tidak begitu tahu kondisi warga yang sebenarnya. Karenanya, ada indikasi kuat bahwa tim survei hanya melakukan pendataan sekadar ingin merampungkan tugas saja. ''Mereka yang seharusnya terbilang mampu, malah mendapatkan KSLT. Karena itu, kami ingin mengusulkan dilakukannya pendataan lagi bagi mereka yang tidak mampu agar mendapatkan dana kompensasi itu,'' katanya. Dia juga berharap, pendataan yang dilakukan sesuai dengan prosedur. ''Jangan sampai yang didahulukan untuk mendapat KSLT adalah orang-orang yang dekat dengan pendata atau saudara-saudaranya. Kalau hal itu yang terjadi, maka sudah menyalahi prosedur,'' katanya. Apabila usulan penambahan jumlah warga penerima kartu itu tidak disetujui, solusinya harus ada pengalihan pemberian dana tersebut kepada yang berhak. Mengenaskan Saat Suara Merdeka memantau di lapangan, kondisi warga memang mengenaskan. Umumnya, mereka tinggal di rumah-rumah dengan atap yang rendah, seperti halnya kondisi kebanyakan bangunan di wilayah utara Kota Semarang. Bahkan, rumah mereka masih terbuat dari papan kayu dan berlantai tanah. Seperti Mbah Nursih (80), seorang janda yang tinggal bersama cucunya. Dia heran dengan orang-orang yang mendapat jatah kartu kompensasi bahan bakar minyak (BBM) itu. ''Orang-orang yang masih muda dan sehat-sehat malah mendapat bantuan, saya yang sudah tua dan untuk mencari makan saja sulit kok tidak dapat,'' katanya sambil menangis. Begitu pula Juwariyah (65). Saat orang-orang antre di kantor pos untuk mencairkan uang, ia hanya duduk di bangku bambu di depan rumah papannya. Dia cuma bisa berharap bisa mendapatkan bantuan susulan. Antrean panjang, terlihat dalam pencairan dana kompensasi BBM hari kedua di Kantor Pos Induk Semarang di Jalan Pemuda, dan kantor pos cabang lainnya. Menurut Djoko Suhartanto, Kepala Kantor Pos Semarang, antrean tersebut tertib dan tidak ada permasalahan. Hari pertama, penyaluran dana kompensasi telah diterima 30.300 keluarga. Di hari kedua, Djoko menargetkan dana tersebut diterima 90% dari jumlah keseluruhan keluarga penerima, yakni sebanyak 69.646 keluarga. ''Diusahakan, hingga hari ketiga pencairan dana itu bisa selesai. Bagi penerima yang belum mencairkan dana tersebut, kantor pos masih bisa melayani hingga Desember,'' katanya. (mhr-18a) |