logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 NASIONAL
Line

Di Balik Antrean BBM (2-Habis)

Di Laut Kerja Mati-matian, di Darat Menimbun

KEREPOTAN melayani masyarakat dalam mendapatkan premium ternyata tidak hanya dirasakan oleh petugas SPBU. Karyawan Pertamina yang bertugas di pelabuhan khusus pun berupaya keras menyalurkan pasokan premium dari kapal tanker di lepas pantai Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Hal tersebut diupayakan untuk menjaga kestabilan stok premium sehingga mampu meminimalkan kelangkaan premium di lapangan.

Stok premium tersebut lalu disalurkan ke Depo Pengapon untuk didistribusikan ke daerah-daerah. Mereka harus siap bekerja dan mengawasi proses pengaliran premium selama 24 jam. Seperti halnya kapal tanker MT Sinar Jogya yang saat ini sedang melakukan bongkar-muatan premium berkapasitas 24.000 kiloliter dari Kilang Balongan Cirebon. Kapal tersebut berada di tengah laut berjarak 7 mil dari dermaga Pelabuhan Tanjung Emas atau 45 menit perjalanan laut menggunakan tug boat. Kamis (29/9) pukul 15.00, MT Sinar Jogya telah menyelesaikan pengeluaran premium dari tankinya.

Daryanto, Kepala Operasi Marine Pelabuhan Khusus Pertamina Tanjung Emas, mengatakan, pekerjaan di lepas pantai tidak kalah pentingnya dari distribusi di darat. Mereka harus hidup di tengah lautan selama 3-5 hari tiap kapal tanker datang dan melakukan bongkar muatan. Karena itu, tidak heran bila mereka jarang mendapatkan hiburan dan juga terbatas komunikasinya.

''Mereka bekerja full time menyelesaikan tugas yang sudah dibagikan. Setidak-tidaknya ada 7 karyawan Pertamina yang berada di lepas laut saat ini, yakni satu orang loading master, dua orang marine berthing, dan empat orang yang bertugas melepas dan memasang hose cone dan hose kapal ,'' katanya.

Dia menggambarkan bagaimana susahnya bekerja di kapal tanker lepas pantai. Semua orang di atas kapal dilarang berkomunikasi menggunakan telepon seluler. Pasalnya, gelombang radiasi yang ditimbulkan dari pesawat seluler mampu menimbulkan ledakan api, seperti halnya larangan menghidupkan telepon seluler di SPBU. Solusinya, mereka menggunakan komunikasi radio handy talkie agar bisa berhubungan dengan orang-orang di darat.

''Yang jelas mereka benar-benar dilarang untuk merokok dan pekerjaan lain yang bisa memunculkan api, karena yang kita angkut adalah bahan yang mudah terbakar. Kalaupun ada televisi, mereka juga jarang menonton,'' katanya.

Karena hidup dikelilingi air hingga berhari-hari, maka segala sesuatu yang dibutuhkan dalam keseharian sudah dipersiapkan sebelum berangkat, termasuk menyediakan mi instan dan makanan kecil untuk memenuhi kebutuhan perut.

Agus Santoso, salah seorang petugas penambat kapal, mengatakan, hal terberat saat melaut adalah menghadapi cuaca, angin kencang, dan ombak besar. ''Karena tuntutan kewajiban tugas, kita harus bisa menyelesaikannya dalam kondisi apa pun dengan menumpang mooring boat,'' katanya.

Meskipun telah bekerja hingga 8 tahun, dia mengaku rasa kekhawatiran terhadap keselamatan diri tetap ada. Karena itu, pekerja seperti dirinya juga harus pintar membaca situasi saat melaut. Setiap kapal datang dan pergi, Agus bertugas menambatkan tali kapal sepanjang 50 meter. Repotnya, jika kapal itu datang bersandar pada malam hari, ombak sedang besar, hujan lebat, dan angin kencang.

Begitu pula pengalaman Kustomo yang telah bekerja selama 35 tahun yang bertugas mengawasi gerak kapal.

''Yang jelas kita harus siap kapan pun dibutuhkan, karena kami seperti telah meneken kontrak mati dengan pekerjaan ini,'' tandasnya.

Melihat kondisi distribusi premium yang carut-marut saat ini, para pekerja di laut ini menyatakan kekecewaannya, terutama adanya aksi penimbunan menjelang kenaikan harga BBM per 1 Oktober. ''Di sini kami bekerja mati-matian melawan ombak, namun di darat malah terjadi aksi penimbunan,'' tambahnya.

Angkot Mengeluh

Agus (35), pemilik angkutan kota jurusan Ngesrep-Undip, ini terlihat sedikit lesu meski sedang menikmati nasi bungkus dengan sambal tomat yang nikmat. Di warung tenda Mbah Selan, dia bersama beberapa rekan seprofesinya sedang menikmati makan pagi sambil meminum teh. "Sejak berangkat sekitar pukul lima pagi, saya baru dapat satu tangkep. Selain banyak angkutan, sulitnya mencari bensin menjadi kendala serius bagi saya," ungkapnya sekitar pukul 09.00. Karena tidak ada bensin lagi di mobil Daihatsu Zebranya, dia memutuskan makan di tempat para sopir biasa berkumpul. Warung Mbah Selan di depan kampus Undip, atau di dekat rental komputer Bicom itu memang menjadi tempat berkumpul para sopir yang sedang tidak narik.

"Mau antre BBM pun lamanya minta ampun, lebih baik istirahat dulu. Nanti siang-siangan baru cari bensin, semoga sudah tersedia lagi," harapnya. Menurut bapak satu anak itu, sebelum kondisi BBM langka, dia mampu meraup Rp 120.000-150.000 tiap harinya untuk menutup pembayaran kredit mobilnya. Angka kreditnya yang mencapai hampir dua juta rupiah per bulan memaksa dia berhemat untuk bisa membayar angsuran itu. "Saya harus ngumpulin uang minimal Rp 70.000 tiap harinya untuk bayar kredit mobil. Kalau kondisinya begini terus bisa nunggak bayar," selorohnya sambil menghitung uang ribuan dari kantongnya yang berjumlah tak lebih dari Rp 30.000. (Moh Anhar, Saptono JS, Fahmi ZM-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA