| Jumat, 30 September 2005 | INTERNASIONAL |
Ilmuwan Pria Masih Dominasi Nobel SainsSTOCKHOLM - Kalangan wanita ilmuwan pantas merasa prihatin selama 40 tahun terakhir. Pasalnya, penghargaan Nobel di bidang sains didominasi kaum pria selama periode tersebut. Bahkan, pada penghargaan tahun ini, calon penerima Nobel untuk bidang fisika dan kimia kemungkinan besar juga ilmuwan pria. Para pemenang itu akan diumumkan pada 4 dan 5 Oktober 2005. Mereka akan menerima hadiah 10 juta crown (sekitar Rp 12 miliar). Tradisi penganugerahan hadiah Nobel telah dilakukan sejak 1901. Selama periode itu, raja-raja Swedia telah memberikan 320 hadiah kepada ahli fisika dan kimia. Namun, hanya lima kali penghargaan itu jatuh ke tangan wanita. Tiga di antaranya bahkan diberikan kepada satu keluarga, yakni keluarga Curie. Marie Curie (bersama suaminya, Pierre) mendapat penghargaan Nobel fisika pada 1903, atas jasanya melakukan penelitian tentang radioaktif. Curie adalah wanita pertama peraih Nobel. Pada 1911, dia kembali menang Nobel. Namun, kali ini penghargaan itu diberikan atas prestasinya di bidang kimia. Pada 1935, putrinya (Irene) meraih Nobel di bidang kimia bersama suaminya, Frederic Joliot. Kemudian, Maria Goeppert-Mayer memenangi Nobel fisika bersama Eugene Wigner dan J Hans D Jensen pada 1963. Setelah itu Dorothy Crowfoot Hodgkin meraih Nobel kimia pada 1964. Ilmuwan yang salah satu tangannya cacat itu menyumbangkan karya tentang struktur zat biokimia. Sejak itu, kaum pria mendominasi ajang penghargaan Nobel. ''Kita hidup di zaman yang luar biasa. Pada masa ini, kita perlu mempertimbangkan kesetaraan gender,'' kata Gunnar Oquist, sekretaris jenderal Royal Swedish Academy (badan yang memberikan penghargaan Nobel), kemarin.(rtr-ben-25) |