| Jumat, 30 September 2005 | MURIA |
Produksi Perajin Gula Tumbu Kian Merosot
KUDUS- Ketersendatan pasokan bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar ternyata juga memukul industri gula tumbu. Sebab, pada salah satu proses produksi salah satu primadona komoditas andalan Kota Kretek tersebut, juga membutuhkan solar sebagai penggerak mesin. Seorang pedagang gula tumbu asal RT 3 RW 4 Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kudus, H Kartono (45), mengeluhkan adanya penurunan produksi gula tumbu yang dihasilkannya. Sebab, pasokan solar untuk dua mesin press tebu yang dimilikinya sering kali terlambat. Akibatnya, proses produksi harus dihentikan menunggu tersedianya solar. "Hal ini sudah berlangsung sebulan ini. Tidak hanya kami, tetapi juga beberapa pengusaha gula tumbu lain di sekitar sini," ungkapnya. Untuk dua mesin miliknya itu, paling tidak dia membutuhkan 60 liter solar, dengan harga Rp 2.100/liter/hari. Pelarangan pembelian solar dengan jerigen di sejumlah SPBU di Kudus, tentu tak membuatnya untuk leluasa menyetok solar guna kepentingan alat produksinya. "Terpaksa kami membeli dengan mengisi tangki truk, kemudian kami tuang lagi untuk mengisi mesin produksi tersebut," katanya. Mengecer Ketidakpraktisan penyetokan bahan bakar solar seperti ini menurunkan jumlah produksi, dari yang semula bisa menggiling tebu 18 ton, kini hanya separonya. Sebab, kata dia, dengan cara ngangsu dengan tangki truk itu pun tak cukup membantu. "Sering kali kami juga kehabisan dan terpaksa membeli solar dengan cara mengecer, seharga Rp 2.300/ liter," ungkapnya. Kini dalam sehari dia hanya mampu memproduksi satu ton gula tumbu, yang dikemas dalam 35-40 keranjang dan masing-masing seberat 112.120 kg. Harga satu keranjang, kata dia, mencapai Rp 25.500. "Dulu, ketika pasokan solar lancar, hasil yang kami peroleh dapat melebihi jumlah tersebut," kata pengusaha gula tumbu yang telah 15 tahun menjalani aktivitasnya itu. Soal rencana kenaikan harga solar yang didengarnya akan dimulai pada 1 Oktober 2005, diharapkan pula akan membuat pasokan solar menjadi normal seperti sedia kala. Selain itu, jika harga solar naik, dia mengharapkan agar harga komoditas yang dihasilkannya juga dapat disesuaikan. "Jika tidak, tentu kami akan semakin terpuruk," keluh ayah dua anak itu.(H8-17s) |