logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Oktober 2005 INTERNASIONAL
Line

Menteri Jepang Kecam Langkah China

TOKYO - Menteri Perdagangan Jepang Shoichi Nakagawa kemarin mengecam langkah China mengirimkan kapal perang ke sekitar wilayah perairan yang kaya gas alam di Laut China Timur.

Sebelumnya, media melaporkan bahwa sebuah kapal China mengarahkan senjata ke pesawat patroli Jepang. Sengketa mengenai ladang gas alam di Laut China itu telah membuat tegang hubungan kedua negara bertetangga itu.

Jepang dan China gagal menyelesaikan sengketa itu dalam perundingan dua hari di Tokyo, yang berakhir Sabtu (1/10) lalu. Namun keduanya sepakat untuk bertemu lagi bulan ini di Beijing.

Dalam pertemuan lanjutan itu, kedua pihak akan membahas usulan baru Jepang yang meliputi kemungkinan melakukan pembangunan bersama di wilayah sengketa.

''Lima kapal perang canggih yang dilengkapi rudal datang ke wilayah perairan itu 9 September lalu,'' kata Nakagawa kepada televisi swasta Asahi.

Dia menegaskan, kedatangan lima kapal tersebut melanggar kesepakatan antara PM Junichiro Koizumi dan Presiden China Hu Jintao yang menginginkan kedua negara bekerja sama di wilayah perairan itu.

Beijing berkilah hanya melakukan pelatihan rutin di wilayah laut tersebut. Dalam kesempatan lain, Nakagawa mengatakan Tokyo akan berhati-hati dalam perundingan berikut.

Pertimbangkan Usul

''China mengatakan akan mempertimbangkan usulan Jepang dengan sungguh-sungguh. Saya harap, hal itu bukan sekadar taktik untuk mengulur waktu,'' katanya kepada Fuji Television.

Kantor berita Kyodo melaporkan, Jepang bersikap terbuka pada perundingan tingkat menteri untuk memecahkan kebuntuan tersebut.

Nakagawa melontarkan kecaman itu setelah Kyodo melaporkan bahwa kapal frigat China mengarahkan senjatanya ke pesawat patroli P3-C AL Jepang pada 9 September di dekat ladang gas Chunxiao.

Chunxiao merupakan salah satu ladang gas di wilayah perairan yang dibangun oleh China.

''Kapal perang China itu mungkin tidak bermaksud menembak. Namun sikapnya jelas merupakan ancaman,'' lapor Kyodo mengutip seorang pejabat tinggi Kementrian Pertahanan Jepang.

Frigat China yang dilengkapi rudal itu dan empat kapal militer lainnya dipergoki oleh pesawat P3-C Jepang. Namun kelima kapal itu tidak memasuki wilayah perairan yang diklaim Jepang sebagai zona ekonomi eksklusifnya.

Nakagawa mengatakan, Jepang akan melakukan segala upaya untuk menjamin keamanan wilayahnya. Namun Tokyo tetap tidak akan bertindak lebih jauh di wilayah yang masih disengketakan tersebut.

Pengeboran

''Kami tidak akan melakukan langkah-langkah provokatif, seperti mengirimkan kapal selam atau kapal perusak bersenjatakan rudal. Jepang tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak bersabahat tersebut,'' katanya kepada televisi Asahi.

''Kami akan mendesak China untuk tidak mengirim kapal perang lagi. Kami akan membawa masalah ini ke komunitas internasional,'' tambahnya.

Dia mengatakan Jepang belum memutuskan apakah akan melakukan uji coba pengeboran atau tidak. Dia menambahkan Tokyo butuh waktu setahun atau dua tahun untuk memulai pengeboran itu, setelah ada keputusan mengenai koordinasi dengan warga setempat dan pihak lain.

Jepang khawatir, langkah China membangun ladang gas di dekat zona yang diklaim Tokyo itu dapat mencaplok terlalu banyak sumber gas di dasar laut. Ladang gas itu terletak di garis tengah yang memisahkan zona ekonomi eksklusif kedua negara.

China tidak mengakui garis tengah itu. Beijing juga menolak permintaan Jepang untuk menghentikan pembangunan ladang gas tersebut. China menyatakan, proyek pembangunan ladang gas itu dilakukan di wilayahnya, bukan di kawasan yang disengketakan.(rtr-ben-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA