| Jumat, 30 September 2005 | NASIONAL |
Harga BBM Dinaikkan, Mahasiswa "Marah"SURABAYA-Hanya bisa berdemo dan sekali lagi berdemo. Itulah realitas yang dilakukan kelompok populer perkotaan, yakni aktivis mahasiswa menyikapi rencana kebijakan Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla (SBY-JK) yang akan menaikkan harga BBM. Para aktivis mahasiswa itu sangat "marah" dengan rencana kebijakan pemerintah yang tak populis tersebut. Hari Kamis (29/9), sekitar 1.000 lebih aktivis mahasiswa dan kelompok masyarakat dari berbagai kalangan menggelar aksi bersama di depan Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo Surabaya. Pelaku aksi berasal dari BEM se-Surabaya, Aliansi Rakyat Bersatu yang beranggotakan LMND, Kompas, Repdem, Walhi, Ladkum Jatim, PMII Unair, Paguyuban Stren Kali, dan lainnya. Ada pelaku aksi dari BEM UPN Veteran Surabaya dan Kelompok Mahasiswa ITS 10 Nopember. Yang unik adalah aksi yang dilakukan sekitar 45 aktivis ITS. Mereka naik sepeda onthel dari kampusnya, di Sukolilo menuju ke depan Gedung Negara Grahadi. Jaraknya sekitar 10 kilometer lebih. Dengan naik sepeda onthel dan pakaian seperti sehari-hari, sepanjang perjalanan para mahasiswa dari kampus ilmu teknik terkemuka di Indonesia ini menyebarkan selebaran. Isinya, menolak rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Antrean Panjang Masih terkait dengan rencana kenaikan harga BBM, di banyak SPBU di Kota Pahlawan diwarnai antrean panjang pengemudi mobil dan motor untuk membeli BBM, khususnya jenis premium. Seperti terlihat di SPBU di Jalan Bubutan, antrean mencapai 500 meter, sehingga memacetkan arus kendaraan di ruas jalan tersebut. Stok BBM di SPBU di Jalan A Yani kemarin siang habis padahal masih banyak pengendara antre. "Yang penting menghadapi rencana kenaikan BBM ini warga jangan panik," ingat Wali Kota Surabaya, Bambang Dwi Hartono. Bahkan, Gubernur Jatim Imam Utomo telah mengingatkan kepada PT Pertamina UPMS V di Surabaya untuk tak membatasi penyaluran BBM ke SPBU. Jika selama ini batas toleransi permintaannya 10% di atas permintaan normal, Imam Utomo meminta ditingkatkan menjadi 20%. "Menjelang kenaikan harga BBM tak boleh lagi ada antrean di Jatim," kata Imam Utomo.(G14-41) |