logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 03 Oktober 2005 INTERNASIONAL
Line

Sharon-Abbas Sepakat Bertemu

JERUSALEM - PM Israel Ariel Sharon dan Presiden Palestina Mahmud Abbas berbicara via telepon Minggu kemarin. Mereka sepakat untuk mengeratkan kerja sama dan segera bertemu, kata kantor Sharon.

Pertemuan tingkat tinggi dijadwalkan berlangsung kemarin sebagai tindak lanjut penarikan tentara Israel dari Gaza pada 12 September lalu. Namun pertemuan itu ditunda karena kurangnya persiapan dan terjadi gelombang kerusuhan baru.

Kantor Sharon menjelaskan Abbas menelepon Sharon untuk mengucapkan selamat Tahun Baru Yahudi, yang dimulai Senin ini.

Satu pernyataan menyebutkan mereka ''sepakat mengeratkan kerja sama di antara mereka dan bekerja sama untuk memajukan proses perdamaian. Mereka juga sepakat untuk segera bertemu dalam upaya membahas berbagai masalah yang telah diagendakan.''

''Kedua pemimpin mengungkapkan harapannya bahwa tahun baru ini akan lebih sukses, dan menjuadi tahun perdamaian dan harapan,'' lanjut pernyataan tadi.

Belum ada komentar dari para pejabat Palestina.

Tunda Serangan

Sementara itu Israel menghentikan untuk sementara ofensif terhadap kelompok militan Jalur Gaza untuk memberi Presiden Abbas kesempatan menghentikan serangan roket dari wilayah itu, kata sumber-sumber keamanan Israel, kemarin.

Gelombang kerusuhan bulan lalu telah memupus harapan bahwa penarikan tentara dan pemukim Israel dari Gaza untuk mengakhiri 38 tahun kekuasaan militer, bisa menghidupkan lagi negosiasi-negosiasi untuk mengakhiri beberapa dasa warsa konflik.

Pesawat-pesawat dan artileri Israel menyerang Gaza setelah serangan roket lintas batas oleh kelompok militan Hamas. Empat orang bersenjata Gaza tewas. Pasukan Israel juga menyerbu Tepi Barat untuk menangkap ratusan tersangka militan. Lima orang bersenjata dan seorang pemuda tewas.

''Kami akan menghentikan untuk sementara operasi-operasi militer yang lebih besar dan menunggu untuk mengetahui responsnya,'' kata seorang sumber keamanan Israel. ''Kami ingin memberi kesempatan kepada pasukan keamanan Palestina dan Abu Mazen (Abbas).''

Sumber-sumber itu menyebutkan Israel hanya akan bertindak melawan apa yang disebutnya ''bom waktu'' - jika negara itu menduga bakal segera terjadi serangan - atau jika ada serangan roket lagi dari Gaza.

Abbas, yang didesak AS agar mengendalikan militan, mengerahkan pasukan pekan lalu untuk melarang para pejuang membawa senjata di jalan-jalan Gaza dan mencegah serangan ke Israel. Tidak terjadi serangan roket selama paling tidak empat hari.

Palestina Sambut Baik

Juru runding top Palestina Saeb Erekat menyambut baik keputusan Israel untuk menangguhkan ofensif itu.

''Kami berjanji untuk menghentikan kekerasan terhadap warga Israel di mana pun,'' katanya kepada Reuters. ''Kami berharap pengumuman Israel itu akan mencerminkan komitmen Israel untuk menghentikan kekerasan terhadap warga Palestina di mana saja.''

Faksi militan Hamas, yang bersumpah akan menghancurkan Israel, menyatakan tidak percaya negara Yahudi itu akan mengakhiri ''praktik-praktik agresi'' di darat.

Namun Hamas menyatakan kembali komitmennya tentang gencatan yang dicapai Februari lalu. Komitmen itu memuluskan penarikan Israel dari Gaza. Satu jajak pendapat menunjukkan 62 persen warga Palestina menentang serangan dari Gaza.

Kerusuhan berdarah terbaru meletus setelah satu ledakan menewaskan 17 orang pada satu pawai Hamas.

Hamas, yang menuduh Israel, menembakkan beberapa roket dari Gaza. Israel membantah bertanggung jawab dan para pejabat Palestina mengatakan ledakan tersebut disebabkan oleh kecelakaan Hamas.

''Hamas mengalami kerugian besar akibat meningkatnya kerusuhan itu,'' kata Menhan Shaul Mofaz pada pertemuan kabinet kemarin, seperti dikutip media Israel.

''Harga mahal yang diminta Israel menjelaskan kepada Hamas bahwa aturan main secara umum di Gaza telah berubah.''

Abbas dijadwalkan berkunjung ke Washington bulan ini untuk membahas cara-cara membangkitkan kembali negosiasi damai.

Israel menyatakan Abbas harus melucuti kelompok militan seperti Hamas sebelum ada perundingan baru tentang satu negara Palestina. Palestina akan memulai proses itu berdasar ''peta jalan'' perdamaian dukungan AS.

Israel gagal memenuhi komitmen peta jalannya untuk membekukan pembangunan permukiman di Tepi Barat. Hal itu menimbulkan kekhawatiran di pihak Palestina bahwa penarikan dari Gaza merupakan dalih Israel untuk memperkuat cengkeraman di Tepi Barat.

Palestina menginginkan satu negara yang terdiri atas Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Jerusalem Timur, seluruh wilayah itu direbut Israel dalam perang tahun 1967.

PM Sharon kemarin menyambut baik komentar Menlu AS Condoleezza Rice pekan lalu bahwa Hamas tidak boleh ikut andil dalam politik jika tidak mau melucuti senjatanya. Kelompok militan itu berencana ikut mencalonkan diri dalam pemilihan parlemen Januari mendatang. (rtr-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA