logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 NASIONAL
Line

Jumat Kliwon Terakhir Jelang Ramadan

Jalan Macet, Ribuan Peziarah Datangi Bergota

PEKAN akhir menjelang Ramadan adalah saat panen bagi Rogiana (34), penjual bunga tabur di tempat pemakaman umum (TPU) Bergota Semarang. Pada masa-masa seperti itu, banyak orang berziarah ke kompleks makam terluas di Kota Atlas tersebut dan membeli bunga kepadanya. Dalam sehari, dia bisa menjual bunga tiga sampai lima dunak (keranjang besar). Itu pun dengan harga yang lebih mahal dari biasanya.

"Malam Jumat Kliwon terakhir sebelum puasa, biasanya banyak orang berziarah. Harga bunga melonjak hingga dua kali lipat Mas, lha wong kulakannya saja sudah mahal ," katanya. Warga Randusari itu mengaku, setiap keranjang kecil dijual Rp 5.000-Rp 10.000, tergantung jenis bunganya.

Tak hanya Rogiana dan beberapa penjual bunga yang lain, rezeki Ruwah itu juga dinikmati para juru kunci, tukang parkir, serta puluhan pengemis yang mangkal di tempat tersebut.

Ya, pada bulan Sya'ban atau Ruwah, masyarakat, utamanya Jawa Islam, memiliki tradisi berziarah ke makam keluarga dan leluhur. Mereka memanfaatkan momentum ziarah terakhir sebelum Syawal itu dengan membersihkan makam mereka dan menaburkan bunga di atasnya. Tradisi itu acap disebut nyadran.

"Sejak pukul 15.30 tadi, peziarah mulai berdatangan ke sini. Mereka biasanya datang secara berombongan bersama keluarga untuk nyekar," ujar Kusnadi (67), salah seorang juru kunci di TPU Bergota kepada Suara Merdeka, Kamis (29/9) petang.

Memang, keramaian peziarah hari itu mencapai puncaknya, karena merupakan malam Jumat kliwon terakhir sebelum puasa. Warga Randusari RT 02/II tersebut mengaku mendapat uang dari para peziarah Rp 60.000-Rp 70.000 di hari itu. "Pemberian uang ini kan sifatnya sukarela, karena saya yang tiap hari merawat makam-makam leluhur para peziarah tersebut," terangnya.

Khusyuk

Keramaian suasana nyekar itu juga memberikan rezeki tersendiri bagi para juru pakir tiban di sekitar makam. Rasmani (53), seorang tukang parkir, mengaku mampu mengantongi uang antara Rp 60.000-Rp 70.000.

Bersama dua rekannya dari Rogobayem, Kelurahan Mugas Sari, mereka mengatur parkir motor di sebelah timur makam. "Tiap Kamis sore kami menjadi juru parkir di sini. Namun, pada hari-hari menjelang Ramadan jumlah peziarah banyak sekali, sampai macet jalan ini," tuturnya sambil menata sepeda motor peziarah.

Di dalam kompleks pemakaman, Ngatini (49) didampingi seorang saudaranya terlihat husyuk berdoa. Sembari membaca Yasin, kelopak matanya terlihat menitikkan air mata. Sore itu, warga Satria Utara tersebut memanjatkan doa untuk arwah suami tercinta yang telah meninggal dunia pada tahun 2000 lalu.

"Setiap malam Jumat Kliwon, saya selalu datang ke makam almarhum suami saya, Mujimin. Kegiatan ini rutin saya lalukan sejak saya ditinggal suami lima tahun lalu," terangnya sambil menyeka air mata dengan selendangnya.

Pandangan serupa terjadi beberapa meter dari sana, dengan khusuk dua pria dari Kampung Krese di Jalan MT Haryono itu membaca ayat-ayat suci Alquran. Jamil (37) bersama adik iparnya Agus (24) sedang membaca doa untuk almarhum mertuanya.

"Menjelang Ramadan, saya selalu menyempatkan diri untuk berziarah di makam mertua saya mas," ungkap Jamil sambil memberikan lembaran uang pada juru kunci. (Rukardi, Saptono JS-29h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA