logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 September 2005 BUDAYA
Line

Kanjeng Leo, Hawug-hawug, dan Bol Cino

DI usianya yang makin uzur, Leo Kristi masih dengan gayanya yang sejati. Berpakaian serba hitam, menyandang gitar bolong, tapi tak mengenakan peci. Tanpa banyak bicara, penyanyi balada asal Surabaya itu segera memulakan penampilannya dengan tembang ''Salam dari Desa''.

''Kalau ke kota esok pagi/ Sampaikan salam rinduku/ katakan padanya padi-padi telah kembang/ ani-ani seluas padang/ roda lori berputar-putar siang malam. Tapi bukan kami punya.

Demi melihat itu, ratusan penonton yang menyaksikan pagelaran puisi musik "Kanjeng Leo, yang Mengejar Dikejar" di Lapangan Universitas Negeri Semarang, Rabu (27/9) malam jadi terdiam. Mereka terpana oleh aksi panggungnya. Terkesima oleh lengking suaranya yang membahana.

Keterpesonaan itu makin bertambah saat Leo membawakan mahakaryanya ''Gulagalugu Suara Nelayan". Penonton yang sebagian besar mahasiswa itu pun tambah bergidik. Sebagai penyanyi ia memang punya daya kharisma yang mampu menaklukkan hati audiensnya.

Malam itu, Leo Kristi tak tampil sendirian. Ia berkolabrasi dengan Komunitas Kyai Kanjeng, pimpinan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun). Selain ''Salam dari Desa'' dan ''Gulagalugu Suara Nelayan'' mereka memainkan beberapa tembang, yakni "Sayur Asem Kacang Panjang", "Burung dalam Sangkar", "Selaksa Bunga Hutang Indonesia", dan "Nyanyian Fajar".

Di sela-sela tembang, Cak Nun membabar makna syair yang dinyanyikan. Menurut suami artis Novia Kolopaking itu, syair-syair tembang Leo dapat dimaknai sebagai buah dari peradaban. Simak paparan Cak Nun tentang syair "Sayur Asem Kacang Panjang".

''Indonesia adalah negeri yang kaya dengan beragam bahan makanan. Namun, anehnya tidak berdaya menghadapi serbuan makanan cepat saji yang dipasarkan melalui gerai-gerai restoran global. Makanan seperti lentho, hawug-hawug, bronthol, apem jumbleng, dan bol cino, berganti wajah dengan kentucky, pizza, dan makanan eropa lainnya."

Tampak hadir dalam konser yang diselenggarakan oleh Unnes itu, Rektor Dr AT Soegito MM dan Rektor Undip Prof Ir Eko Budihardjo MSc. Dalam kesempatan itu Prof Eko turut unjuk kebolehan. Seperti biasa, ia tampil membawakan puisi mbeling yang mengundang tawa pendengarnya. (Fahmi ZM, Rukardi, Widodo P-43)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA