logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 OLAHRAGA
Line

Kurang Diperhatikan, 8 Atlet Takraw Pindah

SEMARANG- Delapan atlet sepak takraw Jateng hijrah ke provinsi lain, karena merasa kurang diperhatikan oleh daerahnya. Padahal, cabang ini merupakan salah satu tambang emas Jateng di PON. Pada PON XVI Palembang 2004, misalnya, Jateng berhasil melakukan sapu bersih emas di sepak takraw.

''Sebagai pembina, kami tidak bisa berbuat apa - apa, karena memang tidak mampu menjamin masa depan para atlet itu. Kami harus merelakan kepindahan mereka, meski akibatnya atlet - atlet tersebut menjadi ancaman tersendiri bagi Jateng,'' jelas Ketua Harian Pengda Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI) Jateng, Siti Retno Farida SE MM ketika menjadi panelis diskusi ''Pembangunan Olahraga Kompetitif di Jateng'' yang diselenggarakan oleh mahasiswa jurusan pendidikan jasmani kesehatan dan rekerasi FIK Unnes Semarang di Gedung G Unnes, kemarin.

Diskusi yang dihadiri oleh guru - guru pendidikan jasmani dan pengda - pengda olahraga tersebut menghadirkan tiga pembicara, Ketua I KONI Jateng Drs Soenjoto, PR IV Unnes Drs Soegiyanto KS MS dan anggota Komisi E DPRD Jateng Drs Wuliyadi MM. Tiga panelis, masing - masing Siti Retno Farida, Wapemred Harian Suara Merdeka Amir Machmud NS SH MH, dosen senior FIK Unnes Dr Tandyo Rahayu, dan Kabid Pembinaan KONI Jateng Drs Mugio Hartono MPd sebagai moderator.

Usia Emas

''Gold age seorang atlet sangat terbatas, paling hanya beberapa tahun. Karena tidak ada jaminan masa depan, kadang ada atlet yang di usia tuanya menjadi peminta-minta,'' jelas Amir Machmud.

Tandyo Rahayu, yang selama ini dikenal sangat kritis dengan perkembangan olahraga di daerahnya, mempertanyakan hasil pembinaan. Salah satunya di cabang senam. Saat Porseni SD, Popda SMP maupun Popda SMA, semuanya berlangsung marak.

''Sepertinya pembinaan di Jateng menjanjikan. Tetapi, setelah turun di tingkat nasional, pesenam yang membela Jateng bukan atlet hasil binaan itu, melainkan atlet - atlet dari luar daerah. Saya tahu persis, karena saya termasuk salah satu juri nasional cabang senam,'' jelasnya.

Di cabang golf pada Porda Jateng yang baru lalu juga terjadi ironi. Medali emas lari ke daerah - daerah yang tidak melakukan pembinaan cabang golf.

''Bagaimana ini bisa terjadi? Melakukan pembinaan saja tidak, lapangan golf juga tidak punya, kok sampai memborong medali emas.'' (C16,knd-40)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA