logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 NASIONAL
Line

Sering Tidur Bersebelahan dengan Ayam

SAMBIL sesekali memejamkan mata dan melipatkan kedua bibirnya ke dalam, Suwadi (40), warga Desa Betahwalang, Kecamatan Bonang, Demak, mempersilakan wartawan masuk rumahnya.

Tampak di raut wajahnya memendam perasaan sedih yang teramat dalam. Belum lama ini kedua anaknya, Faizal Firdaus (15) dan Putri Sulistyowati (18 bulan), meninggal dunia diduga akibat terkena virus flu burung. Keduanya meninggal secara beruntun dalam waktu satu minggu. Sebelum meninggal dia flu, badan demam, panas, dada terasa sesak, dan sulit bernapas.

Kini bayangan kekhawatiran akan kehilangan anaknya kembali muncul di hadapannya. Dua anak lainnya, yakni Nur Aidy (8) sudah empat hari sakit demam dan Sutrimo (12) mulai merasakan sakit kepala.

Sakit Nur Aidy terjadi pasang-surut, terkadang demam mendadak dan terkadang sembuh seperti tidak sakit.

"Biasanya panasnya kambuh malam hari saat tidur," kata Suwadi.

Di rumahnya, tidak ada kursi atau meja tamu. Hanya ada tikar yang menutup alas rumahnya yang masih berupa tanah. Di dalam rumah sederhana itu, terdapat beberapa ayam yang sedang mengorek-orek tanah.

Bapak lima anak ini menuturkan, keluarganya sudah terbiasa tidur di lantai beralaskan tikar bersama beberapa ayam yang juga tidur di dekatnya.

Melihat dari dekat rumah tersebut, kesan kumuh tidak hanya tampak di dalamnya. Di luar, tepatnya di depan teras, terdapat endapan air bekas buangan rumah tangga yang kehitam-hitaman. Di tanah yang becak itu, beberapa ayam tampak mencari makanan.

Untuk menuju rumah yang terbangun dari anyaman bambu berukuran 6 x 7 meter itu, harus melalui jalan setapak sepanjang 150 meter. Rumahnya di belakang rumah orang lain.

Suwadi berujar, Faizal Firdaus sayang terhadap ayam peliharaannya. Setiap hari dia selalu memberi makan dan ketika sore memasukkan ayam ke rumah dengan cara menggiring.

"Jika ada ayam yang belum pulang, dia bisa mengetahui tanpa harus menghitung," kenangnya.

Dengan bangunan rumah yang tergolong kecil, membuat keluarga harus rela tidur dalam satu ruang bersama hewan peliharaannya.

"Sebenarnya ayam-ayam kami tidur di bagian belakang, tetapi namanya juga hewan, kadang ada yang masuk rumah dan tidur satu ruang dengan pemiliknya."

Di rumah tersebut hanya ada satu sekat anyaman bambu yang berukuran 3 x 3 meter untuk memisahkan ruang tamu dari kamar tidur. Hanya ada satu tempat tidur yang biasa ditempati Khamidah (35) dan anak terkecilnya, Putri Sulistyowati (18 bulan).

Sejumlah tetangganya mengatakan, Suwadi memang tidak terbiasa hidup sehat. Berkali-kali disarankan untuk memisahkan tempat tidur ayam dari rumah tidak pernah ditanggapi.(Hasan Hamid- 29t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA