logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Saupama Saupami ...

Hati ikut bombong, seneng, bangga setelah melihat dan membaca koran ini 22 September 2005 yang memuat laporan dan gambar terwujudnya gedung ''SDN2 Pembaca Suara Merdeka'' di Banda Aceh. Gedung tadi menelan biaya hampir Rp 6 miliar hasil pengumpulan dana dari masyarakat yang diberikan secara ikhlas.

Di samping bombong, seneng dan bangga juga timbul dalam pikiran bahwa segala sesuatu bila dimenej dengan baik, jujur dan transparan akan membawa berkah dan manfaat bagi semuanya. Saya bilang pada mbok Ratu saya:

''Saupama saupami, seandainya uang yang dimakan para koruptor, maling negara baik yang menjadi anggota Dewan maupun pejabat tinggi di seantero jajaran yang jumlahnya triliunan rupiah tersebut dipakai untuk membangun gedung sekolah, memperbaiki jalan yang rusak di Sumatera, Kalimantan dan di tempat lainnya entah sudah berapa banyak yang bisa dibangun.

Gedung gedung sekolah sangat diperlukan untuk mencerdaskan bangsa. Jalan bagus untuk memperlancar roda perekonomian, yang tundon-nya akan membikin rakyat makmur. Sayang sejuta kali sayang, uang triliunan rupiah hilang mengendap begitu saja dilahap para koruptor''.

mBok Ratu saya mengangguk-angguk. Selain itu juga terbesit dalam pikiran, bahwa Mas Hetami pendiri Suara Merdeka yang sudah di alam sana, niscaya/akan senyum-senyum senang dan puas melihat putra mantunya (yang sejak awal muawal sangat dibanggakan), beserta garwa kinasih-nya telah berhasil berbuat sesuatu yang berguna bagi Tanah Air dan Bangsanya.

Teringat kepada wasiat Mr Mohammad Roem: ''Nak Bagijo, tidak usah kita semua jadi pahlawan. Jadi manusia shaleh, yang berguna bagi masyarakat sekeliling, itu sudah bagus''. Wasiat itu disampaikan kepada saya pada tahun 1960 di Kairo,

Pak Roem datang dari Amerika; saya datang dari Beograd, bertemu di Kairo sama-sama dalam perjalanan menunaikan ibadah haji ke Mekah dan Madinah. Semoga sukses Suara Merdeka diikuti oleh sukses lainnya yang diridhoi Allah

Soebagijo IN

Jl Danau Tondano RP 1, Jakarta

***

Resep YKI Ditolak

Saya penderita kanker darah yang sedang dalam perawatan tim dokter di salah satu RS di Semarang. Tanggal 23 September 2005 saya dapat resep dengan kop dari YKI (Yayasan Kanker Indonesia) untuk bisa mendapatkan harga spesial dari apotek tertentu yang menjalin kerjasama dengan yayasan tersebut.

Saya menebus obat tersebut ke apotik RS Telogorejo (kopi resep terlampir), tetapi resep ditolak dengan alasan tidak ada nama dokter yang memberi resep tersebut. Padahal beberapa waktu sebelumnya saya juga menebus obat yang sama dengan resep dari dokter yang sama pula dan tidak ada masalah.

Akibatnya hari itu saya tidak bisa minum obat. Kemudian saya menghubungi dokter yang bersangkutan dan dibuatkan resep baru sebagai lampiran resep YKI. Namun pihak apotik tetap menolak dengan alasan sama. Saya boleh menebus obat tersebut dengan harga umum.

Kalau harus dengan harga umum, saya bisa menebus obat di apotik mana pun. Padahal tujuan saya adalah untuk mendapatkan harga spesial YKI. Bagaimana jika petugas di apotik RS Telogorejo tersebut suatu saat betul-betul membutuhkan obat seperti saya. Berilah pelayanan yang terbaik kepada konsumen.

G Bagus Saptono SE

Jl Sugiyopranoto H 34, Solo

***

Polusi Udara Apacinti

Setiap hari dalam perjalanan Semarang - Salatiga saya terpaksa harus 'menikmati' gas berbau tidak enak dan membuat mual saat melewati pabrik PT Apac Inti Corpora di Bawen. Perkiraan saya gas bau tersebut berasal dari limbah atau bahan kimia tertentu dalam proses produksi tekstilnya.

Sebagai sebuah pabrik besar, penyedia lapangan kerja dan penyumbang devisa, PT Apacinti adalah aset bangsa. Sayang jika prestasi tersebut tercoreng oleh bau tak sedap tersebut. Selain itu karena menimbulkan polusi udara sebaiknya bau tersebut dihilangkan. Terlebih jika ternyata gas penimbul bau tersebut memiliki dampak buruk pada kesehatan masyarakat sekitar.

Mohon perhatian dan tindaklanjut perusahaan, Bappeda dan Pemkab Semarang serta Bapedalda Jawa Tengah untuk meninjau kembali apakah pengelolaan udara atau limbahnya sudah sesuai Amdal, UKL-UPL, dan peraturan atau persyaratan lingkungan lainnya.

Bambang Pramusinto. S

Jl Genuk Baru II/ 6, Semarang

***

Jargon Komunis

Bulan September adalah bulan di mana luka lama terkuak kembali. Sekarang kaum komunis (PKI) merasa mendapat angin dengan dalih reformasi dan demokrasi. Mereka, baik generasi lama maupun generasi baru penerus paham tersebut ngotot, merasa dirinya benar.

Mereka juga mengklaim rentetan kebiadaban dan pemberontakan (yang berujung pada G30S/PKI) adalah rekayasa. Komunis (PKI) bukan pelaku tetapi justru menjadi korban. Sebagai generasi penerus bangsa, jangan sekali - kali lepas kewaspadaan.

Lihat sejarah, rentetan tindakan mereka adalah fakta yang jelas. Dengan dalih demokrasi, mereka berusaha menyusup dan hidup di tengah masyarakat. Apalagi ada propaganda bahwa antikomunis berarti antidemokrasi.

Padahal di negara barat yang menjadi acuan demokrasi, antikomunis sejak dulu hingga sekarang. Kita juga bisa melihat negara yang menganut paham komunis, demokrasi dan keadilan tidak ada bahkan mati. Jadi kalau ada pendapat antikomunis berarti antidemokrasi, hal itu hanya jargon kaum komunis.

Bohong. Sekarang dan ke depan kita harus lebih waspada agar tidak menjadi korban atau jadi bagian dari komunis yang jelas antidemokrasi dan keadilan.

Toto Widjojono

Jl Kiai Legi Bansari Rt 7/Rw 15 Wonosari Gunungkidul

***

Narmo yang "Narimo"

Apa yang dimakan Bapak Narmo di Sragen (SM, 13/9/05) memang aneh. Tidak ada maksud agar apa yang dilakukan tercatat Muri. Atau Bapak lupa, saat dia bakar batang bambu, mencari daun - daunan, sehingga yang dibakar jadi arang. Daripada dibuang sayang lalu dimakan untuk mengatasi laparnya.

Tapi bukan alasan dia memakan arang. Kenyataan hiduplah yang memaksa dia melakukan. Dengan ekonomi yang serba kurang, hidup sebatangkara, fisik yang sudah uzur sehingga bekerja pun terbatas. Dia tidak mau meminta-minta meski kadang ada tetangga yang iba, Dengan kondisi inilah dia harus narimo.

Meski dia belum membaca ungkapan Sir William Osler: ''Tanpa iman orang tidak dapat berbuat apa-apa, dengan iman segala sesuatu menjadi mungkin''. Dengan iman yang besar, kuat kepada yang Kuasa, dia tidak mengalami gangguan medis.

Mungkinkah akan ada Narmo yang lain di zaman yang semakin sulit ini ? Saling peduli di antara kitalah yang akan membantu mencegahnya.

Agus Suminto

Jl Puspanjolo Tengah 100, Semarang

***

Suporter Beringas

Zaman saya muda dulu periode 1950-1970 tidak pernah ada suporter sepakbola yang ngamuk bila kesebelasaanya kalah. Ini bukti mental sportivitas dijunjung tinggi, mengakui keunggulan lawan. Sekarang mengapa hampir semua suporter berbuat onar kalau kesebelasannya kalah.

Seharusnya para pengurus kesebelasan merasa malu atas perbuatan pendukungnya. Tapi tak pernah ada pengurus yang meminta maaf, seakan-akan malah membenarkan perbuatan itu. Saya pikir ini harus menjadi perhatian yang serius bagi PSSI.

Kalau olahraga disusupi jiwa premanisme, berkelahi antarpemain di lapangan, lempar botol, mengamuk bila kalah, kapan sepakbola Indonesia bisa go international ?. Sebaiknya para psikolog ambil bagian untuk melakukan analisis yang mendalam tentang mudahnya jiwa anarkis timbul bagi sebagian masyarakat.

Mungkinkah gagalnya sistem pendidikan di sekolah membentuk jiwa sportivitas. Apakah Menpora juga tidak mengambil kebijakan masalah ini. Setiap kerusuhan pasti ada provokatornya, tapi tak pernah diproses secara hukum.

Dana miliaran rupiah untuk persepakbolaan terbuang percuma kalau terus menerus terjadi kerusuhan setelah pertandingan. Marilah semua pencinta sepakbola turut memikirkan hal ini.

Sudarjo

Jl S Parman 61, Purwokerto


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA