logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 NASIONAL
Line

BBM Dipertimbangkan Naik 30-50%

  • Diumumkan Pukul 22.00

JAKARTA-Meskipun ada demo besar-besar, menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk tetap menaikkan harga BBM.

Sementara itu, Rektor UGM menginformasikan bahwa Presiden SBY mempertimbangkan nilai kenaikan harga BBM berkisar antara 30 dan 50 persen dari harga saat ini.

"Beliau katakan sedang mempelajari opsi antara kenaikan 30%, 40%, atau 50%. Masih menunggu masukan dari berbagai pihak," kata Rektor UGM Sofyan Effendi di Istana Negara, Jakarta. Sikap Presiden SBY itu, menurut Sofyan, diungkapkan dalam acara silaturahmi antara pemerintah dan Forum Rektor Indonesia (FRI).

Secara terpisah, Menteri Perekonomian Aburizal Bakrie di Jakarta, Kamis kemarin, mengatakan, pengumuman kenaikan harga BBM akan dilakukan setelah Presiden SBY menandatangani jumlah subsidi. "Mau tidak mau akan tetap ada kenaikan harga BBM. Akan diumumkan Jumat pukul 22.00 WIB, dengan sebelumnya Presiden memimpin sidang kabinet terbatas. Ini diumumkan jika Presiden sudah menandatangani subsidi yang disetujui," kata Aburizal Bakrie.

Subsidi yang disetujui DPR Rp 89 triliun dan sudah dipakai Rp 78 triliun, sehingga masih tersisa Rp 11 triliun. "Jadi, subsidi yang diberikan Rp 800-Rp 1.000 per liter," ujar Aburizal yang akrab disapa Ical. Menurutnya, minyak tanah tetap diberi subsidi terbesar. Minyak tanah akan terus diberi subsidi sampai akhir tahun 2007. Sedangkan solar dan premium akan diberi subsidi sampai akhir tahun 2006.

"Antara tahun 2006 dan 2007, harganya menggunakan koridor batas atas dan batas bawah dengan menggunakan tarif automatic tariff adjustment, setelah itu kita gunakan harga pasar. Namun angka yang ditetapkan masih jauh lebih murah dari negara lain, seperti Timor Leste dan Laos," kata Ical.

Dia menjelaskan, kompensasi BBM akan diberikan pada empat pihak. Pertama, rakyat kecil dalam bentuk uang tunai. Kedua, kalangan industri berupa insentif fiskal dan nonfiskal yang akan diberikan mulai 1 Oktober. Ical mencontohkan insentif tersebut seperti penghilangan biaya-biaya di pelabuhan, penghapusan PPN produk pertanian primer, melindungi industri dalam negeri yang padat tenaga kerja dari penyelundupan, seperti tekstil, elektronik, dan alas kaki.

Kompensasi ketiga, untuk buruh yang penghasilannya di atas Rp 700.000 per bulan akan dikenai pendapatan tidak kena pajak. Selain itu, gaji untuk tenaga kerja perempuan akan disamakan dengan tenaga kerja pria.

"Selama ini wanita yang sudah menikah tidak diberi tunjangan seperti layaknya pria. Inilah yang akan disamakan."

Kompensasi keempat ditujukan kepada petani dalam bentuk kenaikan harga gabah kering dengan pertimbangan faktor kenaikan harga pupuk.

Mengaku Sedih

Di Pasuruan, Presiden SBY mengaku sedih dituding tidak berpihak pada rakyat kecil dengan keputusannya menaikkan harga BBM. Bahkan, dia mengaku setiap malam shalat tahajud memohon kepada Yang Mahakuasa untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.

"Semoga bangsa kita diberikan bimbingan, petunjuk, dan kekuatan menghadapi persoalan ekonomi sehingga kesejahteraan masyarakat kita bisa meningkat," kata SBY saat membuka Pekan Peternak Unggulan Nasional di Taman Candra Wilwatikta, Pandaan Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (29/9).

Dia menegaskan, tidak ada niat untuk menyakiti hati rakyat dengan menaikkan harga BBM. Itu semua dilakukannya karena harga minyak dunia yang makin melambung sehingga dalam negeri perlu menyesuaikan. "Semua dunia merasakan dampak harga minyak dunia," ujar SBY.

"Ketika harga minyak dunia sangat tinggi, tentu juga memukul negara-negara di dunia. Dan dengan terpaksa dan berat hati pemerintah kita menyesuaikan harga seperti yang dilakukan negara lain."

SBY juga sangat mengerti dengan maraknya unjuk rasa yang menolak kenaikan harga BBM. Tapi hendaknya demo tersebut dilakukan dengan cara-cara yang santun dan tidak merugikan kepentingan lainnya.

Dan, jika bermuculan komentar yang menudingnya tidak memikirkan nasib rakyat, SBY sangat sedih. "Sungguh bagi orang seperti saya yang dilahirkan dari desa, orang kecil, tentu amat sedih kalau ada penilaian seperti itu," keluhnya.(dtc-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA