| Jumat, 30 September 2005 | MURIA |
Yessy: Tak Mudah Tumbuhkan Cinta Membaca"AKU haus, haus pengetahuan. Aku ingin, ingin segala bisa. Percaya diri dan terampil dalam hal-hal berguna. Kutahu harus belajar, dari buku, teman, orang tua, dan alam semesta." Demikian lirik yang didendangkan aktris Yasmine Yessy Gusman saat berbagi pengalaman dalam Seminar "Pengembangan Perpustakaan Menuju Konteks Budaya Baca" di Pendapa Kabupaten Jepara, Kamis (29/9). Acara itu diprakarsai oleh Badan Perpustakaan, Arsip Daerah, dan Data Elektronik Jepara bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah (Perpusda) Jateng. Pembicara lain adalah Tri Wahyu Hari Murtiningsih dari Perpusda. Ratusan praktisi pendidikan tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/ SMK/MA, dan perguruan tinggi hadir menyimak dan ikut berbagi pengalaman bersama. Yessy yang pernah membintangi film Puspa Indah Taman Hati itu menaruh perhatian besar akan generasi masa depan bangsa yang dituntut harus bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam hal informasi dan keterampilan hidup. Bagi dia, membaca dan menulis ibarat kakak beradik yang akan berperan besar membantu generasi muda menemukan kekayaan yang masih terpendam. "Bukan kekayaan materi yang saya maksudkan melainkan kekayaan bagaimana bersikap, mau membaca dan dibaca, serta mau mendengarkan apa yang mati dan bergerak di alam ini," papar ibu kelahiran Jakarta 1962 yang sukses membangun taman baca anak Namira di wilayah Rawajati pada akhir 1999 itu. Dia prihatin, di berbagai sudut kota di Indonesia jarang ditemukan taman baca yang nyaman bagi anak-anak untuk membaca sekaligus bermain. "Ruang-ruang publik sudah banyak yang menjadi supermarket dan perumahan, ladang industri dan lain-lain. Sementara itu, anak-anak butuh apa yang saya sebut sebagai suasana enjoy untuk bermain dan membaca," papar dia yang pertengahan Juli 2004 menulis buku kisah perjalanannya bersama taman bacaannya yang berjudul Menyemai Kasih. Trauma Anak-anak usia sekolah sering mengalami trauma jika disuruh membaca buku-buku yang terlalu berat isinya, terlebih dituntut menghafalkannya. "Tidak mudah memang untuk menumbuhkan perasaan cinta membaca di benak anak, juga manusia dewasa dengan kekhasan latar belakang masing-masing. Karena itu, perlu pendekatan cara mudah untuk melakukannya dari awal," ujar lulusan University of San Fransisco untuk gelar BA itu. Dia mencontohkan, masih sedikit rumah keluarga yang di dalamnya terdapat ruang baca untuk anak-anak. Sebetulnya, lanjut dia, sebuah sudut di bagian rumah itu bisa dibentuk semacam taman baca sederhana. "Tak perlu berpikir taman baca itu harus berisikan buku-buku berkualitas dan berbobot. Cukup buku-buku kecil tentang cerita/dongeng, poster-poster, ataupun kliping-kliping ringan tentang resep atau kiat-kiat. Saya pikir, orang tua anak bisa memulai dengan tidak perlu merasa ada beban apakah anak-anaknya nanti mau membaca atau tidak," ungkapnya seraya mengimbau agar orang tua bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya. Sementara itu, Tri Wahyu Hari Murtiningsih menyoroti betapa peran perpustakaan di daerah sangat penting untuk membantu memudahkan akses masyarakat akan kebutuhan membaca. Meski dia mengakui, masyarakat di pedesaan akan mengalami kendala jika harus ke kawasan kota untuk membaca. "Sudah saatnya perpustakaan menjemput bola kepada masyarakat pelosok, bagaimana mereka bisa sadar dan mau mengakses buku-buku yang ada," tandasnya. (Muhammadun Sanomae, Sukardi-17j) |