| Jumat, 30 September 2005 | NASIONAL |
Diduga Terkena Flu Burung15 Warga Betahwalang Diambil DarahnyaDEMAK- Dugaan terjangkitnya virus flu burung yang menyebabkan kematian kakak beradik Faizal Firdaus (15) dan Putri Sulistyowati (18 bulan), warga Betahwalang, Bonang, mendapat perhatian Dinas Kesehatan Provinsi Jateng. Kamis (29/9) petugas dari Balai Laboratorium Kesehatan Dinkes Jateng mengambil darah 15 warga desa tersebut. Lima di antaranya adalah keluarga Faizal, yakni ayahnya, Suwadi (40), Khamidah (35), Sutrimo (12), Nur Aidy (8), dan Ahmad Husni (4). Sedangkan 10 yang lain tetangganya. Selain mengambil sampel darahnya, petugas kesehatan juga mengambil lendir hidung (naso pharing) mereka. Warga sekitar yang mengetahui ada petugas kesehatan mengambil darah, justru meminta untuk juga diambil. Ada orang tua yang anaknya sakit kepala dan demam langsung meminta petugas untuk mengambil darah anaknya guna mengetahui kesehatannya. ''Saya khawatir sakit anak saya makin parah, apalagi jika sampai flu burung.'' Ketika petugas masuk ke rumah Suwadi, di situ terdapat sejumlah ayam yang sedang tidur-tiduran di pojok ruang tamu. Ayam itu kemudian diambil oleh Khamidah dan dilepas keluar rumah. Menurut petugas pengambil darah, Agus, sampel darah dan lendir hidung tersebut akan dikirim ke Balai Penelitian Kesehatan Departemen Kesehatan Jakarta. Diperkirakan dalam waktu 7 - 14 hari sudah diketahui hasilnya. Seusai pengambilan darah, Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Sri Hartanto memberikan penyuluhan kepada warga. Dia menambahkan, virus flu burung tidak menular dari manusia ke manusia. Karena itu, tidak perlu mengucilkan orang yang diduga kena penyakit tersebut. Anak Diungsikan Sepeninggalan Faizal Firdaus (anak pertama) dan Putri Sulistyowati (anak terakhir), Suwadi lantas mengungsikan ketiga anak yang masih hidup ke rumah kakeknya, Pardi (65), sekitar 15 meter. Rumahnya yang berukuran 6 x 7 meter hanya ditempati berdua bersama istrinya, Khamidah. Suwadi mengatakan, ketiga anaknya diungsikan karena tidak ingin terulang kejadian nahas yang telah menimpa keluarganya. Hingga kemarin Nur Aidy, anak keempat dari lima bersaudara, masih sering sakit, suhu badannya tinggi. Kemarin pagi anak ketiganya, Sutrimo, juga mengeluh kepalanya pening. Setelah disuruh istirahat sejenak, rasa sakitnya hilang. ''Saya tidak ingin kehilangan anak lagi. Saya sudah merasa kehilangan yang amat berat.'' (H1-29t) |