| Jumat, 30 September 2005 | MURIA |
Ricemill pun Terpaksa NganggurHANTAMAN krisis BBM sudah terasa di mana-mana. Tak terkecuali petani yang ternyata untuk menggarap sawah ataupun mengolah hasil panennya tergantung pada barang konsumsi yang teramat vital itu, terutama solar. Adalah petani di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang pada akhirnya sudah tak kuat menahan kegeramannya. Mereka kemarin lewat Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A) Undaan menyampaikan ancaman akan menyerbu dan membeli paksa solar di SPBU-SPBU yang ada di Kota Kretek. Solar mutlak harus ada untuk mengoperasikan traktor yang membajak sawah mereka. Undaan memiliki 5.500 ha sawah dengan 148 traktor yang masing-masing membutuhkan 30 liter solar. Per traktor mampu mengolah lahan 1 - 1,5 ha/hari. Ini belum termasuk solar untuk kebutuhan pompa air dan ricemill (penggilingan padi). Di Undaan terdapat 20 pompa air dan masing-masing memerlukan pasokan solar 60 liter/hari. Sementara itu, dari 48 ricemill setiap unitnya per hari membutuhkan 60 liter solar. "Sudah 10 hari ini, penggilingan padi milik saya yang mengerjakan 25 orang terpaksa menganggur. Biasanya saya membutuhkan 200 liter solar per hari. Kini paling banter dapat 25 liter dan itu pun sulit memperolehnya," ungkap Yudo Prasetyo, pemilik ricemill terbesar di Undaan yang berlokasi di Desa Ngemplak. Pasang Badan Ketua P3A Undaan H Kaspono mengakui, selama ini dari delapan SPBU di Kota Kretek, SPBU Tanjungkarang masih mau melayani para petani dari Undaan yang membeli dengan menggunakan jerigen. "Itu pun kadang teman-teman petani tak kebagian," tandasnya. Menurut keterangannya, meski saat membeli petani telah melengkapi dengan surat keterangan yang ditandarangani camat dan kapolsek, pada kenyataannya sering kali tak digubris dan ditolak. Kecuali SPBU Tanjungkarang -yang paling dekat dengan Undaan- yang masih mau mengerti. Kaspono menegaskan, pihaknya bersedia "pasang badan" jika ada penyalahgunaan solar dari para petani pembawa surat keterangan. "Kami menjamin, teman-teman petani hanya akan mengonsumsi solar tersebut untuk kepentingan mengolah lahan." Dia meminta Bupati dan instansi terkait untuk memperhatikan persoalan petani dalam krisis BBM. "Kami juga meminta penambahan pasokan solar, khususnya untuk SPBU di Tanjungkarang," ungkapnya. Pihaknya akan benar-benar mengerahkan petani untuk membeli paksa solar di SPBU, bila hingga 2 Oktober tuntutan agar ada penambahan pasokan solar dan izin pembelian BBM dengan menggunakan jerigen tersebut belum juga mendapat respons. Masalahnya, saat ini 15.000 petani di Undaan tengah menyiapkan musim tanam (MT) I 2005-2006. Pasokan solar yang seret tentu saja mengancam MT tersebut gagal. Mengingat mulai Selasa (27/9) air dari Waduk Kedungombo telah dialirkan dan kemungkinan pada Rabu (28/9) akan masuk ke lahan pertanian warga. Dalam artian, ujarnya, petani sudah harus menggunakan traktornya untuk mengolah lahannya. "Paling tidak, selama 30 hari traktor harus dijalankan," ujarnya. Biasanya, menjelang MT petani sudah mengadakan stok solar. Namun dengan pasokan BBM yang seret seperti sekarang, terlebih adanya larangan membeli solar dengan jerigen di sejumlah SPBU, mereka tak lagi mempunyai cadangan solar untuk traktor masing-masing. (Anton WH, Prayitno-15j) |