logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 NASIONAL
Line

Australia Garap Film ''The Bali Project''

Widsu Saputro Perankan Abu Bakar Ba'asyir


SM/Rukardi Widsu Saputro Abu Bakar Ba'asyir

Pada 1982 sutradara Peter Weir asal Australia menggarap film The Years of Living Dangerously. Film tentang situasi Jakarta saat terjadi pemberontakan G30S/PKI itu bertutur lewat sosok wartawan Guy Hamilton, diperankan Mel Gibson. Sineas Negeri Kanguru kembali membidik Indonesia. Kali ini lewat sutradara Michael Jenkins yang menggarap The Bali Project, film yang mengangkat tragedi bom Bali yang menewaskan ratusan warga Australia. Sejumlah aktor Indonesia dikasting untuk memerankan tokoh penting dalam film ini. Salah satunya Widsu Saputro asal Semarang yang dipercaya memerankan tokoh Abu Bakar Ba'asyir, amir Majelis Mujahidin Indonesia.

PERISTIWA pengeboman Sari Club dan Paddy's Club di Jalan Legian, Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, merupakan tragedi memilukan yang mengundang keprihatinan masyarakat dunia. Ratusan warga Australia tewas dalam peristiwa itu. Upaya evakuasi warga Australia yang terluka dari lokasi kejadian, rumah sakit di Denpasar serta pemulangan mereka ke Australia dengan pesawat khusus merupakan peristiwa heroik yang sangat menyentuh warga Benua Kanguru.

Tragedi itu merupakan salah satu peristiwa paling memilukan yang tak mudah dilupakan warga Australia yang menjadikan Bali sebagai tempat favorit mereka untuk berlibur. Tak heran jika sutradara Michael Jenkins tertarik untuk mengangkat peristiwa tersebut dalam film The Bali Project. Film yang dibuat berdasarkan skenario karya Peter Screck itu akan memulai syuting pekan depan.

Bagi sejumlah kalangan, cerita The Bali Project barangkali akan mengundang kontroversi. Maklum, film itu bercerita mengenai tragedi bom Bali versi Australia. Pandangan politik dan penuturan para korban yang selamat tentu akan memengaruhi ''kebenaran'' cerita film tersebut.

Mungkinkah The Bali Project akan dilarang diputar di Indonesia sebagaimana The Years of Living Dangerously (1982) yang menawarkan pandangan berbeda soal G30S/PKI?

Jenkins selama ini lebih dikenal sebagai sutradara spesialis film teve di Australia. Karya-karyanya yang terkenal antara lain The Gillies Republic (1986), Police Rescue (1991), The Leaving of Liverpool (1992), Blue Murder (1995), dan Young Lions (2002). Salah satu film bioskopnya yang cukup terkenal adalah Rebel (1985) yang dibintangi aktor Hollywood Matt Dillon.

Terlepas dari kontroversi yang mungkin timbul, Jenkins dan krunya nampaknya sangat serius menggarap film ini. Mereka melakukan berbagai observasi mengenai tragedi bom Bali serta melibatkan sejumlah aktor Indonesia dalam film tersebut, antara lain Didi Petet, Rahman Yacob, Landung Simatupang, dan Widsu Saputro asal Semarang yang memainkan tokoh Abu Bakar Ba'asyir.

Meski peran yang dimainkannya cukup riskan, karena bisa mengundang kontroversi, Saputro mengaku tidak merasa bimbang. Ia mengaku mantap saja melakoninya.

''Sebagai aktor, saya hanya berperan. Jadi tak ada kaitannya dengan politik,'' jelasnya.

Bagi seorang aktor, mendapat peran penting dalam sebuah film adalah satu hal yang diidamkan. Terlebih jika film tersebut diproduksi oleh sineas kondang. Demikian yang dirasakan Widsu Saputro, aktor kawakan yang mukim di Semarang.

Tidak tanggung-tanggung, dia memerankan seorang tokoh yang kontroversial, yakni ustad Abu Bakar Ba'asyir, tokoh yang disebut-sebut punya keterkaitan dengan peristiwa bom bali, 12 Oktober 2002. Namun, bagaimana mulanya ia mendapat peran tersebut?

''Saya ikut casting di Semarang. Dari sekian orang yang ikut, saya satu-satunya yang dipilih,'' ujar lelaki kelahiran Pati, 23 September 1953 itu.

Untuk dapat memerankan Ustad Abu Bakar dengan baik, lelaki yang tinggal di Kampung Wonodri Joho Semarang itu melakukan pendalaman, di antaranya melalui studi pustaka, mempelajari aneka dokumentasi dan diskusi. Dari sana ia mempelajari sikap keseharian pengasuh Amir Majelis Mujahidin Indonesia dan Pondok Pesantren Ngruki, Sukoharjo itu. Sementara untuk mendapatkan kemiripan fisik, ia harus rela memangkas rambut panjangnya dan menjalani steling gigi.

''Sejak Kamis (29/9), saya di Jakarta. Minggu depan pengambilan gambar dimulai. Lokasinya ada di beberapa kota, seperti Denpasar, Banten, Jakarta, dan Kediri.

Keaktoran bukan dunia baru bagi Saputro. Sedari muda ia telah menggelutinya. Pemilik lembaga pelatihan presenter dan acting Gasa Production itu belajar secara formal di Akademi Seni Drama dan Film Indonesia (Asdrafi) Yogyakarta, 1975-1978.

Seusai menamatkan studi, ia mencurahkan sepenuh hidupnya untuk kesenian. Saputro berekspresi dalam wadah Pondok Teater, Teater Roh, dan Teater Merdeka di Kota Gudeg bersama almarhum Yoyok Aryo. Namun sejak 1996, ia melangkah ke dunia film, baik sebagai aktor, pencatat script maupun asisten sutradara.

''Saya pernah terlibat dalam produksi sejumlah sinetron, di antaranya Ibu, Aku Anak Siapa, Pendekar-pendekar Tidar, Perang Santet, Sebuah Kerinduan, Inten, Kedasih.''(Rukardi, Hartono-43)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA